Category: Ulasan Buku

  • The Gift of Art (part 2)

    The Gift of Art (part 2)

    Lanjutan dari Part 1

    CHAPTER 3 – THE IDOLATRY OF AARON: THE MISUSE OF ART

    Keluaran 32 menceritakan bagaimana seni melenceng dari tujuannya semula (for glory and beauty). Harun bukan hanya menyalahgunakan karunianya untuk berbicara ketika memproklamasikan allah lain yang dibuatnya, tetapi dia juga menyalahgunakan musik dan nyanyian sebgai sebuah bentuk seni yang dipersembahkan pada allah palsu.Hal ini membuktikan bahwa seni memang dapat digunakan untuk kemuliaan Allah seperti yang dilakukan Bezaleel, tapi seni juga dapat digunakan untuk membuat berhala. Berhala berarti segala bentuk pemujaan pada benda-benda yang dapat dibuat di dunia ini melebihi Sang Pencipta.

    Lalu bagaimana dengan 10 perintah Allah yang ke-2 yaitu, “Jangan membuat bagimu patung yang menyerupai apapun…”? Apakah ini artinya seniman dilarang untuk membuat karya seni pahat? Kata “apapun” yang dimaksudkan disini adalah allah-allah lain yang sering menguji iman orang Israel seperti pemujaan pada bintang, planet, dewa-dewa langit (Ul. 4:19), Baal, Asytoret, Leviathan, dsb. Hal yang seharusnya menjadi fokus utama perhatian kita sebagai seniman adalah objek yang disembah atau tujuan mengapa karya seni itu diciptakan. Disini kita perlu belajar bahwa suatu karya seni dikatakan berhala tergantung dari kegunaannya (content or meaning), bukan dari bentuknya (form). Lembu emas yang dibuat Harun tentu berbeda dari 12 ekor kerbau tembaga di 2 Tawarikh 4:4.

    Lebih mudah bagi seorang seniman dibandingkan audience untuk membedakan content dan form atau nilai aesthetic dan religious dalam sebuah objek seni. Namun seringkali seniman dituntut oleh audience untuk menghasilkan karya yang dapat disalahgunakan dan memuaskan keinginan daging saja. Harun adalah contoh yang buruk bagi para seniman. Dia adalah orang yang dipanggil dan dipakai Allah menjadi juru bicara bagi Musa bahkan juga dipercayakan menjadi seorang Imam. Tapi mengapa dia membuat patung lembu emas itu? Jawabannya sederhana, dia menyerah pada tuntutan umat. (Kel. 32:22-24). Harun menyalahkan umat ketika Musa mempertanyakan keputusannya membuat patung lembu emas. Kesalahan Harun bukanlah karena dia membuat patung itu, tapi karena dia tidak peduli dengan umat Allah, bangsa Israel yang sedang menuju kebinasaan karena tuntutan mereka yang buta.

    And Moses said to Aaron, ‘What did this people do to you that you have brought a great sin upon them? (Ex 32:21).

    Integritas Kekristenan terhadap seni saat ini sering kali dipengaruhi oleh permintaan pasar (Misalnya: pornografi, lagu-lagu yang memiliki makna tidak mendidik, dsb). Seorang seniman harus peduli dengan audience-nya agar tidak merusak dan mendatangkan dosa kepada audience lewat content seni yang salah. Seniman Kristen harus menghasilkan karya seni yang berisi nilai kebenaran Firman Tuhan. (perhatikan bahwa nilai Kristiani adalah sesuatu yang dapat diterima semua orang termasuk non-believer [misalnya nilai kasih, kejujuran, kekeluargaan, dsb], intinya nilai Kristiani tidak pernah bersifat tidak berguna).

    CHAPTER 4 – THE WORK OF BEZALEL: ART IN THE BIBLE

    Dalam pembuatan tabernakel, kita dapat melihat berbagai macam seni seperti abstrak, representasional, dan simbolik yang dapat dipakai untuk kemuliaan Allah.

    Abstract Art
    Seni abstrak disini bukanlah seperti lukisan abstrak karya Jackson Pollock, tetapi suatu karya seni yang tidak merepresentasikan apapun kecuali dirinya sendiri (misalnya: gunung, bunga, dll). Tabernakel dan bait suci adalah seni abstrak. Dalam 1 Raja-raja 7:15-22, tiang-tiang tembaga raksasa setinggi 33,5 kaki dan berdiameter 5,5 kaki ini adalah sebuah contoh dari seni abstrak. Tiang-tiang ini tidak punya fungsi secara arsitektur, tiang-tiang ini dibuat hanya karena Allah mengatakan bahwa tiang-tiang ini harus ada disana untuk keindahan, begitu juga jala-jala dan kawat-kawat berpilin (ay.17)
    Akan tetapi, tiang-tiang ini bukanlah sesuatu yang tidak punya makna. Seperti nama-nama yang diberikan pada ke-2 tiang ini, ”Yakhin” yang berarti ”Allah membangun” dan ”Boaz” yang berarti ”Dia datang dengan kekuatan”. Ke-2 tiang ini tidak merepresentasikan Allah, tapi mengilustrasikan pekerjaan Allah, yaitu bagaimana Dia membangun dan Dia datang dengan kuasa. Seni abstrak dapat merepresentasikan kuasa, kekuatan, keindahan, kemuliaan, dan makna lainnya.

    Representational Art
    Tiang Yakhin dan Boaz memiliki ukiran buah delima dan bunga bakung, kelopak kandil dari bunga badam (Kel. 33:25), “laut” tuangan dengan gambar buah labu, papan penutup kereta penopang dengan singa, lembu, dan kerub (1 Raja. 7:27-28). Jelas bahwa seni representasi juga diterima oleh Allah. Tanpa model dan pola, Allah telah menciptakan segalanya, warna, bentuk, struktur, hukum geometri, bentuk binatang berdasarkan kehendak-Nya (Wah. 4:11). Allah adalah seniman abstrak yang orisinal. Entah itu struktur atom, amoeba, bunga, tubuh manusia, molekul DNA, kita dapat menemukan kreativitas Allah dalam semua detil ciptaan-Nya (Maz. 104).

    Namun ironisnya, seringkali kita mengabaikan keindahan ciptaan Allah karena menganggapnya sebagai sesuatu yang biasa. Sehingga salah satu fungsi seni seharusnya adalah meningkatkan kesadaran kita akan keindahan ciptaan Allah. Caranya adalah dengan mengangkat objek sehari-hari, mengeluarkannya dari konteks yang mainstream untuk menunjukkan nilai dan nature sejati dari objek tersebut ke dalam karya seni. Bunga kembang sepatu adalah bunga yang biasa saya temukan dimana-mana, tapi hingga saya melihat sebuah lukisan bunga tersebut, saya baru menyadari dan menghargai keindahannya, warnanya yang cerah terang, dan teksturnya yang lembut.

    Selain objek-objek alam seperti tumbuh-tumbuhan, buah, binatang, terdapat juga objek supranatural seperti kerub di dalam desain tabernakel dan bait suci. Seni representasi sudah jelas Alkitabiah tetapi yang membedakan seni yang dibuat oleh Bezaleel dan pelanggaran 10 perintah Allah yang ke-2 adalah apa yang ingin Tuhan tunjukkan pada manusia, bukan apa yang diciptakan manusia; Allah yang dimuliakan bukan manusia yang dimuliakan.

    Symbolic Art
    Sebuah seni dapat dipuji karena keindahannya dan pesan yang disampaikannya. Kita dapat melihat contoh desain tabut perjanjian: sebuah peti kayu dengan panjang kira-kira empat kaki; lebar serta tinggi dua kaki; dan di dalamnya terdapat buli-buli emas berisi manna, tongkat Harun yang pernah bertunas, juga loh-loh batu yang bertuliskan perjanjian (Ibr. 9:4). Kemudian penutupnya yang disebut tutup pendamaian terbuat dari emas murni dan dua kerub yang saling berhadapan melihat tutup pendamaian tersebut (Kel. 25:17-21).

    Setahun sekali, pada hari raya pendamaian (Yom Kippur) akan ada seorang imam yang masuk ke dalam tempat kudus itu (tempat tabut perjanjian diletakkan) dan memercikan darah lembu jantan korban persembahan ke tutup pendamaian untuk menghapus dosa umat (Im. 16). Apa arti dari semua kerumitan ini? Jawabannya adalah Injil. Misteri keselamatan dan pendamaian antara manusia dan Allah digambarkan di dalam tabut perjanjian. Taurat Allah yang dilanggar oleh manusia, disucikan oleh darah penebusan, kerub yang memandang ke bawah dan tidak melihat taurat Allah tetapi darah yang menutupi segala dosa. Simbolis ini melambangkan Yesus Kristus yang menebus dosa dunia (Ibr. 9:11-14).

    Begitu juga dengan artifak-artifak pada Perjanjian Lama seperti laut tuangan yang ditopang oleh 12 lembu sebagai simbol baptisan, meja roti sajian sebagai lambang komuni kudus, jubah imam Harun dengan 12 batu yang bertuliskan nama ke-12 suku yang artinya tercatat di Keluaran 28:29.

    Seni memiliki kapasitas untuk mengkomunikasikan sebuah ide dengan kaya dan indah, bahkan pesan Injili. Akan tetapi simbol dalam seni juga dapat disalahgunakan, karena itu seorang Kristen harus dapat menguji apakah pesan-pesan yang terkandung di dalam sebuah objek seni itu sudah sesuai dengan Firman Tuhan?

    Seni dan Budaya
    Seni dalam 10 perintah Allah bukanlah sesuatu yang sakral. Walaupun arti dan kegunaannya sakral, tetapi seni tidak boleh dianggap terlalu sakral sehingga mampu membatasi ketidakterbatasan Allah. Salomo paham sekali akan hal ini (1 Raja. 8:27).

    Sebuah kisah lainnya tentang seniman yang pernah dicatat dalam Alkitab adalah orang Sidon. Bahkan Salomo mengakui kemampuan mereka ketika ia ingin membangun bait suci (1 Raja. 5:6). Walaupun orang Sidon bukanlah umat pilihan Allah (1 Raja. 11:5), tapi kita dapat melihat bahwa concern pertama Salomo yang ingin membangun bait suci adalah masalah kemampuan.

    Raja Tirus, orang Sidon kemudian mengirimkan Hiram / Huram Abi kepada Salomo. Hiram adalah seorang anak janda dari suku Dan (1 Raja. 7), dia pasti mengetahui tentang Allah Israel melalui ibunya. Namun, dididik dalam lingkungan Sidon yang menyembah berhala pastinya membuat Hiram lebih familiar dengan seni dan arsitektur bangunan Sidon yang sarat dengan berhala. Dicatat pula selain Hiram, Salomo melibatkan orang-orang asing dalam pekerjaan ini sebagai kuli dan mandor (2 Taw. 2:17-18). Namun menarik bahwa Tuhan senang dengan bait suci ini, tujuan bait suci ini dibangun untuk memuliakan Allah tercapai (2 Taw. 7:12-16).

    Ini merupakan suatu poin yang penting bagi seorang seniman Kristen. Walaupun ada seniman yang bukan orang Kristen, bukan berarti bahwa karyanya tidak boleh dinikmati atau dipelajari oleh seorang Kristen. Picasso memang bukanlah orang Kristen, tapi bukan berarti dia seniman yang payah dan karyanya tidak perlu dikagumi. Cara berpikir seperti itu membuat kita menganggap seni adalah sesuatu yang sakral dan seni menjadi kehilangan esensinya. Lebih tepatnya, setiap karya seni harus diamati dan dikritisi sebaik mungkin lewat kacamata Firman Tuhan.

    Seni adalah karunia dari Allah, sebuah aspek berharga dalam kehidupan manusia, dibuat oleh manusia berdosa yang butuh diselamatkan. Demi tujuan keindahan, seorang Kristen boleh pergi kepada “orang Sidon”.

  • The Gift of Art (part 1)

    The Gift of Art (part 1)

    Ketika sedang membantu seorang teman di lantai teratas sekretariat Perkantas, disitulah aku menemukan ‘harta karun’ ini terselip di antara buku-buku lainnya. Membaca kata ‘Art’ dari sekian buku-buku tua lainnya yang ada di dalam rak buku tersebut, membuatku langsung menarik buku ini dari tempatnya dan memutuskan untuk meminjam buku antik nan langka ini.

    Buku ini ditulis oleh Gene Edward Veith, Jr dan diterbitkan pada tahun 1951 oleh Intervarsity Press. Sayangnya, buku ini sudah tidak diterbitkan lagi dan sejauh aku mencarinya di toko buku import, aku tidak dapat menemukannya (if any of you found it somewhere, please let me know)

    Kiranya pemaparan topik yang jarang ditemukan di buku-buku Kristen ini dapat menolong setiap kita, khususnya orang-orang yang berprofesi sebagai seniman dalam mengerjakan panggilannya kepada Allah.

    CHAPTER 1 – ICONS, ICONOCLAST & PHILISTINES

    Seni dapat di respon dengan dua ekstrem yang salah (notice that ‘art’ in here could be sculpting, music, painting, and literature). Pertama, seni dijadikan sebagai idol atau religion (icon). Kedua, memandang seni sebagai bahaya yang mengancam kita jatuh dalam penyembahan berhala sehingga kita menjadi seorang anti seni atau tidak terbuka dengan seni modern (iconoclast). Masalah yang lain lagi adalah terkadang seorang Kristen yang berkarya dalam bidang seni tidak mendapat dukungan dari sesama orang Kristen lainnya (inilah yang disebut sebagai Christian Philistinism)

    “If Christian artists must express their faith only
    in old fashioned modes, it implies to their audiences and peers that
    Christianity is an outmoded religion, with nothing to say to the needs
    and imagination of the modern conditions.”

    Sebagai seniman Kristen, kita menghadapi berbagai dilema dan banyak pertanyaan. Apakah sebuah karya seni dapat sekaligus bersifat kontemporer dan rohani? Apakah seni dapat merupakan vokasi bagi Kristen yang rindu untuk melayani Allah? Apa kata Alkitab tentang seni? Untuk memperdebatkan hal ini, mungkin tidak akan ada akhirnya. Akan tetapi seniman Kristen mempunyai Firman Tuhan yang berotoritas tinggi. Walaupun subjek utama dari Alkitab adalah sejarah dan rencana keselamatan umat manusia, tetapi Alkitab juga adalah panduan dari segala aspek kehidupan manusia termasuk di dalamnya seni.

    So, what was the bible say about art?

    CHAPTER 2 – THE GIFT OF BEZALEL: THE BIBLE AND THE VOCATION OF AN ARTIST

    Adalah namanya Bezaleel, anak dari Uri yang ceritanya tidak terlalu dikenal. Namanya muncul di dalam kitab Keluaran 31:1-11 sebagai seseorang yang diberikan talenta dan dipanggil menjadi seniman bagi Allah. Dari kisah ini kita dapat belajar 3 prinsip alkitabiah tentang seni.

    1. Seni merupakan kehendak Allah.
      The tabernacle, designed to glorify God and to instruct his people, was to involve ‘artistic designs’.
      Pernahkah kamu merasa bosan ketika membaca kitab Taurat Musa khususnya Keluaran 26-28 dan 30? Honestly, saya pernah ketika harus membaca detil-detil pembangunan kemah suci seperti panjang, lebar, bahan, berapa banyak kaitan emas untuk menyambung tenda satu sama lain, dsb. Saya merasa detil-detil itu tidak terlalu penting untuk dicatat. Akan tetapi Allah mengijinkan semua detil itu dicatat dalam Alkitab oleh Musa. Allah, sang designer dan pencipta seluruh alam semesta ini menganggap detil-detil dari sebuah design, arsitektur, dan artifak seni adalah hal yang sangat bernilai.
      “you shall make holy garments for Aaron your brother, for glory and for beauty” (Ex 28:2)
      Allah harus dimuliakan, hanya yang terbaik yang harus dipersembahkan umat kepada-Nya. Selain untuk kemuliaan Allah, pakaian Harun juga harus dibuat untuk keindahan (for beauty).
    1. Seni adalah sebuah vokasi.
      Alkitab juga menunjukkan bahwa bakat artistik adalah karunia Allah (Keluaran 36:2). Karunia ini bukanlah sesuatu yang muncul begitu saja dan diberikan kepada orang-orang yang tidak dapat mengerjakan apapun yang tiba-tiba saja menjadi ahli seni. Bezaleel adalah seorang craftsman yang sangat berbakat bahkan sebelum dia mendapatkan panggilan yang mulia itu. Mungkin dia dulu adalah seorang budak Mesir yang bertugas membuat seni ukir atau pahatan kuno Mesir. Allah berbicara kepada Musa bahwa Dia sudah memberikan semua karunia itu untuk Bezaleel (“I have called… I have filled… I have given to all able men ability – Ex 31:2-6). Lalu tugas Musa adalah memberitahu Bezaleel apa yang harus dilakukannya yaitu dipanggil khusus untuk membuat tabernakel.
      “See, the LORD has called by name Bezalel the son of Uri, son of Hur, of the tribe of Judah” – Ex 35:30
      Seni adalah vokasi dari Allah. Kata “vokasi” (vocatio) berarti “panggilan”. Kita seringkali berpikir bahwa panggilan berarti kegiatan pelayanan atau pekerjaan misi, tapi sebenarnya di dalam pekerjaan sekuler seperti seni, kita juga dapat menemukan vokasi dari Allah untuk melayani Dia dan orang lain. Alkitab mencatat dengan jelas bahwa Allah memanggil Bezaleel untuk bekerja membuat tabernakel. Panggilan ini bukanlah panggilan umum yang diberikan kepada semua orang, tapi ini adalah panggilan spesifik kepada seseorang yang namanya dipanggil oleh Allah. Seseorang yang dipanggil Allah menjadi seorang artist.
    1. Seni adalah sebuah karunia.
      “He has filled him with the Spirit of God” – Ex 35:31
      Bezaleel adalah orang pertama yang dicatat dalam Alkitab yang dipenuhi oleh Roh Kudus. Berdasarkan PB (Perjanjian Baru, Roh Kudus diberikan kepada semua orang Kristen (Gal. 5:22-33, Ef.  5:9). Seseorang yang dipenuhi Roh Kudus artinya Bezaleel adalah seorang yang beriman, memiliki hubungan yang intim dengan Allah, mengenal dengan dalam siapa Allah, dan berserah sepenuhnya pada kehendak Allah. Seorang seniman Kristen tidak bisa tidak menjadikan relasinya dengan Allah sebagai prioritas utama.
      “He has filled him…. with ability.” – Ex 35:31
      Hal kedua yang diberikan kepada Bezaleel adalah talenta. Tidak semua orang dapat menggambar, mengukir, membuat ouisi, bernyanyi, dsb. Semua itu adalah pemberian Tuhan.
      “He has filled him…. with intelligence.” – Ex 35:21
      Seseorang mungkin memiliki talenta seni, tetapi itu saja tidak cukup untuk menghasilkan karya terbaik bagi Allah. Bezaleel diberikan akal budi untuk memperhitungkan secara matematis, mengerti konsep dalam melukis, dsb.
      “He has filled him…. with knowledge.” – Ex 35:21
      Jika intelligence berhubungan dengan pemahaman konsep tentang seni, maka knowledge berhubungan dengan pengetahuan-pengetahuan umum seperti pengetahuan akan texture suatu benda, bahan-bahan pahat, bagaimana cara mengolah bahan-bahan tambang, dsb. Ini merupakan suatu bukti bahwa Alkitab menganggap seorang seniman yang baik adalah mereka yang belajar dan terus belajar, bahkan juga mempelajari hal di luar seni itu sendiri. Mereka terbuka dengan ilmu pengetahuan, tertarik mempelajari sejarah, tradisi, bahkan geografi, antopologi, politik, dan mempelajari karya orang lain. Sebagai seniman Kristen, pengetahuan terpenting kita adalah Alkitab, jangan sampai kita menjadi sombong karena pengetahuan yang kita miliki (1 Kor. 8:1) . Tentunya kita juga harus bijak dalam memilah pengetahuan mana yang baik dan jahat (Rom. 16:19). Itu berarti atas dasar pengetahuan, kita tidak boleh mencoba hal-hal yang sebenarnya bertentangan dengan kehendak Allah.
      “He has filled him with…. all craftsmanship.” – Ex 35:21
      Seorang seniman harus menguasai teknik misalnya dalam bidang pahatan atau lukisan, dsb. Dalam hal ini, manusia menempati posisi seperti pada Mazmur 8:6. Bukan kuasa tirani atau eksploitasi atas sumber daya alam, tapi melalui usaha dan kepedulian dari sang artist untuk membuat suatu karya sesuai dengan kehendak-Nya. Seperti analogi yang sering digunakan dalam Alkitab, tanah liat dan penjunannya yang melambangkan relasi antara Allah dan ciptaannya (Yes. 64:8, Yer. 18:6, Rom. 9:21).

    Lanjut ke Part 2

  • Jadilah Pemimpin Demi Kristus

    Jadilah Pemimpin Demi Kristus

    Penulis: Sen Sendjaya, Ph.d

    Saat ini, banyak pemimpin-pemimpin dunia yang secara tidak disadari, telah menerapkan konsep-konsep kepemimpinan yang biblical dengan lebih baik daripada pemimpin-pemimpin Kristen. Hal ini merupakan suatu ironi karena seharusnya pemimpin-pemimpin Kristen yang memberikan teladan, tapi justru malah pemimpin-pemimpin dunia yang menjadi teladan. Saya bersyukur dapat membaca buku ini, karena sebagai seseorang yang saat ini sedang menjalani panggilan sebagai seorang pemimpin, saya dapat kembali merefleksikan apakah saya saat ini telah menjadi pemimpin yang dikehendaki Allah. Dari sekian banyak hal yang dapat dipelajari dari buku ini, setidaknya ada 3 hal yang menegur dan menjadi bahan refleksi saya ketika membaca buku ini:

    • Kelemahan: Kualifikasi Eksklusif Kepemimpinan Kristen
      Jika kita dapat menyebutkan karakter-karakter kepemimpinan Kristen yang diterapkan oleh pemimpin dunia, kita memang akan menyebutkan hal-hal umum yang dibawakan dalam acara-acara pelatihan, seminar, training, buku, dsb. Karakter-karakter itu adalah visioner, berintegritas, rendah hati, melayani, akuntabel, tidak mudah putus asa dan mau belajar. Lalu apa yang membuat pemimpin Kristen berbeda? Ada kualifikasi eksklusif yang dimiliki oleh seorang pemimpin Kristen, yaitu kelemahan. Pemimpin Kristen adalah seorang yang rela dipimpin ke tempat yang ia tidak ingin tuju, ke tempat yang ia tidak inginkan, ke tempat yang penuh air mata dan penderitaan (Yoh. 21:18). Jalan pemimpin Kristen berakhir pada salib. Namun ada sesuatu tentang salib yang kontradiktif dengan harapan manusia. Bagaimana mungkin Juruselamat manusia mati di atas kayu salib? Bahkan Paulus menulis bahwa salib adalah sebuah kebodohan bagi manusia dan untuk memberitakan berita kebodohan tersebut, Allah memilih yang bodoh, yang lemah, yang tidak terpandang, yang hina dan yang tidak berarti bagi dunia (1 Kor. 1:27-28). Yang dimaksudkan Paulus adalah bahwa kuasa Allah hanya bekerja di dalam orang-orang yang mengakui kelemahannya, bukan orang-orang yang merasa diri pandai, kuat, dan hebat. Sehingga seorang pemimpin Kristen harus menyadari bahwa tak ada satu kualifikasi pun yang ia miliki yang dapat ia banggakan di hadapan Allah.
    • Penyimpangan Otoritas Pemimpin: Anarki dan Tirani
      Ada 2 macam otoritas di dunia ini, yang pertama adalah otoritas intrinsik yaitu otoritas yang dimiliki karena nature dari pemiliknya, otoritas ini hanya dimiliki oleh Allah. Yang kedua adalah otoritas turunan yaitu otoritas yang didelegasikan dari Allah (Rom. 13:1 misalnya orang tua, pemerintah, pemimpin gereja, majikan). Mungkin kita seringkali bingung, Alkitab mengajarkan bahwa kita harus tunduk pada orang tua dan pemerintah, tapi bagaimana apabila mereka meminta kita melakukan hal yang tidak sesuai dengan kebenaran Alkitab? Memang penolakan terhadap otoritas turunan adalah hal yang serius di hadapan Allah (anarki) tetapi kita harus berkhikmat dalam hal ketaatan pada otoritas turunan karena mereka jugalah manusia yang bisa salah. Kita bisa melihat contoh dua orang bidan di Mesir, Sifra dan Pua yang tidak taat pada Firaun (Kel. 1:16-17), mereka takut akan Allah sehingga mereka tidak taat pada Firaun. Ketaatan kita terhadap otoritas turunan tidak boleh melebihi ketaatan kita pada otoritas Allah, karena Allah memberikan otoritas turunan kepada para pemimpin agar mereka dapat melayani. Yesus Kristus memiliki seluruh otoritas di Sorga dan di bumi untuk melayani manusia berdosa. Ironinya, kebanyakan pemimpin menyelewengkan otoritas tersebut (tirani). Sehingga di dalam pengambilan keputusan sebagai seorang pemimpin, kita perlu belajar dari Kisah Para Rasul 15:28, pemimpin-pemimpin harus berdiskusi mencari kehendak Allah dan diakhiri dengan kebulatan hati sebagai berikut, “Adalah keputusan Roh Kudus dan keputusan kami.”
    • Seni Menegur
      Ada 3 hal yang seringkali menjadi alasan mengapa kita segan menegur orang lain:
      – Buktikan dulu bahwa kita lebih baik daripada orang tersebut.
      – Mereka yang lebih tinggi kedudukannya tidak boleh dikritik.
      – Kita tidak boleh menghakimi orang lain.
      Pemimpin butuh orang-orang kritis yang peduli dengannya. Saling menegur dapat membentuk komunitas umat Allah yang sehat dan bertumbuh. Namun karena ketiga alasan diatas seringkali kita menjadi sulit menegur atau mengkritik pemimpin, padahal pemimpin tetaplah manusia yang bisa salah dan butuh kritik atau teguran yang dapat membangun dirinya. Mari kita belajar untuk mengubah cara pandang kita:
      • Menegur pemimpin adalah bukti kasih kita kepadanya. Pemimpin punya kelemahan dan resiko untuk jatuh ke dalam jurang dosa, tidak menegurnya berarti membiarkan dia jatuh dan mengabaikan tanggung jawab moral yang Allah berikan sebagai saudara seiman.
      • Tujuan menegur bukan untuk mengutuk pemimpin atau membeberkan kesalahannya melainkan untuk merestorasi pemimpin semakin efektif dalam hidup dan pelayanannya.
      • Setiap teguran yang kita lontarkan harus didahului dengan 3 hal: fakta, firman Tuhan dan pergumulan doa. Teguran yang positif juga disertai dengan tetesan air mata dan hati yang berat. Kalau salah satu dari elemen-elemen tersebut tidak ada, sebaiknya batalkan niat untuk menegur. Yang tidak pernah menegur perlu berdoa meminta hikmat, kepekaan, dan keberanian dari Allah. Yang terlalu sering menegur perlu berdoa juga meminta pengontrolan diri dan pengampunan Allah.

    Saya sangat menyarankan teman-teman khususnya yang sedang menjalani panggilan sebagai seorang pemimpin atau pun yang akan menjalaninya nanti untuk membaca buku ini. Kiranya setiap kita dapat semakin diperlengkapi menjadi seorang pemimpin yang dikehendaki Allah.