Category: Pendalaman Alkitab

  • The Path of Holiness

    The Path of Holiness

    Berkhotbah dengan tema Kekudusan seringkali menjadi pergumulan tersendiri bagi pembicara. Hal ini dikarenakan kita tahu apa yang orang lain tidak tahu, bagaimana hidup kita ketika tidak seorang pun melihat kita, kita tahu segala kejijikan dosa yang kita perbuat sendiri entah itu dalam pikiran maupun perbuatan. Kita mengerti, bahwa diri kita sendiri sebenarnya tidak pantas berbicara tentang kekudusan. Memang sebenarnya kekudusan yang sempurna tidak akan pernah bisa dicapai oleh manusia berdosa.

    Saya pernah berdebat dengan seorang teman Kristen pada waktu SMA. Dia berkata, “Kamu harus bertobat dari dosa-dosamu untuk diselamatkan. Kamu harus sempurna sama seperti Bapa di Sorga (Mat. 5:48), itu lah syarat keselamatan.” Pada saat itu, dengan pemahaman saya yang masih sangat terbatas, saya hanya bisa bertanya kepadanya, “Apakah dirimu sudah sempurna? Apakah kamu bisa menunjukkan ada seseorang di dunia ini yang sudah sempurna seperti Bapa di Sorga? Bagaimana mungkin keselamatan hanya bisa diperoleh dengan menjadi manusia sempurna. It’s non sense!” Temanku diam dan tidak menjawab. Kemudian saya pergi meninggalkannya sambil merenungkan apa maksud sebenarnya dari ayat yang dia kutip di Mat. 5:48

    Sebenarnya tidak hanya Mat. 5:48 yang membicarakan tuntutan yang begitu sulit bagi orang Kristen. Kekristenan sangat lekat dengan panggilan untuk hidup kudus. Seorang Kristen dituntut untuk hidup berbeda dari dunia ini dengan mengambil “jalan kekudusan”. Tentunya ini adalah suatu tuntutan yang sangat sulit. Sebagai manusia yang sudah jatuh ke dalam dosa, kita akan sangat sulit untuk berbuat yang tidak berdosa. Seorang anak kecil saja bisa melakukan dosa tanpa perlu diajari. Mereka bisa berbohong tanpa diajari oleh siapa pun. Dan, dalam hidup yang demikian lah kita dituntut oleh Allah untuk melakukan yang bertentangan dengan natur kita.

    Namun, sebenarnya apa itu kekudusan? Mengapa kita dituntut untuk menjadi kudus? Bagaimana kita bisa memenuhi panggilan Allah menjadi orang yang kudus? Kita akan sama-sama belajar dari 1 Petrus 1:13-19.

    Surat 1 Petrus ini ditulis oleh rasul Petrus yang pernah menyangkal Yesus sebanyak tiga kali. Surat ini ditujukan kepada orang-orang Kristen diaspora atau yang tersebar di berbagai kota untuk menguatkan iman mereka dalam menghadapi penderitaan yang harus dialami sebagai seorang Kristen pada zaman itu. Petrus banyak mengingatkan mereka tentang kasih karunia Yesus yang sudah menyelamatkan orang percaya. Oleh karena mereka sudah diselamatkan, Tuhan memanggil mereka untuk menjalani hidup yang Dia inginkan. Sehingga, hidup kudus sebenarnya bukan suatu cara untuk mendapatkan keselamatan. Melainkan sebuah panggilan yang diberikan kepada orang-orang yang sudah diselamatkan. Kekudusan seharusnya adalah identitas orang percaya yang sudah diselamatkan.

    Bagaimana?

    Kita tahu betapa sulitnya untuk hidup kudus, ada kalanya kita berhasil, namun ada kalanya kita gagal. Siklus tersebut terus berulang sepanjang hidup kita di dunia yang berdosa ini. Lalu bagaimana cara kita mempertahankan hidup yang kudus?

    Pertama-tama, hidup kudus dimulai dari pikiran yang kudus. Dalam Alkitab versi KJV, ayat 13 diterjemahkan “Wherefore gird up the loins of your mind, be sober, and hope to the end for the grace that is to be brought unto you at the revelation of Jesus Christ;”

    Kalimat “… siapkanlah akal budimu…” ternyata memiliki arti lain yang lebih dalam yaitu, “… kencangkanlah ikat pinggang pikiranmu…”

    Apa maksudnya mengencangkan ikat pinggang pikiran? Pada zaman Petrus menulis surat ini, pakaian pada umumnya para laki-laki adalah sebuah terusan yang tentunya menyulitkan gerak mereka ketika ingin berlari atau melakukan banyak gerakan fisik yang memerlukan kecepatan. Sehingga apabila terjadi sesuatu yang menyebabkan mereka harus berlari atau mungkin berkelahi, mereka akan mengangkat bagian bawah pakaian mereka dan mengikatujung-ujungnya di pinggang. Sehingga mereka dapat lebih leluasa berlari dan berkelahi. Analogi ini dipakai Petrus untuk menggambarkan bahwa mengendalikan pikiran bukanlah pekerjaan yang santai, namun pekerjaan keras yang membutuhkan persiapan. Petrus tahu betul betapa pentingnya mengendalikan pikiran karena apa yang keluar dari pikiran akan menentukan perbuatan kita. Jika yang masuk kotor, maka kotor pula lah yang akan keluar. Hidup yang kudus dimulai dari pikiran yang dikendalikan dengan penuh waspada atau kesadaran.

    Kata “sadar” yang dipakai adalah “sober“, sober biasanya digunakan pada orang mabuk yang baru tersadar secara penuh dari pengaruh alkohol. Sebab, pengaruh alkohol yang memabukkan biasanya membuat seseorang tidak lagi bisa melakukan hal-hal di bawah standar moral yang dia yakini. Pikiran kita harus ada di bawah standar moral yang tepat. Namun, bagaimana manusia berdosa bisa mengetahui standar kebenaran? Kita hidup dalam dunia yang relatif. Apa yang kau anggap benar, belum tentu bagi orang lain. Peran Roh Kudus lah yang menyatakan kepada kita standar kebenaran Allah. Pikiran kita harus dikuasai oleh Roh Kudus. Kita dapat sepenuhnya menguasai pikiran kita ketika Roh Kudus yang menguasai kita.

    Sulit? Memang! Oleh karena itulah, Petrus menyemangati kita dalam pengharapan oleh kasih karunia Kristus. Perjuangan kita tidak akan sia-sia karena kita tahu pada akhirnya kita akan menjadi sempurna saat Kristus datang kedua kali.

    Ketika kita mengetahui akhir dari sebuah cerita, tidak peduli seberapa besar konflik yang dialami oleh sang protagonist, kita pasti akan percaya kalau dia bisa melewati semua hal itu. Kita memiliki pengharapan yang demikian juga sekalipun hidup ini terasa sulit dan penuh rintangan, karena kita mengetahui akhir dari cerita Alkitab yaitu kedatangan Yesus kedua kalinya yang membangkitkan semua orang percaya dan menghukum kuasa si jahat untuk selama-lamanya.

    Kedua, menjadi kudus berarti menjadi taat di dalam perbuatan. Setelah mengendalikan pikiran, kita dipanggil untuk meresponi perintah Roh Kudus dalam pikiran kita. Bahasa yang dipakai dalam ayat 14 adalah “Like obedient shildren, do not comply with an evil urges you used to follow in your ignorance.” Seorang anak yang dididik oleh orangtuanya pasti akan menjadi serupa dengan orangtuanya. Pepatah berkata buah jatuh tidak jauh dari pohonnya. Ketika kita ingin menjadi serupa dengan Kristus, maka kita dituntut untuk menjalani hidup yang sama seperti Dia. Artinya diperlukan ketaatan terhadap kehendak-Nya dan berbalik dari kehidupan yang lama ketika kita masih belum mengenal-Nya. Ketika Bapa kita menjalani hidup yang kudus, maka sebagai anak-anak-Nya pun kita harus meniru hidup-Nya.

    Bapa kita adalah Allah yang kudus oleh karena itulah Dia menginginkan kita juga memiliki hidup yang kudus (15). Ada sebuah cerita tentang seseorang yang baru saja mendapati ada seekor kecoak di dalam rumahnya. Kemudian dia mengambil sandal dan memukul kecoak itu hingga hancur di lantai rumahnya. Orang ini pun membersihkan kecoak tersebut dan juga lantai tempat kecoak itu hancur. Tak lama, dia mengambil sebuah kue dari dapur kemudian makan di sekita tempat kecoak tersebut dipukul. Sayangnya, kue tersebut terjatuh dari tangannya dan menggelinding tepat ke tempat kecoak tersebut hancur. Jikalau kamu menjadi orang tersebut, apakah kamu akan mengambil kue itu dan memakannya lagi? Allah tidak dapat dekat dengan dosa karena Dia adalah Allah yang kudus. Allah punya natur kudus, sedangkan natur manusia adalah berdosa. Oleh karena itulah, menjadi kudus tidak dapat hanya mengandalkan kekuatan diri sendiri. Kita butuh Roh Kudus yang memampukan kita.

    Bapa kita juga adalah hakim atas segala sesuatu, Dia bukan hanya sekedar Allah yang kasih melainkan juga adil. Dia menghakimi semua orang menurut perbuatannya. Kenyataan ini seharusnya membuat kita takut (17). Bukan sembarang takut karena nyawa kita terancam, tapi rasa takut yang positif. Rasa takut karena menyadari ketidakberdayaan kita di tengah dunia yang sementara dan berdosa ini, juga hadapan Allah yang mahakudus. Orang percaya yang berjuang untuk kekudusan akan melihat bahwa dunia ini hanyalah sementara dan bukan segala-galanya, rumah kita yang sesungguhnya ada di dalam kekekalan yang kudus. Sehingga dalam mengejar kekudusan, orang percaya dapat melihat jauh ke depan, yaitu pengharapan yang kekal itu.

    Dalam pengharapan yang kekal itulah, kekudusan dinyatakan secara sempurna kepada manusia yang tidak berdaya. Keselamatan itu bukan hasil usaha kita melainkan penyataan Allah. Allah mau mengambil kue yang tergeletak di lantai itu dan memakannya walaupun itu menjijikkan bagi-Nya, Dia mau merangkul kita yang berdosa walaupun Dia jijik dengan dosa. Dengan mengutus anak-Nya yaitu Yesus Kristus agar merendahkan dirinya sebagai manusia dan mati bagi manusia-manusia berdosa yang bahkan tidak tahu bahwa dirinya sedang ditolong. Hidup kita telah ditebus bukan dengan emas atau perak (18), tapi harganya adalah nyawa anak-Nya sendiri (19).

    Kita memang mengalami berbagai kesulitan, tantangan, dan rintangan sebagai orang Kristen. Kita tergoda untuk melakukan dosa, tapi di saat yang sama ada perasaan bersalah yang menyuruh kita berbalik kepada Alkitab. Ada kalanya kita mungkin berhasil, tapi ada kalanya juga gagal. Pertanyaannya apakah kita mau bangkit dari kegagalan? Apakah kita mau merelakan penebusan Yesus dengan hidup sesuka hati kita? Apakah kita mau mengontrol pikiran dan perbuatan kita untuk menjadi serupa dengan Yesus? Dan, apakah kita mau melihat kepada pengharapan bahwa Yesus akan datang kembali kedua kalinya dan menolong kita menjadi kudus dan sempurna.

  • ASA: Akhiri Serta Allah

    ASA: Akhiri Serta Allah

    Kisah Raja-Raja di dalam Alkitab mungkin sudah sering kita dengar. Kisah Raja Saul yang adalah raja pertama bangsa Israel, kisah Raja Daud yang memenangkan pertempuran demi pertempuran, kisah Raja Salomo yang begitu bijaksana, dan lain sebagainya. Namun, mungkin kita tidak terlalu familiar dengan kisah raja-raja setelahnya.

    Raja Asa mungkin adalah salah satunya. Siapa Raja Asa? Mungkin sebagian dari kita belum pernah mendengar kisahnya atau bahkan namanya. Kisahnya sangat menarik untuk dipelajari dan mungkin membuat kita terheran-heran, mengapa seorang yang demikian bisa berubah drastis hidupnya. Alkitab mencatat kisahnya yang terbagi menjadi dua fase. Fase pertama adalah “Seorang Raja yang Bersandar Hanya Kepada Tuhan”. Fase kedua adalah “Seorang Raja yang Mengandalkan Kekuatannya Sendiri”

    Mari kita membaca fase pertama kisahnya di 2 Tawarikh 14-15

    Seorang Raja yang Bersandar Hanya Kepada Tuhan

    Pada kala itu, dalam kisah raja-raja setelah Salomo, kita jarang sekali mendengar kisah seorang raja yang taat kepada Allah, tidak menyembah berhala, menggunakan kekuasaan dengan bijaksana, dan pemerintahannya diberkati Tuhan. Hampir semua raja setelah Salomo yang dicatat dalam kitab Raja-Raja maupun Tawarikh, semuanya berlaku jahat dan menyesatkan umat dengan menyembah berhala. Akan tetapi dalam 2 Tawarikh 14-15 ini, kita seakan kembali mendengar kisah-kisah heroik seorang raja yang mengingatkan kita kepada Raja Daud.

    Asa namanya, dia adalah seorang putra mahkota yang meneruskan pemerintahan ayahnya, yaitu Raja Abia di kerajaan Yehuda (14:1). Alkitab mencatat track record-nya dengan begitu luar biasa. Bahkan dalam permulaan kisahnya, dicatat bahwa dia melakukan apa yang baik dan benar di mata Tuhan, Allahnya (14:2). Apa yang dia lakukan? Dia menghancurkan semua mezbah asing, bukit-bukit pengorbanan untuk ritual-ritual penyembahan berhala dengan cara membunuh bayi mereka sendiri, memecahkan tugu-tugu dan tiang-tiang berhala (14:3). Kemudian dia juga memerintahkan rakyatnya supaya mereka semua mau menyembah Tuhan dan mematuhi semua hukum dan perintah Tuhan (14:4). Alhasil, Tuhan memberkati dia dengan mengaruniakan keamanan di kotanya dan bahkan dia mampu membangun kota-kota benteng di Yehuda (14:5-6). Tentu, pada zaman itu benteng adalah ukuran kekuatan suatu bangsa, begitu pula dengan tembok, suatu bangsa bisa disebut bangsa hanya jika ada tembok yang mengelilingi kota bangsa itu (14:7). Pasukan-pasukan yang gagah perkasa pun setia berperang di bawah perintah Asa (14:8). Semuanya Tuhan berikan kepada Asa karena dia mencari Tuhan–Allah yang hidup dan tidak seperti allah-allah palsu lain— satu-satunya yang mampu menolongnya. Bahkan Asa diberikan kemenangan yang sangat tidak masuk akal kalau bukan Tuhan yang menyertainya. Mengapa tidak masuk akal? Karena Asa berperang hanya dengan 580.000 orang yang hanya bersenjata tombak, perisai, dan panah. Sedangkan lawannya yaitu Zerah dari Etiopia membawa 1 juta pasukan dan 300 kereta (14:9-10) yang saat itu bisa dibilang penemuan mematikan baru dalam peperangan. Ini tentu tidak masuk akal tapi nyata, kira-kira apa rahasia keberanian Asa?

    2 Tawarikh 14:11 “Kemudian Asa berseru kepada TUHAN, Allahnya: “Ya TUHAN, selain dari pada Engkau, tidak ada yang dapat menolong yang lemah terhadap yang kuat. Tolonglah kami ya TUHAN, Allah kami, karena kepada-Mulah kami bersandar dan dengan nama-Mu kami maju melawan pasukan yang besar jumlahnya ini. Ya TUHAN, Engkau Allah kami, jangan biarkan seorang manusia mempunyai kekuatan untuk melawan Engkau!”

    Asa pun berhasil memenangkan peperangan secara telak yang secara logika manusia tidak mungkin menang dengan jumlah pasukan yang hanya setengah dari pasukan musuh dan perlengkapan seadanya (12-15).

    Ketika kita menghadapi pergumulan hidup, peperangan setiap hari–entah itu mungkin peperangan rohani antara melakukan kehendak Allah dan kehendak diri atau menghadapi suatu kesulitan yang rasanya tidak mungkin kita lewati—sebenarnya hanya ada satu pribadi yang mampu menolong kita dari segala hal yang kita takutkan. Asa membuktikannya ketika dia bergantung penuh kepada Tuhan. Kedamaian dia dapatkan dan saya yakin kedamaian yang dia rasakan bukan hanya ketika kerajaannya aman dan tenteram, tetapi dia juga merasakan kedamaian dalam hatinya karena dia tahu bahwa dia melakukan hal yang benar. Di dunia ini memang hanya ada 2 hal yang saling bertentangan, kedamaian atau kegelisahan. Tidak ada kondisi lain di luar kedua hal tersebut, tidak ada pilihan “biasa saja”. Pertanyaannya adalah, apakah kita mau memilih damai dan bukan rasa gelisah karena memilih melakukan hal yang salah? Berdoalah kepada Tuhan karena hanya Dia yang mampu.

    Seorang penulis buku bernama Philip Yancey pernah menceritakan pengalaman buruknya ketika sedang mendaki gunung. Ketika dia sampai di puncak gunung, tiba-tiba saja terjadi badai dan petir menyambar tepat di atas kepalanya berulang-ulang kali. Di puncak gunung tertinggi itu, instruktur pendakian gunung sudah berkata, “Tidak ada yang bisa kita lakukan selain rebah di tanah dan berharap petir itu tidak akan menyambar kita.” Saat itulah Philip Yancey sambil memegang tangan istrinya, merenungkan Tuhan sedang berkata kepadanya, “Diamlah dan ketahuilah bahwa Akulah Allah! Aku ditinggikan di antara bangsa-bangsa, ditinggikan di bumi.” (Mazmur 46:11). Perenungannya ini membawa keyakinannya bahwa Tuhan tetap memegang kontrol di saat segala sesuatu ada di luar control kita.

    Kisah Raja Asa berlanjut di pasal 15 dengan sebuah peringatan dari seorang nabi bernama Azarya (15:1). Peringatan ini kira-kira berbunyi seperti ini, “Apabila kamu tetap hidup di dalam Tuhan Allah dan mencari Dia dengan sepenuh hati, maka Tuhan Allah juga akan menyertaimu dan menyatakan diriNya kepadamu yang mencari Dia. Tetapi sebaliknya, apabila kamu meninggalkan Dia, maka kamu juga akan ditinggalkan. Keadaan Israel saat ini sedang kacau karena mereka menyembah berhala. Karena itu, kuatkan hatimu, jangan patah semangat, teruslah setia dan taat kepada Tuhan agar bangsa Yehuda tidak mengalami apa yang dialami oleh Israel dan kamu mendapatkan upah dari Tuhan.” (15:2-7). Raja Asa pun dikuatkan hatinya dan semakin giat menyingkirkan berhala-berhala (15:8). Bahkan sampai orang-orang musuhnya sendiri yaitu kerajaan Israel mau berpihak kepada Raja Asa yang taat kepada Allah mereka (15:9). Mereka bersama-sama beribadah kepada Allah dengan mempersembahkan 700 sapi dan 7000 kambing serta berjanji untuk setia mencari Tuhan atau mereka bersedia dihukum mati (15:10-15). Tidak tanggung-tanggung, Raja Asa bahkan memecat neneknya sendiri dari jabatan ibu suri karena dia membuat patung berhala (15:16). Hati Asa tulus melakukan semua itu sehingga reformasi moral dan spiritualitas dapat terjadi di kerajaan Yehuda (15:17). Artinya, dengan ikhlas bersungguh-sungguh ingin mencari Tuhan, dia mau mempersembahkan yang terbaik bagi Tuhan (15:18). Tuhan pun menganugerahkan kepada-Nya keamanan sampai tahun ke-35 pemerintahannya.

    Terkadang pada masa-masa sulit, Tuhan menghibur hati kita, menguatkan kita, dan memberi tahu kehendak-Nya bagi kita lewat orang-orang di sekitar kita. Sama seperti Azarya yang Tuhan utus kepada Asa. Komunitas orang percaya begitu penting, mereka adalah alat yang Tuhan pakai untuk meneguhkan kita. Jangan sia-siakan komunitas, teman-teman kelompok kecil, ataupun mereka yang melayani Tuhan penuh waktu, karena berkomitmen penuh kepada Tuhan bukanlah suatu hal yang mudah. Seperti sebatang lidi yang begitu mudah dipatahkan, tetapi ketika kumpulan batang lidi diikat menjadi satu, tentu sangat sulit untuk dipatahkan. Tuhan mengerti betapa sulitnya kita untuk berkomitmen kepada-Nya karena itu Dia tidak membiarkan kita melakukannya sendirian.

    Dua pasal ini yaitu 14-15 menggambarkan Asa yang begitu hebat, seolah-seolah kita melihat Salomo kedua yang kerajaannya begitu kuat dan aman tenteram. Tetapi ironis, Asa tidak mengakhiri hidupnya dengan sebaik dia memulai pemerintahannya. Fase kedua ini menggambarkan Asa yang berubah drastis, dari seseorang yang mempercayai Tuhan sepenuh hati menjadi seseorang yang mengandalkan diri sendiri dan menolak Tuhan.

    Seorang Raja yang Mengandalkan Kekuatannya Sendiri

    Satu tahun setelah pasal 15 berakhir, Asa mengeluarkan persembahan yang baru saja dia berikan (15:18) untuk diberikan kepada Raja Aram, seorang yang tidak mengenal Tuhan. Apa alasannya? Saya tidak tahu dengan pasti, apakah dia takut kepada raja Israel, yaitu Baesa (16:1). Ataukah Asa memang dibutakan ambisi untuk mengalahkan bangsa Israel. Tetapi yang jelas Asa mengandalkan seorang raja musuh yang tidak mengenal Tuhan (16:2-4) untuk mengalahkan bangsa Israel yang sebenarnya adalah saudaranya sendiri—mengingat ada banyak orang Israel yang mengikuti dia di pasal 15 karena mereka menyembah Allah yang sama. Dia memang berhasil membatalkan rencana Baesa memperkuat Rama agar kekuatan Asa melemah dibatalkan (16:5), tetapi apa yang dilakukannya tentu tidak berkenan di hadapan Allah. Di saat dia menyuruh semua rakyatnya untuk mengangkat batu dan kayu demi semakin memperkuat kerajaannya (16:6), seorang nabi datang kembali. Namanya adalah Hanani, namun tidak seperti Azarya, Hanani menyampaikan berita yang sangat tidak mengenakkan. Katanya, “Karena engkau bersandar kepada manusia dan bukan Tuhan, maka kamu tidak akan dapat mengalahkan kerajaan Aram. Engkau mungkin lupa peperangan melawan Etiopia yang tidak masuk akal itu dapat engkau menangkan karena Tuhan memberikan kemenangan itu kepadamu yang mau mengandalkan Tuhan. Oleh karena itu, keamanan negeri ini tidak akan ada lagi, tetapi mulai sekarang akan ada peperangan.” (16:7-9) Respon Asa sayangnya tidak seperti responnya kepada Azarya. Dia sakit hati dan menyuruh Hanani dipenjara, bahkan dia tidak lagi menjalani tugasnya sebagai raja yaitu melindungi rakyat. Dia justru menganiaya rakyatnya (16:10). Menolak nabi artinya adalah menolak Firman Tuhan. Dan inilah yang dia dapatkan di akhir hidupnya, tiga tahun penuh dengan peperangan dan penyakit pada kakinya. Alih-alih bertobat, dia tetap tidak mau berpaling kepada Allah. Melainkan, dia justru mencari pertolongan kepada tabib-tabib (16:11-12) yang pada saat itu seringkali menggunakan ilmu-ilmu sihir yang dibenci Tuhan Allah. Kemudian dalam waktu dua tahun, dia meninggal (16:13-14).

    Kisah Raja Asa sesungguhnya menggambarkan diri kita semua sebagai seorang Kristen yang mengalami jatuh bangun rohani. Kita sebagai seorang Kristen bisa seperti Asa di pasal 14 yang bergantung penuh kepada Tuhan, dan di saat kita mulai goyah kita menjadi kuat lagi karena komunitas yang mendukung dan menguatkan kita seperti Asa yang dikuatkan oleh nabi Azarya di pasal 15, dan kita mungkin bisa jatuh ke titik terendah dalam perjalanan rohani kita seperti Asa di pasal 16 yang gagal mempercayai Tuhan dan komunitas yang Tuhan anugerahkan bagi-Nya.

    Belajarlah dari kisah Asa, tanpa Tuhan kita tidak dapat berbuat apa-apa. Berhenti mengandalkan kekuatanmu sendiri dengan melakukan hal yang tidak berkenan di hadapan Tuhan. Tuhan tahu bahwa jalan-Nya adalah yang terbaik dan Dia mengharapkan kita juga bisa mendapatkan yang terbaik itu dengan mengikuti-Nya.

    1 Korintus 10:12 “Sebab itu siapa yang menyangka, bahwa ia teguh berdiri, hati-hatilah supaya ia jangan jatuh!

    Tidak ada yang tahu apa yang akan terjadi dengan diri kita nanti dan bagaimana akhir hidup kita. Karena itu, berjaga-jagalah, Akhiri Serta Allah (ASA). Setialah kepada Firman Tuhan dan komunitas-Nya hingga akhir hidup kita. Jangan abaikan segala Firman-Nya entah itu melalui saat teduh, khotbah, maupun teman-teman kita. Sehingga kita dapat terus mempercayai Tuhan kita yang tidak terbatas dan kita tidak lebih percaya kepada diri kita yang terbatas ini.

  • Yunus, Kata Tanpa Hati

    Yunus, Kata Tanpa Hati

    Kisah Yunus adalah salah satu cerita Alkitab favorit saya di masa kecil. Cerita petualangan seorang nabi yang berusaha melarikan diri dari tugasnya dan akhirnya dihukum dengan dimakan ikan Paus–pikiran kecil saya membayangkan ikan tersebut adalah ikan paus karena ukurannya yang sangat besar. Hal yang paling unik adalah Yunus selamat dan tinggal di dalam perut ikan tersebut selama 3 hari sebelum akhirnya dimuntahkan oleh ikan! Inilah mengapa saya sangat menyukai kisah Yunus. Dalam benak kecil saya, kisah Yunus adalah cerita petualangan yang sangat fantastis.

    Setelah saya semakin bertumbuh dewasa, baik secara jasmani dan rohani, membaca kitab Yunus kembali memberikan kesan yang berbeda. Kisah Yunus bukanlah sebuah cerita petualangan yang fantastis, tetapi tragis! Kisah Yunus mengingatkan kita betapa berdosa dan tidak layaknya kita seringkali sebagai seorang yang mengaku melayani Tuhan.

    Baca Yunus 1.

    Kisah ini dimulai dengan pemberontakan seorang nabi bernama Yunus. Di saat kita pada zaman ini seringkali meragukan panggilan Tuhan dan bertanya-tanya, “Apakah benar Tuhan memanggil kita atau hanya perasaan saya saja?”. Namun, Yunus mendengar suara Tuhan secara audible (ay. 2) agar dia pergi ke Niniwe untuk menyampaikan suara kenabian di kota itu. Suara Tuhan begitu jelas menyuruh Yunus untuk pergi, namun apa yang dilakukan Yunus? Dia rela membayar tiket perjalanan jauh (ay. 3) ke arah yang berlawanan 180° dari Niniwe, yaitu Tarsis.

    Yunus sebagai seorang nabi jelas melakukan kesalahan fatal dalam memutuskan pilihannya ini. Nabi seorang yang dipanggil menjadi penyambung lidah Allah, memberitakan kemuliaan dan keselamatan yang dari Allah, termasuk juga kepada bangsa-bangsa selain Israel. Justru dia memilih untuk diam dan melakukan hal yang bertentangan dengan apa yang Allah perintahkan kepadanya.

    Sebagai seorang Kristen yang mengakui diri sebagai pelayan Tuhan, apakah hal ini juga yang seringkali kita lakukan? Kita mengetahui Allah memanggil dan menghendaki kita untuk memberitakan Injil, mengasihi yang terlantar, mengampuni mereka yang melukai kita, namun bukankah seringkali kita malah melakukan apa yang bertentangan dengan panggilan dan kehendak Allah? Ironisnya, di saat melakukan hal-hal yang demikian, kita masih dapat menyembah Allah melalui mulut kita. Seperti yang dilakukan oleh Yunus di atas kapal yang dia naiki untuk menuju ke Tarsus.

    Ketika Tuhan mendatangkan badai besar untuk menghadang kapal yang dinaiki Yunus (ay. 4), apa yang sedang dilakukan Yunus? Dia sedang tidur dengan nyenyak, sementara para pelaut sudah panik ketakutan sambil memanggil-manggil para allahnya (ay. 5). Ya, Yunus tidur dengan nyenyak pada saat itu. Bukankah sikap Yunus menggambarkan ciri-ciri iman omong kosong seorang Kristen yang sudah terlalu nyaman hidupnya? Perjalanan menjadi seorang Kristen sekian lama bisa jadi malah membuat kita malah terbiasa dengan “kasih-Nya”. Atau sebagai seorang Kristen generasi ke sekian dan sudah mengaku “percaya” kepada Tuhan sekian lama, kita bisa saja sedang “tertidur nyenyak” saat tengah melakukan dosa.

    Tentu, Allah tidak tinggal diam melihat kebebalan hati Yunus. Kasih-Nya tidak mengijinkan Yunus terus tertidur nyenyak. Di tengah kepanikan, seorang pelaut membangunkannya dan Tuhan memakainya untuk menegur Yunus agar berseru kepada Allah (ay. 6). Saya membayangkan ekspresi Yunus pada saat itu, mungkin seperti seorang anak kecil yang cemberut ketika disuruh meminta maaf atas kesalahannya. Tidak hanya itu, Allah juga ikut campur tangan ketika para pelaut membuang undi untuk menentukan siapa penyebab badai ini didatangkan, sehingga dari sekian banyak orang yang berada di kapal itu, Yunus secara “kebetulan” terpilih (ay. 7).

    Yunus mengaku kepada para pelaut yang tidak mengenal Tuhan bahwa dirinya adalah seorang Ibrani yang takut akan Tuhan Allah yang mempunyai langit, menjadikan lautan, dan daratan (ay. 8-9). Dengan kata lain, Yunus mengakui kedaulatan Allah atas seluruh bumi, kapal, badai, dan setiap manusia di dalamnya termasuk dirinya sendiri.

    Sayangnya, perkataan dan perbuatannya tidak sejalan. Bahkan ironisnya, para pelaut yang tidak mengenal Allah justru lebih takut kepada Allah (ay. 10) yang Yunus akui kedaulatannya, ketimbang Yunus sendiri. Tak hanya itu, pemahaman Yunus akan Allah yang omnipresence (maha hadir), tidak membuat Yunus sadar bahwa sejauh apa pun ia pergi tidak akan dapat menyembunyikan dirinya dari Allah.

    Akhirnya Yunus harus menanggung akibat perbuatannya sendiri, ia mau tak mau harus menyerah dari pelariannya (ay. 11-12). Yunus patut bersyukur sekaligus malu di saat semua pelaut masih berusaha memperjuangkan hidupnya dengan membawa kapal itu ke daratan setelah mendengar pengakuannya (ay. 13) di saat Yunus merasa dirinya jauh lebih baik daripada mereka yang tidak mengenal Tuhan (Yunus 4). Namun, tidak peduli sekeras apa pun manusia berusaha, tetap tidak ada yang dapat mengubah rencana Allah, Yunus pun dicampakkan ke dalam lautan yang begitu menakutkan (ay. 14-17).

    Kisah Yunus sekilas terlihat begitu menakjubkan dan fantastis. Namun, ini adalah kisah yang begitu ironis yang seharusnya membuat kita–orang-orang Kristen yang mengaku melayani Tuhan–merenungkan kembali, apakah saya benar-benar sudah mengikuti Tuhan sepenuh hati dan perbuatan kita? Dan, apakah yang kita pahami dan percayai tentang Allah sungguh-sungguh kita hayati dan berdampak dalam tingkah laku perbuatan kita? Ketika Tuhan memanggil kita, ingatlah selalu bahwa kita tidak akan dapat melarikan diri ataupun bersembunyi dari kemahahadiran-Nya.