Category: Sharing

  • He Leadeth Me

    He Leadeth Me

    Aku merasa bulan Februari ini kembali ada badai yang menerjang kehidupanku. Aku mencapai titik iman yang sangat rendah dimana aku mempertanyakan keadilan Tuhan dan sudah tidak mau lagi memikirkan apapun.

    Kondisi yang sangat tidak mengenakkan tentunya. Mengerjakan pekerjaan dan pelayanan tanpa perasaan. Berbicara, berkomunikasi, berelasi dengan orang lain tanpa merasakan apapun. Bahkan mendengarkan Firman Tuhan juga tidak merasakan apapun.

    Tampaknya hal ini juga mempengaruhi kesehatanku, yang akhirnya membuatku merasa mual dan sakit kepala terus menerus selama beberapa hari.

    Sangat tidak nyaman dan tidak mengenakkan berada di dalam kondisi demikian. Namun aku bersyukur, aku masih bisa menyadari kalau aku butuh Tuhan yang sanggup memperbaiki diriku dan mengangkatku dari titik yang rendah ini. Di saat itulah aku berseru kepada-Nya. Dia menjawabku melalui serangkaian acara Retret Koordinator XV yang diadakan Perkantas. Walaupun aku berada disana hanya sebagai tim kerja panitia, tapi aku mengucap syukur ketika Tuhan masih mengijinkanku menikmati disegarkan, dikuatkan, dan ditegur untuk kembali memusatkan pikiranku hanya kepada-Nya.

    Melihat begitu banyak rekan-rekan sepelayanan di kampus dulu yang sepertinya sedang dalam masa-masa down, masa-masa ingin melarikan diri dari Tuhan, mungkin juga masa-masa mempertanyakan keadilan Tuhan, maka inilah ayat yang ingin ku sharingkan dengan teman-teman.

    Mazmur 139:7-12 (TB)
    “Ke mana aku dapat pergi menjauhi roh-Mu, ke mana aku dapat lari dari hadapan-Mu?
    Jika aku mendaki ke langit, Engkau di sana; jika aku menaruh tempat tidurku di dunia orang mati, di situ pun Engkau. Jika aku terbang dengan sayap fajar, dan membuat kediaman di ujung laut,
    juga di sana tangan-Mu akan menuntun aku, dan tangan kanan-Mu memegang aku.
    Jika aku berkata: “Biarlah kegelapan saja melingkupi aku, dan terang sekelilingku menjadi malam, maka kegelapan pun tidak menggelapkan bagi-Mu, dan malam menjadi terang seperti siang; kegelapan sama seperti terang.”

    Kita tidak akan bisa melarikan diri dari Dia yang memiliki seluruh kehidupan kita. Ketika kita lelah, kita tidak kuat, justru seharusnya kita tidak memilih jalan melarikan diri, melainkan meminta Tuhan memperbaiki kondisi diri kita yang kacau, yang sudah jelas salah ketika memikirkan ingin lari.

    Kembali aku dapat menyimpulkan bahwa di taufan g’lap, juga di laut yang tenang, tetap tanganku dipegang, dan Ia mengayuh bersamaku di perahu kecil yang rentan terbalik diterjang ombak ini.

    https://www.youtube.com/watch?v=KXeCQgOlx4Q

    He leadeth me, He leadeth me
    By His own hand He leadeth me
    His faithful foll’wer I would be
    For by His hand He leadeth me

  • Winning The Life’s Battle

    Winning The Life’s Battle

    Tema di atas adalah tema SAAT Youth Camp (SYC) yang diadakan oleh SAAT (Seminari Alkitab Asia Tenggara) pada tanggal 30 Desember 2015 sampai 2 Januari 2016. Aku mendapatkan sebuah anugerah untuk mengikuti camp ini, mengingat banyak teman-temanku di PO (Persekutuan Oikoumene) Binus yang sebenarnya sangat ingin mengikuti camp ini tapi terhalang oleh keterbatasan dana.

    Winning Life’s Battle mengangkat hikmat, nasihat, dan kisah serta aplikasi yang terkandung dalam kitab-kitab puisi (Ayub, Mazmur, Amsal, Pengkhotbah, Kidung Agung) bagi kehidupan kita sebagai orang-orang yang mengalami pertempuran hidup setiap harinya. Bagiku kitab-kitab puisi adalah kitab yang jarang dibahas, baik di gereja maupun persekutuan. Dengan menuliskan sharing ini, aku harap teman-teman PO Binus, JYouth GKI JJ, dan semua pembaca blog ini juga dapat merasakan Tuhan berbicara lewat setiap kitab khususnya kitab puisi yang mungkin jarang dibahas.

      1. Opening Ceremony (OC) – Pdt. Martus Maleachi
        Eksposisi kitab Mazmur 1 bagaimana setiap manusia pada akhirnya hanya dapat mengalami kebahagiaan sejati dengan merenungkan dan melakukan firman Tuhan. Dalam OC ini juga diperkenalkan keunikan masing-masing kitab puisi:

        • Ayub: di tengah pertempuran hidup, kita belajar untuk semakin mengenal Tuhan
        • Amsal: mengajarkan kepada kita nasihat praktis dalam menghadapi pertempuran hidup sehari-hari sehingga kita dapat menjadi orang yang berhikmat dan bijaksana.
        • Mazmur: kita dapat mengutarakan apapun isi hati kita baik itu keluhan, ucapan syukur, ketakutan, dsb kepada Tuhan karena kitab ini sangat kaya akan ekspresi setiap orang-orang yang mengalami pertempuran hidup.
        • Pengkhotbah: kita belajar bahwa segala sesuatu yang berasal di luar Tuhan adalah sia-sia.
        • Kidung Agung: kita belajar mengenai kekudusan hidup, khususnya dalam hubungan romantisme.

        Bagiku secara pribadi, melalui perkenalan kitab pada OC ini aku dipersiapkan untuk semakin mendalami kitab-kitab puisi selama beberapa hari ke depan.

    1. Enjoyment Under The Sun – Pdt. Irwan Pranoto
      Segala sesuatu di dunia ini sia-sia, demikian kata Pengkhotbah 1. Tidak seorang manusia pun yang dapat menjamin keberhasilan yang abadi. Statement ini menimbulkan 2 pertanyaan menarik untuk dijawab:

      • Jikalau semuanya sia-sia, perlukah kita berjuang dan bekerja keras?
        Sebagai seorang manusia yang diciptakan Tuhan, kita diberikan grace + responsibility. Setiap karunia yang kita miliki adalah karunia Tuhan bagi kita, untuk itulah kita perlu menggunakannya secara maksimal bagi kemuliaan Tuhan.
      • Apakah jika kita mengalami keberhasilan, pasti tidak akan sia-sia?
        Di dalam Pengkhotbah 2, digambarkan keberhasilan-keberhasilan yang diperoleh Salomo (penulis kitab Pengkhotbah). Dia memiliki semua yang diinginkan manusia (pleasure, wealth, wisdom, women) tetapi kesimpulan Salomo adalah semuanya sia-sia saja di luar Tuhan (Pengkhotbah 2:24-25)

      Enjoyment under the sun adalah ucapan syukur kita atas karunia yang Tuhan berikan sehingga kita mau menggunakannya untuk kemuliaan Tuhan. Enjoyment under the sun juga adalah makna hidup yang hanya bisa ditemukan di dalam Tuhan. Hidup tanpa Tuhan hanyalah hidup yang menuju kematian dan kesia-siaan saja. Hidup duniawi yang tanpa Tuhan hanya memberikan enjoyment yang palsu, bukan yang asli.

    2. Life Under The Sun (games)
      Ini adalah sesi games outdoor. Setiap akhir games di SYC, dipaparkan makna dari games tersebut. Hal yang berkesan bagiku adalah ketika kami harus berusaha mencari solusi yang bagaimanapun kami rundingkan tetap tidak ditemukan hingga kami kehabisan waktu. Ternyata di akhir games ini, penjaga pos itu mengatakan bahwa solusinya memang tidak ada. Makna dari games itu adalah tidak semua permasalahan dalam hidup ini dapat kita temukan jawabannya. Seperti Ayub, dia tidak dapat menyelesaikan masalahnya, dia tidak dapat menemukan jawabannya, tapi hanya Allah yang sanggup memberikan jawaban atas permasalahannya.1451799821545
    3. Penyisihan ABC (Art Bible Competition)
      Bible competition di SYC tahun ini sedikit berbeda, karena kami harus menampilkan suatu performance yang berhubungan dengan kitab puisi. Kami memilih Mazmur 46:11a sebagai dasar Firman dari skit yang kami tampilkan. Ketika menulis script dari skit ini, sejujurnya itu jugalah curahan hatiku akan pergumulan berat yang saat ini kualami. Tapi ketika menampilkannya secara real setelah latihan selama 2 bulan, terasa berbeda sekali dan membuatku jadi bertanya-tanya, apakah sungguh aku mengimani Mazmur 46:11a yang kutulis di script?
    4. God is Too Wise to be Mistaken – Pdt. Kornelius Kuswanto
      Kita mungkin sering mendengar kisah Ayub dari sekolah minggu, tapi apakah kita sudah benar-benar bersimpati terhadap Ayub dalam segala penderitaannya? Ayub kehilangan semua harta dan keluarganya dalam waktu yang singkat. Ayub kehilangan kesehatannya karena penyakit kulit, sehingga dikatakan tubuhnya begitu rusak dan tidak daapt lagi dikenali oleh sahabat-sahabatnya. Awalnya tertulis bahwa Ayub tidak berbuat dosa dengan bibirnya setelah kejadian itu. Tetapi kita dapat melihat bahwa di tengah pergumulannya, dia juga dapat mencela perbuatan Tuhan bahkan 6 kali tercatat bahwa dia merasa ingin mati saja. Setiap manusia tidak peduli seberapa besar tingkat kedewasaan rohaninya, tetaplah rentan mengalami saat-saat down drastis dalam grafik kerohaniannya. Tetapi permasalahannya adalah apakah kita menyelesaikannya dengan meninggalkan iman kita atau tetap berjuang dan akhirnya bangkit lagi hingga lebih bertumbuh dari yang sebelumnya? Ayub memilih untuk bangkit, dia memutuskan untuk tetap beriman, bertobat, dan mengampuni sahabat-sahabat yang telah menghakimi Ayub.

      Pergumulan yang saat ini sedang aku alami sebenarnya tdaklah seberat yang dialami Ayub. Namun kenyataannya aku pun pernah mempertanyakan apa yang sedang diperbuat Tuhan. Bersyukur melalui firman ini, kembali ditegur dan dikuatkan melalui teladan Ayub dan sifat Allah. God is too wise to be mistaken, God is too good to be unkind. Lagu yang sering menjadi penghiburanku disaat mengalami pergumulan yang tidak aku mengerti. Just trust His heart.https://www.youtube.com/watch?v=XWk8DRwDYDc
    5. A Time to Mourn, A Time to Dance – Pdt. Hendra G. Mulia
      Segala sesuatu ada waktunya, seperti yang dinyatakan Pengkhotbah 3. Segala sesuatu itu tidak dapat dikontrol baik atau buruk. Jika suatu waktu kita mengalami kejadian-kejadian buruk yang membuat kita down dan kita menganalogikan kejadian-kejadian itu sebagai foto-foto yang kita gabung membentuk kolase, kita hanya akan melihat kolase foto yang begitu jelek. Tetapi ketika kita melihat kolase foto-foto itu dari perspektif kekekalan, kita akan melihat sebuah big picture yang sebenarnya sangat indah.
    6. Life Beyond The Sun (Walking Prayer)
      Aku lebih suka menyebut sesi ini sebagai AWG (Alone With God), karena pada sesi ini, setiap peserta harus mencari tempat yang tenang dan berdiam diri bersama Tuhan untuk merefleksikan kembali apa yang sebenarnya ingin Tuhan katakan. Begitu banyak hal yang aku rasakan dan nikmati di waktu AWG ini, aku ditegur akan dosa yang selama ini aku diamkan. Malam itu aku menangis dan memohon pengampunan Tuhan serta penyertaan-Nya dalam mengatasi masalah itu. Waktu terasa begitu cepat berlalu dan tidak terasa 2015 akan segera berakhir.
    7. It’s a New Dawn, It’s a New Day
      Malam yang begitu ramai dengan suara kembang api dan seluruh peserta yang sama-sama merayakan tahun baru 2016 di SAAT. Sembari menyanyikan lagu I am Here Because of Your Grace. Rasanya sangat terharu ketika memikirkan segala kebaikan Tuhan di tahun 2015, juga ketika mengingat bahwa aku diijinkan mengakhiri tahun 2015-ku dengan mendengar Tuhan berbicara secara pribadi kepadaku, bahwa Dia mengampuni segala dosaku dan Dia akan menyertaiku di 2016.
    8. Buy The Truth, Get Wisdom (sharing kamar)
      Senang ketika bisa sharing bersama dengan teman-teman sekamarku dan saling mendoakan. Ci Veny (pemimpin kamar kami), membawakan renungan dari Mazmur 27. Bagiku Mazmur ini sangat menghiburku di dalam pergumulan yang sedang ku alami. Terutama di ay.10 🙂
    9. The Grandeur of Love – Ev. Hendra & Eva Tanusaputra
      Sesi ini berbentuk talk show yang menjawab pertanyaan-pertanyaan anak muda dalam hal berpacaran. Aku sangat diberkati dengan kalimat yang diucapkan Ev. Eva, kita tidak mungkin meminta suatu hadiah kepada seseorang, tapi kita berkata hadiahnya harus seperti ini dan itu. Tidak etis sekali jika kita melakukannya bukan? Itu artinya, ketika kita menggumulkan pasangan hidup yang sesuai dengan kehendak Tuhan, kita harus rela melepaskan keinginan-keinginan kita untuk diserahkan kepada Tuhan.
    10. Kapita Selekta “From Addiction to Action” – Ev. Ester Tjahya
      Sesi kapsel ini membahas tentang pornografi yang kelasnya dibagi sesuai gender. Ada banyak pengetahuan baru yang kudapatkan khususnya dampak pornografi yang ternyata dapat merusak sistem kerja otak secara ilmiah. Hal-hal lainnya akan terlalu panjang jika kutuliskan disini, tapi yang pasti perempuan juga dapat kecanduan pornografi yang biasanya berbentuk fantasi, novel, atau komik. Wanita juga lebih cenderung mudah memiliki gambar diri yang rusak berkaitan dengan kecanduan pornografi, misalnya merasa guilty feeling dan malu. Teringat pernah ada seorang adik kelas perempuan yang sharing denganku tentang dengan dosa free sex di masa lalunya yang membuat dirinya saat ini merasa tidak berharga. Aku cukup menyesal ketika tidak bisa memberikan nasihat-nasihat yang membangun untuknya setelah mendengarkan hal itu. Tapi lewat sesi ini, aku diperlengkapi untuk menolong mungkin adik kelompok kecil, KTB, dsb yang bergumul dalam masalah ini. Yang terpenting juga, aku belajar untuk berhati-hati karena dosa ini dapat jatuh kepada siapa saja.
    11. Paradox of Vanity – Pdt. Benny Solihin
      Ini adalah sesi KKR dan mengajak kita untuk memandang kesia-siaan hidup dari sisi kitab Pengkhotbah pasal terakhir. (11:9-12:8). Dengan bahasa yang sangat puitis, pasal ini menggambarkan kesia-siaan yang dialami oleh Salomo yang sudah menjadi tua. Dimana dia menggambarkan rambut yang memutih dan rontok (pohon badam yang berbunga akan merontokkan semua daunnya), gigi yang copot satu per satu karena sudah tua (perempuan penggiling berkurang jumlahnya), dsb.., hingga akhirnya semua manusia akan menghadapi kematiaan. Betapa sia-sia hidup yang demikian, di detik-detik terakhir hidup seseorang biasanya yang tersisa hanyalah penyesalan. Belajar meneladani Paulus di 2 Kor.4:16 bagaimana dia menghadapi hari tua. Kiranya hidup setiap kita sebagai anak muda pun tidak dihabiskan percuma dengan tujuan hidup yang sia-sia, tapi setia mengerjakan panggilan hidup yang Tuhan berikan kepada kita untuk kemuliaan namaNya.
      Sesi ini mengingatkanku akan hutang satu pergumulan yang pernah aku doakan di masa kuliah. Sewaktu menggumulkan hal itu, komunikasi dengan Tuhan terasa begitu nyata, tapi aku tidak ingat apa yang membuatku memutuskan berhenti menggumulkannya, mungkin karena ketakutan, mungkin karena tidak lagi merasakan Tuhan menuntun, tapi malam itu aku merasa Tuhan seperti sedang mengingatkanku bahwa pergumulan itu belum selesai.Satu hal yang juga berkesan bagiku, Pdt. Benny menampilkan suatu video tentang seorang dokter muda yang mengabdikan dirinya untuk melayani di Papua hingga akhirnya dia meninggal dalam usia 27 tahun disana karena malaria. Sebenarnya ini bukanlah cerita asing bagiku, dokter muda tersebut adalah seorang aktifis PMK (Persekutuan Mahasiswa Kristen) yang berarti adalah buah pelayanan Perkantas. Hal ini membuat hatiku kembali bergejolak sebagai seorang yang saat ini sedang melayani full time di Perkantas. Betapa pentingnya kaum intelektual dimenangkan dalam Kristus.Akhirnya aku mengambil tekad untuk lebih serius menggumulkan masa depanku. Aku tidak tahu apa yang akan kulakukan setelah menyelesaikan komitmen pelayanan di Perkantas. Apakah memang Tuhan memanggilku di pergumulan pertama itu, melanjutkan pelayanan long term di Perkantas, studi lagi, atau beralih ke perusahaan sekuler? Kiranya hidupku tidak disia-siakan dengan keinginan pribadiku saja.
    12. Grand Final ABC (Art Bible Competition)
      Setelah agak sedikit pesimis karena melihat banyak kelompok lain yang menampilkan performance dengan baik, ternyata gereja kami masuk sebagai grand finalist. Tapi kami kalah di urutan terakhir, lucunya, pada babak pertama skor kelompok kami adalah yang tertinggi. Tapi endingnya justru skor kami yang terendah karena mendapat satu hadiah “bom” yang memang hanya ada 1 di kompetisi itu. Tahukah kamu insight teologis apa yang bisa ditarik dari pengalaman ini? Bahwa Tuhan berdaulat untuk mengubah keadaan dalam sekejap mata. Pengalaman yang cukup mengecewakan karena kalah, tapi lucu jika diingat, dan ternyata tetap ada yang bisa dipelajari.

    Oh ya, aku juga menikmati masa persiapan. Ketika mendengar kami lolos ke grand final, rasanya begitu semangat untuk belajar agar menang. Tapi doaku, kami tidak hanya mengisi otak dengan pengetahuan saja, tapi juga mendapat berkat rohani yang mengubah hidup. Ternyata Tuhan menjawab doaku ketika berusaha menghafal garis besar Mazmur 51-100, aku belajar dari iman Daud dalam Mazmur 54. Ketika dia begitu yakin bahwa Tuhan akan menolongnya sehingga kemudian Daud mempersembahkan korban bagi Allah walaupun pada waktu itu masalah yang dialami Daud sebenarnya belum selesai. Sungguh suatu iman yang luar biasa 🙂

    1. Life is Sweet, Let’s Celebrate – Pdt. Irwan Pranoto
      Ini adalah sesi Closing Ceremony yang mengutus kami untuk hidup dengan semangat seorang pemenang walaupun mengalami banyak kegagalan. (rasanya pas sekali mendengar firman ini, setelah kalah ABC XD). Mazmur yang berisi pertempuran hidup para penulisnya diakhiri pada Mazmur 150 yang berisi puji-pujian kepada Allah. Pdt. Irwan menceritakan sebuah pengalaman yang sangat berkesan ketika dia sedang menjenguk orang yang sedang sekarat di rumah sakit, orang ini bertanya kepadanya mengapa ada pabrik gelas kalau gelas itu diciptakan mudah pecah? Pertanyaan yang sama juga mungkin sering kita tanyakan, mengapa Tuhan menciptakan manusia yang rapuh, lemah, dan mudah mati? Gelas kaca lebih indah dari plastik. Tuhan mau memakai kita yang indah di mataNya, Dia tidak mengharapkan kita menjadi superman, tapi Dia mau kita hidup sesuai tujuan-Nya menciptakan kita.

    A Moment of Reflection for Me:
    Mungkin teman-teman bertanya-tanya pergumulan berat apa yang sedang aku alami sehingga sering aku mempertanyakan Tuhan tentang apa yang terjadi. Teman-teman dapat membaca sharingku disini. Dan sebenarnya aku merasakan grafik kerohanianku yang memang sedang meluncur turun sebelum datang ke SYC ini karena pergumulan itu.

    Rasanya bukan kebetulan aku mengikuti SYC ini, tapi Tuhan sedang berusaha kembali mengingatkanku untuk percaya pada-Nya. Ada banyak kekhawatiran yang aku rasakan dalam menjalani resolusiku di 2016, tapi kiranya aku boleh terus mengimani bahwa Kristus yang adalah Sang Gembala Agung sejati setia menuntun aku mengarungi the real life’s battlefield 2016 bahkan tahun-tahun berikutnya.

    img-20160103-wa0011

    Semoga tahun ini aku mendapatkan kesempatan lagi untuk mengikuti SAAT Youth Camp 2016 🙂

    Tak ‘ku tahu ‘kan hari esok,
    namun langkahku tegap
    Bukan surya kuharapkan,
    kar’na surya ‘kan lenyap.
    O tiada ‘ku gelisah,
    akan masa menjelang;
    ‘ku berjalan serta Yesus.
    Maka hatiku tenang.

    -PKJ 241

  • From 2015 to 2016

    From 2015 to 2016

    A Reflection of 2015

    Jikalau bisa digambarkan seperti apa hidupku di tahun 2015, maka jawabannya adalah aku seperti seorang pelaut amatiran dengan perahu kayu kecil di tengah laut badai. Terhempas ke suatu pulau misterius, kemudian berlanjut ke pulau lainnya. 2015 adalah tahun yang mengejutkan, penuh dengan teka-teki dan tentunya pengalaman iman yang luar biasa.

    Mulai dari ‘penyakit’ yang dialami oleh semua pra alumni, bagaimana masa depanku nanti? Pekerjaan apa yang ingin kutekuni? Tuhan panggil aku sebagai apa? Inilah masa berlayarku yang pertama, tiba-tiba ada ombak yang menghempaskanku ke suatu pulau.

    Tibalah aku pada suatu pulau bernama “panggilan hidup”. Disana aku bergumul akan tawaran sebagai seorang staf kantor Perkantas. Hal yang tidak pernah kubayangkan sebelumnya. Di pulau ini aku merasakan kekhawatiran akan materi, ijin orang tua, dan cita-cita yang harus dilepaskan. Ini juga adalah pengalaman imanku yang pertama begitu terasa di tahun 2015 ini. Hampir sebulan penuh, komunikasi dengan Tuhan begitu nyata, hari demi hari Ia berbicara denganku. Hingga akhirnya aku yakin dan taat pada panggilan-Nya. Begitu banyak hal di luar dugaan, tapi tetap tuntunan Tuhan masih dapat dirasakan. Aku selamat dan hatiku tenang.

    Kemudian aku pergi lagi mengarungi samudera dan lagi-lagi terhempas ke suatu pulau besar yang gelap dan menakutkan bernama “keluarga”.

    Di pulau inilah begitu banyak air mata bercucuran. Aku menemukan kesedihan, kekecewaan, kepahitan, kekesalan dan keputusasaan. Kembali ke rumah setelah terbiasa hidup di kost selama 3,5 tahun adalah sebuah hal yang sangat sulit. Bagaimana tidak? Harus terbiasa melihat kondisi keluarga yang sudah terlanjur membeku, harus bertahan tetap berintegritas dalam menjalani hidup, harus berjuang mengerjakan panggilan hidup dan pelayanan meski tidak didukung. Semuanya menyerang dan menguji iman. Sampai sekarang pun aku masih terjebak di pulau ini. Namun setidaknya ada beberapa hal yang kupelajari, yaitu:

    • Ketika aku yakin akan panggilan Tuhan dalam pekerjaanku (khususnya sebagai staf Perkantas) maupun pelayananku (sebagai penilik, PKK Alsut, dan PKTB), jangan ragu dan mundur dalam melakukan hal yang benar walaupun orang terdekat sekalipun tidak mengerti. Mencari kehendak Tuhan (bergumul) adalah urusanku dengan Tuhan, bukan dengan manusia. Untuk membuat mereka mengerti adalah bagian Tuhan.
    • Tetap berintegritas dalam memelihara perkataan dan perbuatan walaupun sangat sering dikecewakan dan merasa kesal. Sebuah ironi ketika rumah, sebuah tempat yang seharusnya memberikan kenyamanan dan keamanan, bagiku rumah justru adalah sebuah medan peperangan rohani, ujian, cobaan, dan sumber penderitaan terbesar. Mengasihi orang-orang yang sulit dikasihi dan memaafkan orang-orang yang sudah menyakiti adalah sebuah pelajaran ketaatan yang sampai sekarang masih terus aku perjuangkan.
    • Beriman dan percaya kepada-Nya di tengah keadaan yang seakan mustahil untuk diubah. Pertanyaannya, Dia yang seperti apa ada dalam hatiku? Allah yang hidup atau Allah yang mati? Apakah Dia Allah yang sanggup membuat aku berkata “Aku tenang sebab Dia Allah (Maz. 46:10)”?

    Overall, inilah laporan perjalananku mengarungi 2015. Namun tiba-tiba aku teringat salah satu saat teduh yang sangat berkesan bagiku ketika bergumul akan tawaran menjadi staf Perkantas. Di dalam perahu yang aku naiki itu, aku tidak sendiri. Melainkan Tuhan juga ada di dalam perahu yang sama denganku, Ia berjuang bersamaku, merasakan apa yang kurasakan, dan yang terpenting, Dia memegang kayuh dan tahu kemana Dia mengayuh.

    Bagi Dialah kemuliaan sampai selama-lamanya. Amin.

    A Resolution of 2016

    “Let there be peace on earth, and let it begin with me..”

    Lagu ini adalah lagu pengutusan yang dinyanyikan saat ibadah Natal Perkantas tanggal 5 Desember 2015 yang lalu. Di Natal Perkantas dan PSKJB (Perintisan Siswa Jakarta Barat) tahun ini, aku kembali diingatkan bahwa Kristus telah datang sebagai Raja Damai. Begitu juga di gerejaku (GKI Jatinegara), bagaimana diri kita dapat terus menjadi terang yang menghilangkan kegelapan di sekitar kita, karena Kristus telah datang ke dunia ini sebagai terang. Resolusiku di tahun 2016 hanya satu dan mungkin yang tersulit, biarlah kiranya teladan Kristus saja yang kulakukan, menjadi pembawa damai dan terang di tengah-tengah keluarga, orang-orang yang terkadang sangat sulit untuk dikasihi.

    But we are not all-powerful, and we are oh-so-prone to fear. So what are we to do when the storms of life rage around us? Whether they quickly blow over or last for a long time, we can be confident in this: We are in the same boat with the One whom even the winds and the sea obey. – Taken from ODB April, 28th 2015