Interdenominasi? Yay or Nay?

Ada begitu banyak berita atau rumor yang tidak mengenakkan seputar konflik antara gereja dan aliran. Bagi segelintir orang, pengajaran dan doktrinnya lah yang paling benar, sedangkan yang lain sesat. Bagi segelintir yang lain, tentu saja bukan mereka yang sesat melainkan orang-orang yang sudah menuduh mereka lah yang sesat. Jalan tengah untuk menyatukan semua pihak dalam wadah interdenominasi (tidak di bawah aliran manapun), itu pun dianggap sesat.

Tulisan ini tidak akan memuat dan mengulas dengan dalam tentang apa itu interdenominasi dan seperti apa itu persekutuan yang interdenominasi. Namun, lebih dalam dari itu, tulisan ini akan kembali kepada dasarnya dengan berusaha menjawab pertanyaan, “Apa isi hati Yesus tentang kesatuan umat dan Gereja-Nya?”

Yesus memulai doa terpanjang-Nya yang ditulis dalam Alkitab (Yohanes 17), dengan menekankan relasinya bersama dengan Allah Bapa (vv. 1-5). Kemudian di bagian yang kedua (vv. 6-19), Yesus melanjutkan dengan berdoa untuk para murid-murid terdekat-Nya supaya Bapa memelihara mereka dalam nama-Nya dan supaya mereka menjadi satu seperti Yesus dan Bapa yang adalah satu (vv. 11). Doa yang begitu indah ini Yesus ucapkan dan mohonkan karena Dia sangat mengasihi dan menyayangi murid-muridNya.

Hal ini membuat saya merenung, apabila orangtua kita mendoakan kita, seringkali mereka akan berdoa untuk kebaikan kita. Supaya kita dilindungi dari bahaya, supaya kita sembuh dari sakit, supaya studi kita berjalan lancar, dan sebagainya. Saya teringat mama saya pernah mendoakan saya sewaktu sakit, supaya Tuhan memindahkan penyakit saya ke mama karena baginya lebih baik mama yang sakit daripada harus melihat anaknya menderita karena sakit. Doa seseorang kepada orang yang dikasihinya pasti merupakan doa yang lahir karena dia begitu mempedulikan dan mengharapkan yang terbaik terjadi kepada orang yang dikasihinya itu.

Yesus begitu mengasihi keduabelas murid-Nya ini, sekalipun Dia tahu bahwa ada yang akan mengkhianati-Nya dan yang akan menyangkal-Nya sebentar lagi. Yesus begitu rindu mereka tetap setia kepada iman yang selama ini Yesus sudah ajarkan kepada mereka. Namun, Yesus juga tahu bahwa iman kepada-Nya berarti dibenci oleh dunia. Dunia yang menolak Yesus, berarti juga akan menolak murid-muridNya yang percaya kepada Yesus.

Ini adalah konsekuensi yang harus dihadapi oleh orang-orang yang mau mengikuti Yesus. Jalan untuk mengikuti Yesus tidak pernah mudah. Selalu akan ada tantangan dan harga yang harus dibayar. Kadang malah tantangan itu muncul dari saudara kita sendiri atau orang yang paling dekat dengan kita sendiri. Dalam tempat yang kita anggap rumah sendiri pun bisa terjadi masalah. Iblis tidak akan pernah tinggal diam melihat orang-orang percaya bisa bertumbuh imannya. Di saat kita diutus mengerjakan misi, panggilan, atau kehendak Tuhan, Iblis berusaha menghancurkan orang-orang percaya dari dalam. Dari rasa percaya kita satu sama lain sebagai sesama murid Tuhan. Ini adalah cara paling strategis untuk menghancurkan iman orang percaya. Akan tetapi, Yesus berdoa untuk para murid supaya mereka dilindungi dari yang jahat, yang berusaha menarik iman mereka dari Firman Tuhan yang adalah kebenaran dan yang terpenting supaya mereka tetap satu dalam menjalani panggilan Tuhan yang sudah mengutus mereka.

Doa ini indah karena Yesus mencurahkan semua isi hatinya dan cinta kasihnya bagi para murid. Namun berhagialah kita karena doa ini ternyata juga adalah doa untuk kita, umat percaya masa kini.

Kasih-Nya Meluas Hingga Kini

Kenyataannya, Yesus juga berdoa untuk orang-orang yang menjadi percaya kepada-Nya karena pemberitaan para murid (vv.20) artinya kita, orang-orang Kristen masa kini juga termasuk di dalamnya.

Dia berdoa supaya kita dapat menjadi satu sama seperti Yesus dan Bapa adalah satu. Kalimat ‘menjadi satu’ diulang Yesus berkali-kali. Ini menunjukkan bahwa menjadi satu itu tidak mudah apalagi standard yang ditetapkan seperti Yesus dan Bapa, bukan standard manusia. Perpecahan lawan dari kesatuan sangat rentan terjadi, Yesus tahu benar hal itu sehingga Dia menekankannya berkali-kali. Di satu sisi, menjadi satu juga adalah sesuatu yang sangat penting. Apakah manusia berdosa bisa melakukannya?

Sebenarnya apa arti dari gereja? Gereja berasal dari Bahasa Yunani ‘ekklesia’ yang artinya ‘dipanggil ke luar’. Setiap orang percaya yang dipanggil ke luar dari kegelapan kepada terang Kristus adalah gereja. Apakah PMK (Persekutuan Mahasiswa Kristen) atau parachurch lainnya merupakan gereja? Tentu tidak secara organisasi, tetapi kita adalah Gereja dalam arti orang-orang yang dipanggil ke luar. Gereja bukanlah gedungnya, tapi orangnya.

Sesempurna apapun suatu gereja atau persekutuan kelihatannya, pasti ada masalah di dapurnya karena dibalik dapur itu pun ada manusia berdosa dengan segala egonya yang bisa menyebabkan perpecahan di mana pun. Perpecahan biasanya terjadi karena ego kita menganggap diri kita lebih baik dari yang lain. Seringkali kita juga lupa bahwa kita hadir sebagai gereja bukan untuk sebagai ajang kumpul atau klub sosial. Namun, kita hadir karena diutus untuk memuliakan Tuhan dan membangun Kerajaan Allah di mana pun kita berada. Ada misi yang kita emban bersama-sama.

PMK Tanpa Interdenominasi Bukanlah PMK

PMK memiliki misi melayani mahasiswa dan membangun Kerajaan Allah di kampus. Kerajaan Allah berarti suatu tempat dimana Allah yang menjadi raja. Di kampus banyak anak muda yang tidak merajakan Yesus dalam hati-Nya. Mereka tidak bisa ditemui di gereja lagi karena mereka berhenti pergi ke gereja sehingga gereja tidak dapat menjangkau mereka. Mahasiswa Kristen lah yang Tuhan utus untuk menjangkau sesamanya yang hilang. PMK bukan gereja, PMK tidak bisa membaptis, memberkati pernikahan, merayakan perjamuan kudus, dan sebagainya. Tetapi PMK dipanggil untuk membantu gereja menemukan anak-anak muda yang dengan idealismenya memutuskan untuk berhenti pergi ke gereja. Tidak cuma itu, PMK juga diutus untuk memuridkan mereka yang tidak sanggup dimuridkan di gerejanya. Dengan tujuan, semua anak itu dapat kembali ke gerejanya masing-masing dan membangun murid di sana.

PMK tidak di bawah denominasi atau aliran gereja mana pun, karena PMK tanpa interdenominasi bukanlah PMK, tapi gereja secara denominasi. Ketika berbicara mengenai interdenominasi, yang seharusnya kita pahami bukanlah soal ibadahnya seperti apa, dibaptis dengan cara bagaimana, alat musiknya apa saja, tetapi kita punya hati yang sama-sama menyadari bahwa Yesus sudah berdoa supaya kita menjadi satu untuk mengerjakan misi-Nya. Kita sadar bahwa kita butuh terang Firman Tuhan yaitu kebenaran yang menguduskan kita. Kita perlu kembali kepada Alkitab, Firman Tuhan yang menolong kita mengerjakan apa yang mau Dia utus untuk kita kerjakan.

Ketika orang lain melihat kita, orang-orang Kristen dapat bersatu, mereka juga dapat melihat Yesus dan Bapa di dalam diri kita. Firman Allah itu hidup dan benar, walaupun kita tidak menyampaikannya secara eksplisit tapi Firman hidup itu bisa berbicara kepada mereka melalui tingkah laku dan perkataan kita. Mari sebagai murid-murid Yesus yang sudah didoakan oleh-Nya, kita sama-sama menyatukan hati. Melihat menembus batasan-batasan tradisi atau kelebihan dan kekurangan gereja kita masing-masing dan fokus kepada hal yang memang esensi atau penting, yaitu Firman Tuhan yang mengutus kita.

In essential = unity
In non-essential = liberty
In all things = charity

Dalam hal yang esensi seperti keselamatan dan amanat agung Tuhan Yesus yang mengutus kita memberitakan Injil dan memuridkan kita seharusnya bersatu.

Dalam hal yang tidak esensi seperti ekspresi memuji dan menyembah Tuhan yang berbeda-beda setiap orang, atau alat musik, cara baptisan yang tidak menentukan keselamatan kita biarlah itu menjadi kebebasan kita untuk menikmatinya masing-masing sehingga kita dapat bertumbuh dengan cara yang Tuhan izinkan kita nikmati.

Namun, yang terpenting dalam segala hal ada kasih yang rela mengesampingkan ego kita yang menganggap diri lebih baik dari yang lain.


Comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *