Kehormatan Bagi-Nya

Suatu hari, grup teman-teman lama menghubungi kita dan berkata bahwa mereka akan datang ke rumah kita pada esok hari untuk bersilahturami. Kira-kira apa yang akan kita lakukan? Mungkin jika itu saya, saya akan bersih-bersih dan merapikan rumah, memasak makanan yang enak, dan menyiapkan cemilan-cemilan untuk disantap sambil meminum teh bersama-sama. Sebagai tuan rumah, tentu saya akan memastikan tamu-tamu saya dapat merasa nyaman. Saya tidak tahu, apakah saya melakukan hal tersebut karena motivasi saya adalah ingin menghormati tamu-tamu saya dan membuat mereka senyaman mungkin berada di rumah saya atau lebih kepada karena saya tidak ingin mendapat malu. Keduanya tentu adalah hal yang sangat berbeda. Sama-sama membersihkan rumah, memasak, dan menyiapkan cemilan namun untuk tujuan yang berbeda.

Mari kita melihat sebuah kisah yang menyedihkan yang dicatat di kitab Maleakhi. Mungkin ketika membaca kisah ini, perasaan kita mungkin akan sama seperti ketika mendengar ada pendeta yang tersangkut kasus perzinahan atau penggelapan uang. Bagaimana mungkin? Kenapa orang Kristen begitu? Memalukan sekali. Mungkin itulah respon kita. Tetapi walaupun memalukan, mungkin ini adalah hal yang menjadi pergumulan setiap orang ketika menjalani relasi dengan Tuhan yang seharusnya kita respect atau hormati dalam setiap detik kehidupan kita.

Mari kita membaca dari Maleakhi 1:6-14

Perikop ini dibuka dengan Tuhan yang memulai percakapan dengan umat Israel. Tuhan memberi perandaian yang sebenarnya merupakan sebuah kritik atau kecaman terhadap perbuatan bangsa Israel kepada Tuhan. Jika anak-anak menghormati ayahnya, atau jika seorang pelayan menghormati tuannya, maka bagaimana umat Israel menghormati ALLAH yang merupakan pencipta dan pelindung mereka? Namun, pertanyaan yang lebih penting adalah kenapa ALLAH mengajukan pertanyaan seperti ini? Apa kesalahan yang diperbuat bangsa Israel sampai-sampai ALLAH begitu geram kepada mereka?

Uniknya, bangsa Israel bahkan tidak menyadari kesalahannya. Terbukti di akhir ayat 6, mereka bertanya, “Dengan cara bagaimana kami menghina nama-Mu?” Sebenarnya di sepanjang pasal 1-2 kitab Maleakhi, kita akan menemukan pertanyaan-pertanyaan semacam ini dari bangsa Israel. Bagaimana mungkin kami melakukan yang tidak berkenan? Kapan kami melakukannya? Saya tidak tahu, apakah bangsa Israel menganggap semua yang mereka lakukan adalah hal yang normal karena mereka sudah terbiasa melakukannya atau tidak. Tetapi, ini bisa menjadi pelajaran bagi kita semua, bahwa kita harus berhati-hati dengan berkompromi dalam melakukan sesuatu yang tidak berkenan di hadapan Allah sehingga kita bisa jadi menganggap hal tersebut tidak lagi berdosa dan akhirnya membenarkan diri. Apalagi seperti yang tadi kita sudah baca, bangsa Israel bergumul dengan dosa menghormati Tuhan. Bukankah menghormati apa yang tidak pernah kita lihat adalah sesuatu yang sulit?

Di zaman post-truth seperti ini, begitu mudah kita berkomentar di media sosial tanpa melihat apa yang sebenarnya terjadi bukan? Suatu hoax begitu mudah memprovokasi pembacanya, karena kita tidak mencari tahu faktanya dan tidak melihat apa yang sebenarnya terjadi. Israel mungkin memang tidak melihat ALLAH secara langsung, lagipula mereka juga dihimpit oleh keinginan pribadi, pergumulan hidup, yang membuat mereka menjadi sulit peka akan kehadiran ALLAH dan bersikap selayaknya di hadapan ALLAH yang begitu luar biasa dan layak disembah.

Setidaknya ada 3 aspek akan kegagalan bangsa Israel dalam menghormati Tuhan.

Pertama, aspek persembahan. Kita bisa melihat di ayat 7-9. Bangsa Israel gagal mempersembahkan kurban bakaran kepada ALLAH. Bukannya persembahan yang terbaik yang bisa mereka berikan, mereka malah memberikan roti cemar, binatang yang cacat dan sakit. Padahal kita semua tahu, bahwa di dalam Kitab Taurat semua hal tersebut sudah diatur. Bahkan kejadian Kain dan Habel seharusnya juga cukup menjadi pelajaran bagi kita semua. Sampai-sampai ALLAH memberikan perandaian lain, seandainya semua persembahan itu mereka persembahkan kepada gubernur mereka (yang berarti merupakan pemerintahan Persia) bukankah dia akan marah?

Jika teman-teman yang dekat dengan kita yang berkunjung ke rumah kita tidak dilayani dengan cukup baik, mungkin mereka tidak akan marah. Tetapi, jika orang-orang yang haus kekuasaan, ambisi, dan hormat alias megalomania yang kita tahu baru saja datang ke Indonesia setelah bertahun-tahun lamanya melarikan diri ke luar negeri setelah terjerat skandal itu yang datang ke rumah kita, apa jadinya? Mungkin gerakan ormas yang dia pimpin itu akan dikerahkan untuk menyerbu rumah kita.

Saya tidak membandingkan ALLAH dengan orang tersebut, karena orang tersebut hanyalah manusia biasa yang tidak punya kuasa dan tidak layak disembah. Namun, bukankah ALLAH kita memang layak disembah? Dia adalah pencipta dunia ini dan juga manusia. Dia adalah ALLAH yang telah mengutus anak-Nya sendiri untuk berkurban dan menyelamatkan kita. Dia adalah ALLAH yang mengasihi dan mengampuni kita semua sekalipun berkali-kali kita mengecewakan-Nya. Bukankah keterlaluan sekali jika kita tidak menghormati-Nya?

Kedua, aspek ibadah. Kita bisa melihat di ayat 10-12, ALLAH bahkan berkata lebih baik tutup pintu bait suci mereka ketika mereka mempersembahkan kurban bakaran karena bagi ALLAH semua pelayanan mereka adalah sia-sia dan Dia tidak berkenan atas semua itu. Tindakan religious mereka menjadi percuma, tidak ada maknanya, rutinitas, dan hanya memberikan keamanan palsu dalam diri mereka.

Di ayat 11, seakan Maleakhi ingin kembali mengingatkan natur ALLAH yang layak disembah, layak dipersembahkan setiap kurban bakaran oleh segala bangsa di dunia ini. Namun, sayangnya respon bangsa Israel tidak demikian, bahkan mereka dapat berkata seperti di ayat 12, bahwa altar persembahan itu boleh dicemarkan, mereka tidak melihat atau mungkin tidak mempercayai kuasa ALLAH yang begitu luar biasa sehingga layak disembah oleh segala bangsa. Bangsa Israel melakukan rutinitas keagamaan, tetapi menyangkali kuasa ALLAH yang seharusnya menjadi focus dari segala ritual keagamaan mereka.

Mungkin Bangsa Israel memang meragukan ALLAH, dimana keselamatan yang dijanjikan? Dimana juruselamat itu? Kenapa hidup kami masih menderita? Mungkin itulah sebab mereka tidak lagi respect terhadap ALLAH yang berkuasa menciptakan, menyediakan, dan menyelamatkan mereka. Bagi saya, ini pun adalah hal yang begitu masuk akal. Doa yang tidak kunjung dijawab, musibah demi musibah yang menimpa, mungkin kita pun bisa saja meragukan kuasa Tuhan ketika mengalami semua hal itu. Untuk apa aku beribadah kepada Tuhan yang tidak menjawab doaku, untuk apa aku memberikan persembahan kepada Tuhan yang kuasanya saja tidak terlihat ketika musibah menimpaku, dan berbagai excuse lainnya yang bisa kita pikirkan di saat mengalami hal-hal seperti ini. Tentu ini adalah sebuah pergumulan yang tidak mudah untuk dijawab, bagaimana kita bisa tetap setia? Namun, satu hal yang dapat terus kita katakan kepada diri kita sendiri adalah bahwa ALLAH mengasihi kita dan bukti terbesar kasih-Nya ialah ketika Yesus mati demi menyelamatkan kita, sekalipun kita tidak mengerti mengapa semua hal tersebut terjadi pada saat ini.

Ketiga, aspek pelayanan. Bangsa Israel pada ayat 13-14 menganggap semua ritual keagamaan yang mereka lakukan adalah kesusah-payahan (dalam Bahasa Inggris digunakan kata ‘burden’ yang berarti beban, dalam BIMK dipakai kata ‘bosan’). Mungkin inilah yang menyebabkan mereka memberikan persembahan yang buruk kepada ALLAH, semua berasal dari hati yang tidak rela dan bosan.

Sekali lagi ditekankan bahwa Bangsa Israel memberikan persembahan berupa binatang yang dirampas, binatang yang cacat sementara mereka sebenarnya mempunyai binatang yang lebih baik untuk dipersembahkan. ALLAH sangat tidak berkenan dengan semua itu.

Pernahkah semua persembahan atau pelayanan kita ini, kita anggap sebagai beban yang memberatkan? Mungkin kita terhimpit oleh pergumulan pribadi, ketidakcukupan finansial, kebutuhan yang lebih besar daripada pemasukan sehingga membuat persembahan dan pelayanan lebih baik hanya dilakukan jika kita sudah berduit. Tetapi ALLAH sekali lagi mengingatkan Bangsa Israel pada ayat 13, bukan soal nominal atau seberapa besar dan banyak yang bisa mereka berikan kepada ALLAH merupakan yang terpenting, tetapi yang lahir dari ketulusan hati kita untuk memberikan yang terbaik yang kita miliki itulah yang terpenting (“kalau di antara ternaknya ada binatang yang baik”)

Di masa-masa PSBB seperti ini, di saat kita beribadah hanya dibatasi oleh layar monitor dan tidak ada komunitas yang secara nyata memperhatikan, apalagi di masa yang sulit ini, sangat mudah iman kita tergoncang karena perekonomian dan masa depan yang tidak menentu. Bukankah sangat mudah untuk kita mempertanyakan kuasa ALLAH dan berkompromi untuk tidak menghormati-Nya dalam persembahan kita (baik secara persepuluhan, mingguan, maupun untuk menolong orang lain), dalam ibadah kita sehari-hari (saat teduh, doa, ibadah minggu, PD), maupun dalam pelayanan (pekerjaan ataupun pelayanan di gereja yang mungkin sangat terbatas karena online). Mungkin mudah berpikir, keadaan ini sedang sulit, tidak perlu memberi persembahan dulu untuk sementara, toh tidak ada yang tahu kalau tidak transfer. Atau, karena di rumah saja ada banyak yang harus dikerjakan begitu bangun, saat teduh nanti malam saja, ibadah minggu sambil memasak sambil mendengarkan rekaman khotbah saja. Atau dalam hal pekerjaan, mumpung di rumah, tidak ada yang tahu kalau saya tidak kerja dengan maksimal.

Jujur saja, saya bergumul dengan hal-hal di atas. Saya bukan orang yang sempurna seperti harapan yang saya tulisakan di blog ini. Saya juga manusia yang berdosa dan seringkali gagal menghormati ALLAH sebagaimana mestinya. Mari terus membangun kepekaan akan kehadiran ALLAH dalam hidup kita, bukan sebagai rutinitas semata, tetapi karena Dia adalah ALLAH yang layak dihormati dan disembah sebab Dia adalah pencipta dan penyelamat kita.

Leave a comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *