Category: Pendalaman Alkitab

  • Christian Atheist

    Christian Atheist

    Kristen dan ateis tentu adalah dua ide yang sangat bertentangan. Kristen adalah orang-orang yang percaya Tuhan, sedangkan ateis adalah orang-orang yang tidak mempercayai Tuhan itu ada. Bagaimana kita dapat menggabungkan kedua ide ini?

    Kristen Ateis merupakan suatu keyakinan dimana ada orang-orang yang mengaku percaya Tuhan tapi hidup seolah-olah seperti Tuhan itu tidak ada. Ada banyak sekali orang Kristen yang tidak sadar bahwa dirinya adalah seorang Kristen Ateis, bahkan termasuk mereka yang sudah rajin ke gereja dan juga pelayanan.

    “I believe in God, but don’t know Him.” 
    “I believe in God, but don’t fear Him.”
    “I believe in God, but don’t go overboard.”
    “I believe in God, but don’t trust him fully.”

    (The Christian Atheist, Craig Groeschel)

    Christian Atheist is real. Bisa jadi, mereka adalah diri kita. Sekeluar dari gedung gereja atau persekutuan, di jalan, di kamar, bisa saja kita hidup seakan Tuhan itu tidak nyata. Kita melakukan segala sesuatu tanpa pernah memikirkan bahwa Tuhan itu nyata, Tuhan ada bersama kita, Tuhan sedang melihat perbuatan kita, dan Tuhan peduli dengan semua hal yang kita lakukan.

    Berbicara tentang ateis, tahukah kamu kitab Pengkhotbah disebut sebagai kitab yang disukai para ateis. Memang, kitab Pengkhotbah adalah kitab yang sangat menarik walaupun kitab ini banyak berbicara tentang sesuatu yang negatif. Keyword yang akan paling sering kita temukan adalah kata “sia-sia”. Nada-nadanya seakan pesimis namun realistis, kenyataan bahwa segala sesuatu di dunia ini adalah sebuah kesia-siaan.

    Pengkhotbah ditulis oleh seorang Raja yang sangat terkenal, kaya raya, pintar yang katanya tidak satu orang pun di dunia ini yang sepintar dia, bahkan di Alkitab ditulis bahwa dia mengetahui nama semua jenis tumbuhan dari yang paling kecil yang tumbuh di bebatuan sampai yang paling besar. Kerajaan yang dia pimpin saat itu, bisa dibilang adalah kerajaan terkaya dan disegani oleh semua kerajaan lainnya di dunia. Siapakah dia? Anak Raja Daud, yaitu Salomo.

    Salomo yang adalah manusia terkaya dan paling berkuasa yang pernah hidup di dunia ini, dia juga pernah mencoba semua hal yang tidak pernah dia lakukan sebelumnya (2:1). Namun, baginya semua hal itu pun sia-sia. Minuman yang nikmat (1:3), harta benda sampai budak-budak yang ‘berkembang biak’ di istananya (2:7), banyaknya istri yang di kitab Raja-Raja tercatat berjumlah 700 (2:8), segala hal yang diinginkan oleh semua manusia di bumi ini sudah pernah dia lakukan semuanya (2:10). Namun, akhirnya tetap sama, “segala sesuatu adalah kesia-siaan, memang tak ada keuntungan di bawah matahari” (2:11). Segala hal yang baik seperti kepintaran juga sia-sia (2:14) karena semuanya akan menuju ke nasib yang sama. Apa itu? Tua, pikun, mati (3:20).

    Bayangkan, seorang Raja seperti Salomo, di akhir hidupnya menulis kitab Pengkhotbah dan menyimpulkan bahwa segala sesuatu adalah sia-sia. Apa gunanya kita hidup di dunia ini kalau segala sesuatu itu sia-sia?

    Salomo, seorang raja yang terhormat bahkan menyamakan hidup manusia dengan binatang (3:19). Pertanyaannya, apa persamaan manusia dengan sapi? Mungkin manusia dan sapi sama-sama bekerja, makan, dan tidur. Namun, apa yang membedakannya sehingga kita tidak mau disebut sapi? Mereka tidak khawatir atau peduli sama sekali apakah hidup ini sia-sia atau tidak. Mereka tidak bertanya soal arti kehidupan dan inilah yang membedakan kita dengan binatang.

    Manusia akan selalu mengalami yang namanya kekhawatiran dengan hidup. Khawatir akan masa depan, kuliah apa, mau kerja apa, kapan punya pacar, kapan menikah, kapan punya anak, kapan pensiun, dan sebagainya. Kita tidak akan pernah berhenti mencari arti dari kehidupan dan kepuasan hidup. Tidak peduli senyaman apa kehidupan kita, seberapa banyak harta kita, seberapa besar kemampuan kita, bahkan sekalipun kita menjadi seperti Salomo.

    Kita bukan orang-orang yang sekedar puas ketika bisa “makan, minum, bersenang-senang, dan tidak usah memikirkan segala hal lainnya.” Kita bisa saja melakukan semua itu hanya sekedar hidup untuk survive di dunia ini. Namun, kita akan terus merasa hidup kita kosong dan tidak ada artinya. Tidak ada hal yang bisa memuaskan hidup kita di dunia ini. Kalau saja pornografi atau game bisa memuaskan hidup kita, maka kita tidak akan mengakses situs-situs porno lagi atau bermain game lagi bukan? Cukup sekali saja melakukannya karena kita sudah puas. Namun, kenyataannya apakah manusia puas hanya sekali saja?

    Kembali berbicara mengenai Kristen Ateis. Kalau ateis tidak mempercayai Tuhan itu ada, maka mereka sebenarnya akan terus mencari apa arti dari hidup mereka. Mereka harus menerima kenyataan kalau hidup ini cuma sementara dan akan selesai begitu saja karena Tuhan itu tidak ada. Bukankah itu kesia-siaan yang dimaksud Salomo? Apapun yang manusia kerjakan hanya akan berakhir begitu saja ketika manusia mati nanti. Lalu apa yang harus kita lakukan?

    “Sebuah bidang ilmu mungkin bisa menjawab pertanyaan ‘bagaimana’ dalam penjelasan materi, tapi pertanyaan yang paling penting menjawab pertanyaan ‘mengapa’. Mengapa kita ada, dan siapa yang akan menuntun kita melalui kekhawatiran dan kesulitan hidup ini?” (Jesus Among Secular Gods, p.12)

    Di dalam kitab Pengkhotbah, ada keyword kedua yang akan sering kita temukan ketika membaca kitab ini. Apakah itu? Kata “di bawah matahari” ditulis dalam kitab Pengkhotbah sebanyak 29 kali. Ravi Zacharias, seorang apologet yang menulis banyak buku pernah berkata seperti ini, “The key to understanding the Book of Ecclesiastes is the term ‘under the sun.’ What that literally means is you lock God out of a closed system, and you are left with only this world of time plus chance plus matter.”

    Apa artinya? Ketika Salomo berkata hidup di bawah matahari adalah suatu kesia-siaan, maka sebenarnya hidup di bawah matahari itu adalah hidup di dalam sudut pandang kita sendiri. Cukup dari apa yang kelihatan dari mata kita saja dan membuang Tuhan yang bertahta atas alam semesta dan tidak bisa kita lihat itu keluar dari hidup kita.

    “You can only find a lasting meaning to your life by looking above the sun and bring God back into the picture.” – Derek Neider

    Semua yang dikatakan Salomo menjadi masuk akal, bahwa hidup di bawah matahari itu adalah hal yang menyusahkan (2:17), bahkan dia membenci hidup yang demikian. Hidup di bawah matahari atau di bumi ini menyusahkan karena apapun yang kita lakukan di dunia ini tidak ada gunanya dan sia-sia. Justru malah merepotkan diri kita sendiri dan membuat hidup kita menderita. Tidak heran banyak orang yang putus asa dalam hidup ini dan mengakhiri hidupnya, tidak peduli miskin atau kaya, terkenal atau tidak, dan sebagainya.

    Kenapa kehidupan di dunia ini bisa menjadi begitu suram? Apakah Tuhan menciptakan dunia ini supaya manusia menderita dan sia-sia saja hidupnya? Tidak. Dunia di taman Eden yang Tuhan ciptakan sebelum manusia jatuh dalam dosa adalah dunia yang indah dan berarti. Namun, semuanya berubah di Kejadian pasal 3, manusia jatuh dalam dosa, lingkungan menjadi rusak, hubungan antar sesama menjadi rusak, dan hubungan manusia dengan Penciptanya juga menjadi rusak.

    Manusia akan terus berdosa dan berdosa selama hidupnya (7:20) karena dosa ada di luar kontrol kita. Dosa adalah natur manusia, sebuah cara hidup bagi manusia. Sehingga, ketika kita memandang hidup ini hanya sebatas di bawah matahari saja, maka kita akan terus hidup di bawah kekuatan yang memperbudak kita dalam kerusakan dan kesia-siaan.

    Oleh karena dosa tidak akan pernah memuaskan hidup kita, maka kita akan terus menerus mencari kepuasan. Dan, celakanya segala yang kita cari dan kita lakukan itu tidak akan bisa berhasil. Malah kita akan terus berkubang dalam dosa dan ujung-ujungnya kita akan mati konyol setelah menghabiskan seluruh hidup mencari kepuasan dan mengakhirinya dengan tangan kosong.

    Maka dari itulah, ada seorang Raja yang mau turun ke dunia yang rusak ini dan penuh penderitaan, dan memberikan kita kepuasan sejati, hidup yang tidak akan sia-sia. Raja itu memiliki segalanya namun Dia meninggalkannya, Raja itu berkuasa namun Dia memakai kuasanya bukan untuk diri-Nya sendiri. Raja itu adalah Yesus Kristus. Dia bukan sekedar dongeng atau sejarah, tetapi Dia sungguh nyata, hidup, dan terus memandang kita dari atas matahari itu hingga detik ini. Kita memerlukan Dia yang ada di atas matahari itu. Walaupun kita tidak dapat melihat-Nya dengan kasat mata, tapi Dia benar-benar nyata!

    Syukurlah hidup kita tidak sia-sia di dunia ini. Kita tidak perlu mencari-cari apa artinya hidup karena kita memiliki seorang Raja yang berkuasa atas apa yang ada di bawah matahari, apa yang ada di atas matahari, bahkan berkuasa atas matahari itu sendiri. Setelah berbagai penderitaan dan kesia-siaan karena istri-istrinya yang mempengaruhi Salomo menjadi seorang penyembah berhala, akhirnya dia sadar bahwa ada sesosok pribadi di atas matahari itu yang bisa memberikan kepuasan yang selama ini dia cari-cari (8:12; 16-17).

    Hadirat Tuhan bagi Salomo adalah yang terpenting setelah dia melalui hidupnya sampai tua, mencari arti hidup. Dia menuliskan kesimpulan penutup dalam kitab pengkhotbah di pasal 12:13-14, Akhir kata dari segala yang didengar ialah: takutlah akan Allah dan berpeganglah pada perintah-perintah-Nya, karena ini adalah kewajiban setiap orang. Karena Allah akan membawa setiap perbuatan ke pengadilan yang berlaku atas segala sesuatu yang tersembunyi, entah itu baik, entah itu jahat.”

    Sekalipun segala sesuatu akan menjadi sia-sia karena tidak ada yang abadi di dunia ini, akan tetapi Tuhan kita tidak sia-sia karena Dia kekal dan segala perbuatan kita di dunia yang tadinya kita anggap sia-sia–entah itu baik atau jahat–akan dinilai oleh-Nya di dalam kekekalan nanti.

    Istilah Christian Atheist bisa saja menyentil nurani kita. Mungkin kita merasa itulah aku. Kini, mari kita melihat bahwa di atas matahari masih ada langit. Kita bukan hanya hidup di bawah matahari saja. Tapi ada pencipta alam semesta yang nyata hidup memperhatikan kita yang hidup seolah tanpa Tuhan. Mulailah membangun relasi dengan Dia yang kekal, supaya hidup kita tidak disia-siakan kepada hal-hal yang tidak kekal, dan kita tidak mati konyol karena waktu kita habis untuk mencari-cari kepuasan yang sebenarnya cuma bisa kita temukan di dalam Tuhan.

    Ada sebuah istilah dalam bahasa Latin yang disebut Coram Deo yang artinya adalah hidup di dalam hadirat Tuhan, di bawah otoritas Tuhan, dan untuk kemuliaan Tuhan. Seorang Kristen yang sejati menghidupi kehidupan yang Coram Deo!

    (Khotbah Ibadah Minggu Youth GKI Jatinegara 9 September 2018)

  • Jalan Kemuridan

    Jalan Kemuridan

    Lanjutan dari Harga Menjadi Murid

    Pada suatu hari ada seekor ikan yang sedang berkelana. Dalam perjalanan, dia bertemu dengan seekor gurita yang bertanya kepadanya, “Hai ikan, apa yang sedang kamu cari?” Ikan ini kemudian menjawab, “Aku sedang mencari tahu dimana air itu berada.” Cerita ini mungkin terdengar konyol. Bukankah sudah jelas bahwa ikan tersebut hidup di air? Mengapa dia masih mencari keberadaan air itu? Namun, kisah konyol ini sebenarnya juga kita alami secara tidak kita sadari ketika kita berjuang menjadi pengikut Kristus.

    Tulisan sebelumnya mengingatkan kita betapa sulitnya membayar harga menjadi pengikut Yesus. Harganya tidak masuk akal, bagi kita manusia berdosa yang memang sudah terbiasa hidup dalam kubangan dosa. Oleh karena itu, meninggalkan dosa bukanlah suatu pilihan yang mudah bagi kita. Penutup tulisan terakhir memuat kalimat Tuhan Yesus, “Bagi manusia itu tidak mungkin, tapi bagi Allah segala sesuatu mungkin”. Masalahnya bagaimana caranya Tuhan bekerja? Inilah kita, si ikan muda yang selalu mencari tahu bagaimana Tuhan bekerja dalam hidup kita, di saat sebenarnya itu sudah sangat jelas dalam diri kita. Kita tahu ada Roh Kudus, tapi kenyataannya kita sering abai dalam melihat penolong yang Tuhan sediakan itu.

    Baca Yohanes 16:4-15

    Ini adalah perkataan-perkataan Tuhan Yesus sebelum penangkapan-Nya. Lazimnya jika seseorang sudah mengetahui bahwa sebentar lagi dia akan meninggal, tentu dia akan memanfaatkan waktu terakhirnya untuk membicarakan hal-hal yang penting. Disinilah Tuhan Yesus berbicara, bahkan di ayat 4 dikatakan, “supaya kalian ingat saat Aku sudah tiada.” Artinya kata-kata ini harus diingat setelah Yesus sudah tiada. Kata-kata apa itu? Sesuai judul perikopnya, pekerjaan penghibur, dan kita tau penghibur itu siapa. Dia adalah Roh Kudus.

    Apa yang Yesus katakan mengenai Roh Kudus? Tuhan Yesus berkata bahwa lebih baik Dia pergi supaya dapat mengutus penghibur untuk murid-murid-Nya (ay. 7). Lalu apa maksud ayat ini? Apakah Roh Kudus lebih penting daripada Kristus?

    Kyle Idleman dalam bukunya Not a Fan, menuliskan bahwa dalam kebingungannya untuk mengerti ayat ini, akhirnya dia menemukan jawabannya. Ketika membaca Perjanjian Lama, seringkali kita menemukan kata-kata, “Allah menyertai…” dalam begitu banyak kisah-kisah tokoh seperti Abraham, Yusuf, Musa, Elisa, Daud, dan sebagainya. Namun, kita jarang menemukan kata-kata tersebut di Perjanjian Baru. Seperti sebuah missing link, rasanya ada sebuah bagian yang hilang. Tiba-tiba saja terjadi perubahan drastis tanpa diketahui penyebabnya. Ternyata Perjanjian Baru memakai kata-kata lain yang maknanya hampir sama yaitu “Tuhan di dalam kita.” Apa artinya ini bagi kita?

    Kyle Idleman mengkalimatkan ulang perkataan Yesus kira-kira seperti ini, “Lebih baik bagimu jika Aku pergi, karena meskipun Allah yang menyertaimu itu baik, Allah yang tinggal di dalam dirimu akan jauh lebih baik lagi.” Yesus bisa saja menyertai para murid-murid-Nya, tetapi Roh Kudus yang akan tinggal dalam diri pengikut-Nya.

    Lalu, apa sebenarnya fungsi Roh Kudus yang tinggal dalam diri kita? Dalam ayat 8, disebutkan bahwa ada tiga peran Roh Kudus yaitu: menginsafkan dunia akan dosa, kebenaran, dan penghakiman. Kita akan membahasnya satu per satu.

    Menginsafkan dunia akan dosa

    Roh Kudus menyatakan kepada umat percaya akan dosanya (yaitu tidak percaya kepada Tuhan) dan memanggil manusia untuk bertobat. Jikalau bukan karena pekerjaan Roh Kudus, maka manusia tidak akan pernah melihat dirinya sebagai seorang pendosa. Saya teringat sewaktu kuliah dulu, doktrin predestinasi sangatlah sulit saya pahami dan saya selalu menghindari pertanyaan-pertanyaan seputar ini dari anak-anak Kelompok Kecil saya. Predestinasi adalah doktrin yang menyatakan bahwa Tuhan memilih siapa yang mau Dia selamatkan. Artinya tidak semua manusia akan diselamatkan. Dasar Alkitab doktrin ini terambil dari Efesus 1. Jujur saja, saya merasa Tuhan itu tidak adil seandainya hanya saya yang diselamatkan sedangkan keluarga saya yang masih belum percaya tidak. Pemikiran ini terus berlanjut sampai saya lulus dari universitas dan membaca satu buku berjudul Kaum Pilihan Allah (R.C. Sproul)

    Disitulah cara pandang, mindset, dan pemikirian saya semuanya berubah. Ternyata ketika saya berpikir bahwa Tuhan tidak adil, sebenarnya saya sedang merasa bahwa manusia itu layak diselamatkan. Saya gagal melihat bahwa manusia itu sebenarnya sudah rusak total dan tidak layak diselamatkan sama sekali. Justru ketika Yesus mau menyelamatkan sebagian orang, sesungguhnya itu adalah kemurahan hati Tuhan dan kita tidak berhak untuk menuntut lebih. Seharusnya kita bersyukur karena Tuhan masih mau menyelamatkan yang sebagian.

    Saya rasa ketika saya bisa sampai pada pemahaman ini, tentunya itu adalah pekerjaan Roh Kudus sehingga akhirnya saya bisa mengerti bahwa tidak ada manusia yang layak untuk diselamatkan. Roh Kudus mengingatkan saya bahwa manusia itu berdosa dan tidak layak diselamatkan, namun diberi kasih karunia Allah untuk diselamatkan.

    Menginsafkan dunia akan kebenaran

    Roh Kudus menyatakan kebenaran tentang Allah kepada semua orang yang percaya. Kita tahu bahwa dosa adalah natur kita sebagai manusia yang sudah jatuh dalam dosa. Ibaratnya seperti seorang terdakwa yang sudah divonis hukuman mati oleh hakim, kita juga sebenarnya sudah divonis hukuman maut karena dosa kita, oleh sang hakim yaitu Allah Bapa.

    Mengutip tulisan saya beberapa waktu yang lalu…

    Syukurlah ada seorang Pribadi yang ingin membela kita! Yohanes berkata bahwa kita mempunyai seorang pengantara kepada Bapa, yaitu Yesus. Kata aslinya (parakletos; para: di samping) artinya adalah advokat. Ibaratnya seperti berada di dalam sidang pengadilan, Yesus adalah seorang pengacara atau advokat atau orang yang berbicara mewakili terdakwa. Yesus adalah seorang advokat yang juga adil atau dalam bahasa Inggrisnya “the righteous One”, karena Dia adil dan benar maka Dia mampu untuk menjadi advokat bagi kita yang didakwa akibat dosa.

    Kenyataan ini seharusnya membuat kita benar-benar merasa lega. Oleh karena kita sebagai manusia yang sudah divonis bersalah dan dijatuhi hukuman mati, pada akhirnya mendapatkan pembelaan dari seorang advokat terbaik. Mengapa terbaik? Karena Dia tidak pernah berbuat salah, bahkan Dia adalah putera dari Sang Hakim sendiri. Dia juga adalah advokat terbaik karena bukan hanya membela tetapi bahkan juga bersedia menanggung hukuman yang tidak akan sanggup kita tanggung. Bukan hanya untuk kelompok tertentu saja, bukan hanya untuk Jews, bukan hanya untuk orang Kristen, tetapi untuk semua orang di dunia. Yesus menawarkan pembenaran kepada semua manusia yang sudah divonis bersalah ini.

    Lalu apa buktinya bahwa kita sudah mengenal sang advokat dan punya relasi dengan-Nya (‘know’ / ‘ginosko’ / ‘yada’) sehingga kita menerima tawaran pembenaran-Nya itu? Sebanyak 42 kali, kata ‘mengenal’ ini muncul di surat 1 Yohanes. Di surat yang cukup pendek ini, kata ‘mengenal’ sangat sering digunakan oleh Yohanes. Kata ‘mengenal’ ini menjadi sangat signifikan dalam surat 1 Yohanes karena kita dapat menerima tawaran pembenaran-Nya hanya dengan mengenal-Nya. Mengenal Allah berarti juga mengenal kehendak-Nya dan dengan taat melakukannya. Seseorang baru dapat jatuh cinta jika mengenal siapa yang dia cintai. Orang yang mencintai seseorang pasti ingin melakukan kehendak orang itu. Itulah kenapa Yohanes berkali-kali mengatakan bahwa seseorang yang mengaku mengenal Dia tapi tidak mentaati kehendak-Nya adalah seorang pendusta atau munafik karena pengenalan dan cintanya tidak terbukti dari tindakannya.

    Inilah pekerjaan Roh Kudus, Dia menolong kita melihat kebenaran sejati yang selama ini dicari-cari manusia. Dia menolong kita untuk bisa mengenal Tuhan Yesus yang sudah mati, bangkit, dan naik ke Surga. Dia menolong kita untuk mengerti semua kisah yang tertulis di Alkitab sekalipun kita bukan saksi mata langsung dari semua kisah itu.

    Saya sangat mengagumi sejarah Kekristenan. Pada abad-abad awal tahun Masehi, Kekristenan ditindas oleh kerajaan Romawi, tak lama kemudian kemudian Arab, lalu kerajaan Perancis, dan oleh paham-paham komunis dan fasisme, sampai sekarang Kekristenan juga terus merasakan diskriminasi dan penindasan. 2000 tahun sudah berlalu dengan penindasan, akan tetapi Kekristenan masih dapat eksis sampai sekarang. Bukankah ini mengagumkan? Saya rasa tidak masuk akal, Kekristenan tetap dapat bertahan selama 2000 tahun jikalau ini merupakan pekerjaan manusia biasa. Lebih sulit menjelaskan dengan ilmiah bagaimana Kekristenan bisa tetap bertahan dan memiliki pengaruh yang begitu kuat jikalau ini adalah perbuatan manusia dan bukan Roh Kudus. Maka dari itu, kita bersyukur karena ada Roh Kudus yang selalu menolong dan menguatkan iman orang Kristen untuk percaya kepada Yesus walaupun Dia sudah naik ke Surga dan tidak lagi bersama-sama dengan kita secara fisik.

    Menginsafkan dunia akan penghakiman

    Roh Kudus menyatakan penghukuman Allah akan penguasa dunia yaitu Iblis. Alkitab mencatat di surat Wahyu yang ditulis juga oleh Yohanes yang menulis Injil yang kita baca ini kalau suatu hari nanti ketika Yesus datang kembali, Iblis atau penguasa dunia ini akan dihukum bersama dengan orang-orang tidak percaya yang tidak diselamatkan.

    Sewaktu mendengar berita bom di Surabaya pada tanggal 13 Mei 2018, saya merasa sangat sedih. Padahal itu adalah hari ulang tahun saya, tapi mengapa justru ada kabar yang menyedihkan seperti itu? Dalam hati aku bertanya-tanya kenapa hal ini harus terjadi? Kenapa Tuhan tidak menghukum langsung saja terorisme dan ekstremisme? Lalu besoknya Tuhan menyatakan jawabannya dari saat teduh pagi hari bahwa Tuhan tidak akan membiarkan ketidakadilan, Dia akan menghukum orang-orang jahat suatu hari nanti. Di saat itu saya menjadi sadar, seharusnya kita bukan mengutuk para teroris itu. Melainkan seharusnya kita malah mengasihani mereka. Mereka sudah membayar harga yang sangat mahal dan tidak masuk akal, mengorbankan waktu, uang, keluarga, bahkan nyawa sendiri untuk sesuatu yang sebenarnya tidak ada artinya. Bukankah tragis sekali?

    Roh Kudus membuat kita dapat melihat Allah yang begitu berkuasa dan tidak tertandingi. Dia akan menghukum kejahatan dan ketidakadilan ketika Dia datang untuk yang kedua kalinya. Jikalau Roh Kudus tidak ada, mungkin kita tidak punya pengharapan lagi melihat dunia yang begitu kacau dan bobrok ini, yang semakin lama semakin jahat. Syukurnya Roh Kudus memberi kita kekuatan untuk melihat jauh ke depan.

    Peran Roh Kudus yang begitu sering kita abaikan ini ternyata begitu penting. Malah Yesus berkata bahwa masih banyak hal yang bisa dibicarakan tentang Roh Kudus, akan tetapi para murid-Nya belum bisa mengerti karena hanya jika Roh Kudus itu ada dalam diri mereka, mereka baru dapat mengerti. Tanpa Roh Kudus, mereka tidak mungkin bisa mengerti perkataan Yesus. Bahkan sewaktu Yesus berbicara di perikop ini pun, murid-murid sebenarnya tidak mengerti apa maksud perkataan Yesus. Roh Kudus baru turun di hari Pentakosta, setelah Dia mati, bangkit, dan naik ke Surga. Di zaman itu, berarti berminggu-minggu setelah kejadian ini, murid-murid baru dapat mengerti setelah mengalami kepedihan kehilangan Yesus, satu-satunya yang mereka harapkan. Kemudian betapa gembiranya mereka mendapat kejutan kebangkitan Yesus yang menampakkan diri kepada mereka, lalu kepedihan kehilangan yang kedua kali ketika melihat Yesus naik ke Surga, namun kemudian Roh Kudus turun dan membuat mereka mengerti misi Yesus di dunia, misi kerajaan Allah yang selalu Yesus beritakan, dan kehendak-Nya bagi mereka selama di dunia ini.

    Sekarang, sudah 2000 tahun sejak Roh Kudus dicurahkan bagi umat percaya. Jikalau saat ini harga yang harus kita bayar untuk mengikuti TY itu sangat mahal dan tidak masuk akal. Bahkan teroris mau mengambil nyawa kita, jika kita mengikuti Yesus, atau kita mungkin dipanggil untuk melakukan sesuatu yang tidak sesuai dengan kedagingan atau keinginan pribadi kita, kita mungkin akan mengecewakan orang-orang di sekeliling kita termasuk keluarga kita yang tidak sejalan dengan kehendak Tuhan, kita pasti akan dipanggil untuk menderita. Jangan menghindar dari bisikan Roh Kudus yang ada di dalam diri kita. Mari meninggalkan dosa, mari melihat Yesus yang membela kita dan menanggung hukuman dosa kita agar kita bisa hidup seperti Dia, mari melihat Yesus yang suatu hari nanti akan datang lagi dan menghilangkan semua penderitaan. Mari memilih untuk bergantung kepada tuntunan Roh Kudus dan tetap menjadi pengikut Yesus berapa pun harganya.

    (Khotbah Persekutuan Jumat PO Syahdan Universitas Bina Nusantara 18 Mei 2018)

  • Harga Menjadi Murid

    Harga Menjadi Murid

    Sebuah Peringatan Untuk Semua Orang

    Pada suatu hari, ada dua orang sahabat (sebut saja Bunga dan Mawar) yang sedang berbincang.

    Kata Bunga, “Aku punya dua buah berita untukmu. Yang pertama berita baik, yang satunya lagi berita buruk. Berita baiknya, kamu dapet hadiah gratis untuk berlibur ke Eropa selama 1 tahun. Tiket transportasi, akomodasi, konsumsi, semuanya ditanggung.”

    Sementara Mawar sudah begitu gembira, dia bertanya, “Lalu berita buruknya apa?”

    “Berita buruknya adalah maaf, kamu terkena kanker ganas dan sudah stadium akhir. Waktu hidupmu tinggal seminggu lagi.”

    Perbincangan yang cukup konyol bukan jika ini fiktif? Apa yang akan kita lakukan jika kita adalah teman dari Bunga dan Mawar yang sedang berada disana mendengarkan perbincangan ini? Apa yang kira-kira akan menjadi respon kita kepada kedua sahabat ini? Mungkin kita akan berkata, “Bunga, jika kamu adalah seorang sahabat yang baik untuk Mawar, bukankah seharusnya kamu tidak perlu menyampaikan berita buruk itu? Biarlah Mawar menikmati sisa hidupnya yang seminggu itu dengan perasaan tenang dan gembira. Toh, tidak ada hal yang bisa dia perbuat lagi mengenai kankernya.” atau mungkin kita akan memberikan respon demikian, “Bunga, kamu adalah sahabat yang sangat kejam. Seharusnya kamu tidak perlu menyampaikan berita baik itu dan langsung saja ke berita buruknya yang lebih penting. Mungkin Mawar dapat menggunakan sisa waktu hidup yang seminggu itu untuk melakukan hal-hal yang tidak akan dia sesali. Toh, berita baik yang kamu sampaikan tidak ada gunanya, malah memberikan harapan yang tidak akan dia capai dan sangat dia sayangkan.”

    Dari kedua solusi ini, rasanya yang mana pun sama-sama tidak baik. Tidak ada yang bisa mengubah kenyataan bahwa Mawar akan menemui ajalnya. Namun, seandainya Yesus yang menyikapi perbincangan ini, apa yang kira-kira akan dikatakan Yesus?

    Mari membaca Lukas 14:25-35.

    Pada saat itu, Yesus diikuti oleh orang banyak. Mungkin kita dapat membayangkan seorang artis yang sedang berjalan-jalan ke pemukiman penduduk. Orang banyak pasti akan berkerumun di sekeliling artis ini untuk melihat dia secara langsung, bukan di layar kaca seperti biasa, ada juga yang ingin memuaskan keinginan eksistensi-nya dengan berusaha berfoto bersama, dan lain sebagainya. Satu hal yang pasti adalah seseorang yang terkenal dan sedang berada di depan umum pasti akan berusaha semaksimal mungkin untuk menjaga image dan tidak memalukan dirinya sendiri. Istilahnya sekarang adalah pencitraan. Namun, satu hal yang sangat menarik dari perikop Firman Tuhan yang kita baca tadi, Yesus justru sebaliknya. Dia tidak berusaha menjaga image, menyampaikan sesuatu untuk mempertahankan orang-orang yang mengikuti Dia atau menambah jumlahnya.

    Yesus mengatakan hal-hal yang sulit dimengerti dan tidak enak didengar. Tidak hanya itu, Yesus menyuruh mereka memikirkan ulang keputusan mereka untuk mengikuti Yesus. Dia tidak berkata, “Wah banyak sekali orang-orang yang mengikutiku, sekarang coba masing-masing membawa satu orang entah keluarga atau tetangga-tetangga kalian. Katakan kepada mereka bahwa kita akan mendengar khotbah yang lucu dan menghibur. Kemudian kita juga akan melihat berbagai pertunjukan drama, tarian, dan sulap melipatgandakan lima roti dan dua ikan untuk makanan kita semua”. Jika Yesus berkata demikian, pasti semakin membludak orang-orang yang mengikuti dan mendengar Yesus berkhotbah. Namun, perhatikan apa yang Yesus benar-benar katakan, “Jika kalian serius untuk mengikutiku, kalian harus siap meninggalkan rumah kalian yang nyaman, keluarga yang kalian kasihi, bahkan siap untuk menderita dan mati. Kalian yang tidak siap melakukan semua hal itu lebih baik berhenti mengikutiku. Jadi, sekarang silahkan kembali ke rumah masing-masing dan pikirkan ulang apakah kalian siap untuk mengikutiku.”

    Peringatan yang Yesus katakan ini ditujukan kepada semua orang, tanpa pandang bulu. Bagi mereka yang masih sekedar penasaran tentang siapa Yesus lalu mengikuti Dia untuk mendengar khotbah-Nya atau yang mungkin sudah cukup lama mengikuti-Nya. Yesus tetap straight to the point, tidak ada embel-embel lain dalam perkataan-Nya yang keras dan membuat semua orang yang mendengar-Nya pasti merasa takut. Tuhan Yesus sebenarnya dapat berkata bahwa jika mereka mengikuti-Nya, mereka dapat mengambil bagian dalam Kerajaan Sorga dan disana tidak ada lagi penderitaan. Namun, mengapa Yesus menekankan hal-hal yang buruk terlebih dahulu?

    Aku Satu-Satunya dan Tidak Boleh Ada yang Lain

    Kata benci kepada bapa, ibu, dan saudara-saudara dalam ayat 26 adalah perkataan yang sangat sulit dimengerti, offensive, dan sangat radikal kedengarannya. Bahkan ayat ini adalah ayat yang seringkali dipertanyakan oleh orangtua saya secara pribadi. Ayat ini memang tidak dapat diartikan secara literal, akan tetapi kiasan yang hiperbola. Kata membenci yang dipakai Yesus artinya adalah kurang mengasihi. Kurang lebih kalimat ini dapat diartikan ulang demikian, “Jikalau seseorang datang kepada-Ku, dan Dia lebih mengasihi ayahnya, ibunya, saudara-saudaranya, teman-temannya, bahkan nyawanya sendiri, ia tidak dapat menjadi murid-Ku”

    Yesus menarik garis yang jelas akan hubungan antara Dia dengan para pengikutnya. Dia tidak menginginkan hubungan yang tanpa kejelasan dan status. Dia menginginkan hubungan yang jelas, ada komitmen, dan kasih di dalam-Nya, bukan hubungan yang buta, naif, dan ada maunya saja. Yesus menegaskan bahwa Dia tidak mau ada yang lain dalam hidup kita. Dia tidak mau menjadi nomor dua bahkan nomor satu. Dia tidak mau memiliki saingan entah itu sebagai nomor dua, tiga, dan seterusnya dalam hidup kita. DIA hanya ingin menjadi satu-satunya dalam hidup kita. Yesus adalah pencemburu dan itu artinya dia memang mengasihi kita. Cemburu adalah tanda cinta. Tentunya kita tidak mau pacar kita berkata kepada kita demikian, “Sayang, ijinkan aku punya pacar lagi. Kamu tenang saja, karena aku tetap akan lebih sayang sama kamu. Aku akan tetap berkencan denganmu di hari Senin sampai Sabtu, tapi cukup hari Minggu saja aku akan berkencan dengan pacar baruku.” (Kyle Idleman, Not a Fan)

    Bukankah keinginan Yesus sangat masuk akal? Tentunya kita tidak ingin berpacaran dengan orang yang mempunyai pacar lain sekalipun dia lebih menyayangi kita. Sayangnya bagi kita yang hidup di dunia ini dan zaman ini, semua hal itu menjadi tidak masuk akal. Ada orang-orang yang tidak mau terikat hubungan dalam komitmen, ada yang ingin menjadi istri kedua, ada yang tidak apa-apa menjadi selingkuhan, dan lain sebagainya. Semua hal itu menjadi sesuatu yang wajar di zaman ini. Begitu juga dengan nilai-nilai kesuksesan zaman ini yang pada umumnya adalah bekerja di tempat yang bergengsi dan bergaji tinggi, menikah sebelum usia 30, sudah punya rumah dan mobil sebelum menikah. Asal ada semuanya itu, kita baru dianggap orang. Sedangkan kita lupa bahwa kita dianggap orang seharusnya ketika kita menjadi segambar dan serupa dengan Allah, hidup sesuai dan seturut kehendak-Nya.

    Harga yang Harus Dibayar

    Saya pun harus mengakui dengan jujur bahwa tuntutan Yesus sangat tidak masuk akal. Terlalu susah dan sulit untuk memikul salib, menyangkal diri dan orang-orang di sekitar yang kita kasihi. Kata-kata ‘memikul salib’ dan ‘menyangkal diri’ ini memang sering sekali kita dengar sehingga menjadi terasa begitu klise dan tanpa makna. Namun, ketika Yesus mengatakan kata-kata ini, pastilah semua orang yang mendengarnya disana terkejut dan semakin bingung. Zaman itu salib adalah hukuman mati legal untuk para penjahat yang paling hina. Jika kita mengibaratkan dengan kondisi zaman sekarang, Yesus mungkin akan berkata, “Siapa yang tidak mau kepalanya ditodong dengan pistol, tidak akan bisa menjadi pengikutku.” Siapa yang mau hidup dengan kepala yang siap ditembak kapan saja? Namun, itulah yang akan kita hadapi jika kita ingin menjadi murid Yesus yang sejati. Pandangan Yesus menurut Alkitab memang tidak sejalan dengan apa yang dunia ini anggap masuk akal. Dosa menjadi masuk akal karena kita adalah manusia berdosa.

    Sebagai seorang Kristen, kita tahu benar bahwa hal-hal yang kita anggap lebih masuk akal dan ingin kita lakukan adalah kesalahan. Namun, ketika kita berjuang untuk tidak menuruti keinginan kita sendiri, maka itulah artinya membayar harga. Paulus sangat mengerti akan hal ini, “Sebab kita tahu, bahwa hukum taurat adalah rohani, tetapi aku bersifat daging, terjual di bawah kuasa dosa.” (Roma 7:14). Paulus juga dapat merasakan bahwa kedagingan kita lebih kental daripada keinginan mengikuti kehendak Tuhan. Akan tetapi, masalahnya adalah hal ini bertentangan dengan keinginan Yesus. Tuntutannya begitu jelas untuk melawan keinginan kita sendiri dan mengikuti keinginan Yesus.

    Siapkah Kamu Mengikut Yesus?

    Yesus mengerti bahwa tuntutan-Nya tidak mudah bagi kita, manusia berdosa. Di ayat 28-33, Yesus bahkan berkata jika tidak ingin menanggung malu dan gagal pasti seorang arsitek akan menghitung-hitung terlebih dahulu agar bangunan yang dia rancang selesai tanpa kekurangan bahan atau rubuh. Contoh lainnya, jika seorang raja tidak mau kalah berperang, pasti dia akan menghitung kekuatan dan mengatur strategi militer. Melalui kedua ilustrasi ini, sesungguhnya Yesus ingin berkata, “Pertimbangkan lah lagi harga tidak masuk akal yang harus kamu bayar itu jika mengikut Aku. Apakah kamu siap membayarnya? Jangan mempermalukan dirimu sendiri dengan menyerah di tengah perjalanan jika kamu tidak sanggup memenuhi tuntutan-Ku.”

    Sikap Yesus yang tegas dan tanpa pandang bulu menandakan bahwa dia tidak membutuhkan penggemar yang mengikuti Yesus secara fisik, namun tidak benar-benar mengikuti-Nya sebagai seorang murid. Maka, dengan berani akan saya katakan bahwa kita tidak perlu pergi beribadah ke persekutuan sekolah, kampus, gereja mengikuti Kelompok Kecil, komsel, atau KTB, begitu giat melayani, berdoa, bahkan berbicara tentang Yesus ataupun Kekristenan kepada orang-orang di sekitar kita, jikalau semua hal itu kita lakukan hanya karena mengikuti orang-orang di sekitar kita, paksaan keluarga, atau sekedar untuk eksistensi diri. Yesus tidak menginginkan orang-orang yang demikian. Yesus menginginkan pengikut yang mengerti apa yang Dia kehendaki dan dapat membuktikan kasihnya kepada Yesus. Jika tidak, hidup kita sebagai seseorang yang mengaku Kristen sebenarnya percuma saja. Seperti garam yang tidak ada rasanya. Tidak berguna sama sekali. Garam yang tidak ada rasanya tidak berbeda dari debu. Orang yang mengaku diri Kristen namun tidak benar-benar menghidupi keinginan Yesus, tidak ada gunanya dan hanya menjadi batu sandungan yang menghambat pertumbuhan rohani orang lain.

    Dia Memampukan Kita

    Ada sebuah kisah tentang seorang pemuda bernama Tommy dan keponakannya yang baru berusia lima tahun, Mia. Mia memiliki sebuah boneka yang selalu dia bawa kemana pun. Boneka itu tidak pernah lepas dari tangannya. Mia sangat menyayangi boneka ini walaupun boneka ini sudah begitu kotor dan bau karena Mia tidak pernah mengijinkan boneka ini diambil untuk dicuci oleh ibunya. Suatu ketika, Tommy yang sudah lama tidak bertemu dengan Mia, datang untuk mengunjunginya. Mia begitu senang karena paman kesayangannya datang. Saking senangnya, ia minta digendong oleh Tommy. Tentu saja sebagai paman yang baik, Tommy tidak tega menolak permintaan Mia walaupun artinya boneka kotor dan bau itu harus menempel di tubuh Tommy ketika ia menggendong Mia. Tommy begitu menyayangi Mia, sekalipun ia tidak menyukai boneka Mia.

    Ilustrasi ini menggambarkan Yesus yang merelakan diri-Nya untuk menanggung dosa kita karena Dia sangat mengasihi kita, sekalipun Dia membenci dosa kita. Untuk itu Dia rela membayar harga, meninggalkan tahta-Nya dan menjadi manusia di tempat yang hina, menderita dianiaya dan dicemooh sepanjang hidupnya, dan mati mengalami maut yang seharusnya kita tanggung akibat dosa kita. Dia telah membayar harga terlebih dahulu agar kita dapat menjadi murid-Nya. Kenyataan ini seharusnya menggugah jiwa kita untuk mau membayar harga menjadi murid karena Dia sudah terlebih dahulu memberikan kita contoh seperti apa itu membayar harga.
    Namun, jika harganya saja tidak masuk akal. Bagaimana mungkin kita dapat membayarnya? Bagaimana kita bisa menjadi murid Yesus? Seperti kata murid-murid yang gempar mendengar tuntutan Yesus di Matius 19:25, kata mereka, “Jika demikian, siapakah yang dapat diselamatkan?”

    Matius 19:26 “Yesus memandang mereka dan berkata: “Bagi manusia hal ini tidak mungkin, tetapi bagi Allah segala sesuatu mungkin.”

    Dilanjutkan ke Jalan Kemuridan

    (Khotbah Persekutuan Jumat PO Syahdan Universitas Bina Nusantara 11 Mei 2018)