Tag: Relationship with God

  • Wasiat Kepada Pelayan Kristus

    Wasiat Kepada Pelayan Kristus

    Bayangkan Anda sebentar lagi akan meninggal dunia, kira-kira apa yang ingin Anda katakan kepada pasangan, anak, dan cucu Anda? Biasanya kata-kata atau nasihat terakhir atau wasiat yang biasa kita sebut, isinya adalah sesuatu yang sangat penting untuk didengar. Karena seseorang yang akan pergi, hanya punya satu kesempatan itu saja untuk berbicara terakhir kalinya.

    Apa isi nasihat terakhir Paulus sebelum dia pergi meninggalkan jemaat Efesus? Inilah yang akan kita bahas dalam Kisah Para Rasul 20:17-35. Saya menyusunnya dalam bentuk narasi dialog sehari-hari dengan memposisikan pembaca sebagai para penatua jemaat Efesus.


    Narator:

    “Ya, Bapak-bapak dan Ibu-ibu penatua jemaat Efesus, saat ini, saya sebagai utusan dari Bapak Paulus ingin mengajak kita semua untuk pergi ke suatu kota bernama Miletus. Karena Bapak kita yang terkasih, Paulus memiliki suatu hal yang sangat ingin ia sampaikan kepada kalian sebelum ia pergi melanjutkan perjalanan misinya. Mari kita sambut dia, Paulus.”

    Paulus:

    “Shalom saudara-saudaraku yang terkasih, sebelumnya aku meminta maaf kepada kalian semua karena aku tidak sempat pergi ke kota Efesus, kota tempat tinggal kalian, sampai-sampai kalian yang harus datang jauh-jauh kemari. Saat ini aku sebenarnya sedang terburu-buru pergi ke Yerusalem, karena aku harus sampai disana di hari Pentakosta (sekitar 30 hari lagi dimulai dari sekarang, hari raya paskah – ay.6). Sebenarnya bisa saja aku ke Efesus mengunjungi kalian langsung, tapi aku tidak yakin aku akan keluar dengan mudah mengingat banyak orang-orang yang membenciku disana. Jadi mohon maaf sekali lagi kalau jadi merepotkan kalian, karena memang saat ini ada hal yang sangat penting aku sampaikan kepada kalian sebelum aku pergi.

    (17-19)

    Saudara-saudaraku, aku bersyukur ketika aku bisa bertemu dan melayani kalian semua. Kalian masih ingat kah dengan kedatanganku ke Asia, ketika pertama kali aku menginjakkan kakiku ke Efesus sekitar 3 tahun yang lalu. Aku baru mengalami suatu masalah di Korintus dan lalu pergi ke Efesus (Kis. 18). Disitulah aku bertemu kalian semua, aku teringat bagaimana aku mengajari kalian di Efesus bersama kedua sahabatku Priskila dan Akwila, aku ingat juga kebersamaan kita, sampai-sampai waktu itu kalian tidak tidak mengijinkanku untuk pergi ke Kaisarea. Lalu momen-momen ketika aku mengajari kalian di ruang kuliah Tiranus selama 2 tahun, lalu peristiwa dengan anak-anak Skewa, Demetrius, dan demo di gedung kesenian Efesus hingga akhirnya aku pergi ke Makedonia. (Kis. 19)

    (19-21)

    Tidak terasa sudah 3 tahun aku mengenal kalian dan sudah beberapa bulan ini kita tidak bertemu. Ada begitu banyak air mata, penderitaan, dan berkali-kali lolos dari pencobaan pembunuhan oleh orang-orang Yahudi yang tidak suka padaku. Itulah yang kulalui selama 3 tahun ini demi melayani kalian. Aku bersyukur bisa melihat buah dari pelayananku, yaitu orang-orang percaya seperti kalian dan jemaat lainnya di Efesus yang tidak bisa datang kemari, sesudah aku mengajarkan baik-baik kebenaran Injil Kristus, di tempat-tempat umum, ruang kuliah Tiranus, maupun di persekutuan rumahan.

    (22-23)

    Tapi sebentar aku akan pergi ke Yerusalem. Aku sadar ada visi yang sangat jelas bahwa Roh Kudus menuntun ku kesana. Jujur sebagai manusia, rasa khawatir pasti ada. Aku tidak tahu apa yang akan terjadi disana pada diriku selain hal-hal yang biasa aku alami seperti aniaya dan penjara. Tapi mungkin saja aku mengalami apa yang Kristus alami di Yerusalem, perjalanan terakhir-Nya. Mungkin saja Yerusalem juga adalah kota terakhir yang kunjungi. It means, kita tidak akan bisa bertemu lagi.

    (24)

    Aku khawatir dan takut, tapi aku tidak peduli dengan nyawaku dan dengan apa yang akan terjadi pada masa depanku, karena aku ingin mengakhiri hidupku dengan baik. Aku tidak ingin hidupku diakhiri dengan sia-sia saja. Kerinduanku adalah aku bisa mati di tengah mengerjakan tugas yang Tuhan berikan padaku, yaitu mengabarkan Injil. Cukup itu saja keinginanku.

    (25-27)

    Karena itulah mungkin di Yerusalem, aku akan mati dibunuh dan tidak bisa lagi keep in touch dengan kalian, mengajari kalian, dan menguatkan iman kalian di Efesus. Tapi aku berani mendeklarasikan bahwa hari ini hutangku kepada Efesus, kota yang penuh dengan berhala itu sudah lunas kubayar dengan ajaran-ajaranku selama 3 tahun ini dan dengan kehadiran kalian sebagai buktinya, para penilik, orang-orang yang Tuhan percayakan tugas untuk menggembalakan jemaat Efesus. Ya mungkin memang tidak semua orang di kota Efesus sudah bertobat, tapi aku sudah berjuang untuk memberitakan Injil kepada mereka walaupun mereka menolak.

    (28-30)

    Selanjutnya aku serahkan kepada kalian, jagalah kawanan domba, jemaat Efesus yang seharga dengan nyawa Kristus itu sendiri. Mereka dipercayakan oleh Allah kepada kalian. Aku peringatkan, jaga mereka baik-baik! Karena aku tahu, aku melihat dengan yakin dari penyataan Roh Kudus, bahwa setelah aku pergi akan ada orang-orang yang berusaha menyesatkan kalian dengan ajaran-ajaran palsu. Bahkan di antara kalian sendiri akan ada yang menyesatkan jemaat-jemaat lainnya.

    (31-32)

    Kalau saat ini, kalian mungkin merasa diri kalian fine. Tidak ada masalah, kalian adalah orang percaya yang taat, tapi siapa yang tahu? Mungkin nanti kalian akan terpengaruh oleh ajaran sesat yang lebih menggiurkan daripada harus menderita mengikuti Kristus? Mungkin kalian tidak tahan dengan penderitaan ini dan akhirnya memutuskan untuk meninggalkan iman? Who knows? Karena itu ingatlah aku sudah mencucurkan air mataku dan bertahan di dalam penderitaan selama 3 tahun lamanya demi melayani kalian. Bahkan aku siap mati di Yerusalem asalkan aku bisa mati di tengah tugasku sebagai pelayan Kristus. Jangan sekali-sekali meninggalkan imanmu! Sebenarnya dengan sangat berat hati aku harus meninggalkan kalian, tetapi aku percaya bahwa Allah yang mengutus aku pergi, maka Dia juga berkuasa membangun jemaat di Efesus dan memberi kalian anugerah keselamatan itu bagi kalian yang percaya dan bertahan hingga akhir.

    (33-34)

    Aku harap kalian juga belajar dari aku, contohlah aku yang tidak mengharapkan materi, kekayaan, emas, perak, pakaian dari siapapun juga dalam pelayananku. Di tengah kesibukan pelayanan, aku bekerja sebagai pembuat tenda untuk menghidupi diriku secara mandiri, bahkan aku juga membiayai keperluan teman-teman sepelayananku. Bukan semuanya untuk diriku.

    (35)

    Lewat sharing pengalaman hidup dan nasihat-nasihat terakhir ini, aku harap kalian semua bisa melayani dengan tulus hati tanpa mengharapkan persembahan kasih dalam pelayanan kalian para penilik, bermurah hati kepada jemaat maupun orang belum percaya yang butuh pertolongan kita, dan melayani Tuhan dengan giat seperti kerinduan yang sudah ku sharing-kan kepada kalian. Yesus sendiri pernah mengatakannya, “Adalah lebih berbahagia memberi dari pada menerima.”


    Berakhirlah narasi tersebut di sini. Kira-kira apakah yang bisa kita pelajari dari narasi ini? Renungkanlah: WASIAT

    1. Wafat demi Kristus

    Seorang pengkhotbah pernah berkata, “Kita tidak akan mampu menyerahkan hidup kita kepada Tuhan sepenuhnya jikalau kita belum rela mati bagi-Nya.” Jika memikirkan baik-baik kalimat ini, rasanya radikal sekali tetapi juga masuk akal sekali. Bagaimana mungkin kita bisa menyerahkan hidup kita kepada Tuhan jikalau untuk melepaskannya saja kita tidak mau? Tidak usah terburu-buru sampai menyerahkan hidup jika untuk waktu, uang, dan kenyamanan hidup saja tidak mau kita lepaskan. Saya terkesan dengan Paulus yang begitu rindu untuk mati di tengah-tengah mengerjakan tugas mulia yaitu mengabarkan Injil. Ketika melayani Tuhan, apakah kita juga adalah orang-orang yang mau mati-matian, tidak peduli dengan materi, kuasa, prestise bahkan nyawa kita sendiri seperti Paulus?  Are you ready to die for Christ?

    1. Astaga! Tenyata aku punya hutang!

    Akronim kali ini kelihatannya agak memaksa. Tapi inilah yang seringkali saya ucapkan ketika baru teringat bahwa saya pernah berhutang pada orang lain dan belum lunas. Seringkali kita lupa pernah berhutang kepada orang lain, tapi berbeda dengan Paulus. Paulus tahu benar bahwa dirinya berhutang kepada semua orang. Hutang apakah itu? Hutang untuk mengabarkan Injil (Rom.1:14). Apakah kita juga sadar bahwa sebagai seseorang yang sudah menikmati kasih Allah, kita pun juga adalah orang yang berhutang kepada mereka yang belum merasakannya?

    1. Selalu Taat

    Beranikah kita tetap taat pada panggilan Allah walaupun, masa depan kita masih blur jika kita taat? Panggilan Allah tidak selalu clear, seperti Abraham yang Allah panggil ke tempat yang dia sendiri tidak tahu ada dimana dan seperti apa (Ibr.11:8). Leap of faith di dalam game Assassin’s Creed adalah sebuah mini objective dengan melompat dari tower yang sangat tinggi tanpa perlindungan apapun yang dipakai dan mendarat di dasar (entah di tumpukan jerami, air, atau apapun itu). Di dalam hidup kita, terkadang kita pun juga harus belajar melakukan leap of faith, khususnya saat Tuhan memanggil kita tanpa kita tahu akan seperti apa masa depan kita. Tapi kita bisa percaya bahwa God is too wise to be mistaken, God is too good to be unkind.

    1. Ingat Mereka

    Kisah Alkitab bukanlah isapan jempol belaka, Stefanus, dan rasul-rasul lainnya adalah tokoh-tokoh nyata yang mati demi Injil. Setelah mereka pun, darah kaum martir terus tercurah menyirami jalan salib sehingga kita dapat mendengarkan berita Injil. Orang-orang di sekitar kita, guru sekolah minggu yang dengan sabar mengajar kita waktu kecil, pendeta dan mungkin pemimpin kelompok kecil kita juga adalah orang-orang yang berkorban agar kita dapat dilayani dan menjadi murid yang sejati. Apakah kita mengingat mereka yang berjuang demi melayani kita? Mereka yang mengucurkan darah (para martir), keringat, mengalami penolakan oleh orang-orang terdekat, kehilangan, dan miskin karena melayani kita. Kiranya mereka selalu memotivasi kita dalam mengerjakan pelayanan ini. (Ibr.13:7)

    1. Ancurkan ego mu

    Satu lagi akronim yang terkesan maksa demi terbentuknya kata WASIAT. But it’s okay. So… Kita dapat membaca dari narasi bahwa Paulus tidak selfish bekerja untuk memperkaya diri sendiri (Fil. 4:11-13), dia juga tidak mau membebankan orang lain untuk mencukupi kebutuhan hidup Paulus selama dia melayani tanpa imbalan (1 Tes. 2:9). Tidak hanya itu, Paulus juga memikirkan kebutuhan teman-teman sepelayanannya di tengah kekurangannya. Apakah kita sudah peduli satu sama lain dengan teman-teman sepelayanan kita yang kesusahan? Bersatulah untuk saling membangun dengan menjadi orang-orang yang selfless (bukan selfish).

    1. Teladan yang Hidup

    “Menjadi sombong itu alami, menjadi rendah hati perlu perjuangan keras.”, kata seorang pengkhotbah yang saya kagumi. Tapi saya tetap saja tidak tahan berlama-lama dengan seseorang yang menunjukkan kesombongannya dengan terang-terangan melalui perkataannya. Apalagi jika kita tahu bahwa apa yang dikatakannya tidak sesuai dengan kenyataannya. Melihat Paulus yang begitu berani berkata, tirulah aku, contohlah aku (Fil. 4:9), Paulus bukan sedang membual dan menyombongkan diri, tapi memang yang dia katakan adalah kenyataannya. Kiranya ketika kita juga sedang menuntun dan mengajari orang-orang yang kita gembalakan, itu semua bukan hanya sebatas pemuasan eksistensi diri saja, tapi mereka juga boleh melihat bahwa apa yang kita ajarkan itu sudah sesuai dengan kesaksian hidup kita juga.

    Radikal? Memang, coba saja lihat mereka yang disebut Kristen dalam Alkitab memanglah murid-murid yang radikal. Mati demi Kristus? Ew, rasanya berat sekali pembahasannya, penuh dengan penderitaan, dan mudah diucapkan di mulut tapi belum tentu siap jika harus melakukannya sekarang juga. Tapi ingatlah juga bahwa Allah ada untuk kita dan menyertai kita mengerjakan WASIAT ini.

    “Suffering is unbearable if you are not certain that God is for you and with you.” – Tim Keller


    (Ditulis saat mempersiapkan sharing Firman Persekutuan Doa Kantor Perkantas Jakarta tanggal 10 Juni 2016)

  • Kisah Kasih Seekor Ibu Kecoak

    Kisah Kasih Seekor Ibu Kecoak

    Kecoak, siapa yang tidak benci dengan serangga kotor dan bau ini? Bagiku, kecoak adalah binatang yang menjijikkan. Bagi sebagian orang, kecoak adalah binatang yang mengerikan dan ditakuti. Intinya kecoak adalah seekor binatang yang hanya membawa kerugian dan dihindari oleh semua orang! Akan tetapi, ternyata kecoak dapat memberikan sebuah pengalaman yang menarik (setidaknya untukku secara pribadi).

    Sudah tiga hari ini aku disambut oleh seekor kecoak yang berkeriapan di wastafel di dalam kamarku. Di hari pertama, kecoak itu lolos ketika aku berusaha memanggil papaku untuk membunuh kecoak itu. Entah kemana kecoak itu lari, aku curiga ada suatu lubang di belakang wastafel yang menjadi tempat persembunyian kecoak tersebut karena ketika wastafel itu disemprot dengan baygon pun, kecoak tersebut tidak keluar.

    Di hari kedua, ketika membuka pintu kamar sepulang kerja, lagi-lagi aku disambut oleh kecoak itu di tempat yang sama. Tetapi lagi-lagi kecoak itu berhasil kabur. Namun ada sesuatu yang berbeda ketika aku melihat ke dalam wastafel itu, ternyata ada bayi-bayi kecoak yang berkeriapan. Tanpa ragu, aku pun membuka keran wastafel agar bayi-bayi kecoak itu masuk ke dalam saluran pembuangan. Walaupun dalam hati aku berpikir kasihan juga, mungkin bayi-bayi kecoak ini adalah anak-anak dari si kecoak yang berhasil kabur itu.

    Di hari ketiga, aku kaget melihat kecoak tersebut berada di dalam wastafel. Tapi dia tidak lari lagi seperti biasanya. Apa yang dia lakukan disana? Ternyata dengan bodohnya, dia berusaha memasuki lubang saluran wastafel padahal jelas tidak akan muat karena lubang-lubang wastafel itu sangat kecil. Tapi dia berusaha dan terus berusaha, hingga akhirnya aku berhasil memanggil papaku untuk membunuh kecoak tersebut.

    Sebenarnya aku tidak tahu apakah binatang seperti kecoak memiliki naluri yang sama dengan binatang-binatang seperti anjing, kucing, dsb untuk melindungi dan menyayangi anak-anaknya. Semua cerita di atas adalah kejadian nyata di wastafel kamarku dengan sedikit bumbu imajinasiku yang membayangkan kisah ibu kecoak dan anak-anaknya. Tetapi aku melihat bahwa cerita ini dapat menjadi suatu ilustrasi yang baik untuk menggambarkan kasih.

    Kasih adalah tidak peduli melakukan hal sebodoh apapun demi memberikan kasih kepada yang dikasihi.
    Kasih adalah rela berkorban bahkan ketika nyawa taruhannya.
    Kasih adalah kerinduan melihat yang dikasihi itu aman dan bahagia.

    Ketika kembali melihat diriku sebagai manusia berdosa yang tidak akan pernah mampu menyelamatkan diriku sendiri dari hukuman maut, disitulah ada sebuah bukti nyata Kasih Sejati. Di mata dunia, Dia dianggap bodoh karena rela mengurbankan nyawa-Nya sendiri demi menyelamatkan orang-orang yang masih akan terus mengecewakan Dia, tetapi Dia tetap rindu melihat mereka selamat dan bahagia di dalam tangan-Nya yang melindungi.

    Akhir dari keluarga kecoak itu memang tragis, tetapi bersyukur akhir dari manusia tidaklah tragis.

  • Annie J. Flint – “He Giveth More Grace”

    Annie J. Flint – “He Giveth More Grace”

    Lagu ini saya kenal pertama kali melalui Persekutuan Doa Staf Perkantas. Ketika pertama kali mendengarnya, lagu ini langsung memberikan kesan tersendiri karena liriknya yang dalam dan indah. Kemudian pada suatu kesempatan melayani sebagai MC, saya memutuskan untuk menyanyikan lagu ini. Namun, ada sesuatu yang tiba-tiba membuat saya merasa ada yang aneh di dalam liriknya, “To added affliction He addeth His mercy” (terjemahan bebas: “Untuk memberi penderitaan, Dia menambahkan rahmat-Nya”). Kalimat ini membuat saya bertanya-tanya, apakah maksudnya penderitaan itu berasal dari Allah?

    Penasaran, saya mencari tahu latar belakang penulisan lagu ini. Ternyata lagu ini ditulis oleh seorang wanita bernama Annie Johnson Flint (1866-1932). Annie adalah seseorang yang menjalani hidupnya penuh dengan rasa sakit dan penderitaan. Dia lahir di New Jersey dan pada umur 5 tahun dia harus kehilangan ke-2 orang tuanya. Kemudian Annie dan adiknya melewati masa-masa menyedihkan dengan dititipkan kepada seorang janda miskin beranak dua. Sayangnya, dia tidak menyukai kehadiran Annie dan adiknya.

    Hidup Annie berubah, ketika dia dan adiknya diadopsi oleh keluarga Flint yang tidak memiliki anak. Keluarga Flint sangat mencintai Tuhan dan juga anak-anak yang baru diadopsinya. Disitulah Annie mengenal Kristus dan menjadi orang percaya. Annie kemudian tumbuh besar dan menjadi seorang guru. Akan tetapi, ‘nasib buruk’ kembali menghampirinya. Dia terserang penyakit Artritis (radang sendi) yang membuatnya sulit untuk berjalan. Dia pergi ke New York dengan harapan akan pulih, tetapi justru keadaannya malah bertambah parah hingga dia tidak dapat berjalan lagi. Akhirnya dia harus melepaskan cita-citanya sebagai seorang pianis dan hidup dengan rasa sakit pada tangan dan kakinya. Hidupnya semakin menyedihkan ketika kedua orang tua angkatnya meninggal dalam waktu yang berdekatan. Annie pun dirawat di Sanitarium (tempat rehabilitasi) dalam kondisi berduka, melarat (tabungan kelurga yang ditinggalkan tidaklah banyak untuk biaya pengobatan Annie), dan tekanan mental dimana hidupnya harus bergantung pada orang lain terutama adiknya.

    Untungnya, Annie adalah seorang Kristen yang tetap setia dan taat di tengah penderitaan. Annie masih tetap melayani Tuhan dengan mulai menulis puisi dan hymn dengan jari-jari yang cacat dan persendian yang bengkak karena penyakitnya ini. Harapannya, lewat penderitaan hidup yang dialaminya ini, orang-orang lain dapat dikuatkan melalui puisi dan hymn ciptaannya. Hanya itu yang bisa dipersembahkannya bagi Tuhan. Namun, hidupnya tetap tidak bebas dari masalah. Ketika dia tidak sanggup membayar biaya dokter dan perawat, ketika imannya dikritisi dan dipertanyakan oleh orang-orang di sekelilingnya, dan lain sebagainya. Apakah itu membuat iman Annie mundur? Tentu saja tidak. Justru dia semakin yakin bahwa Allah mengijinkan semua yang dialami Annie agar melalui dirinya yang lemah, nama Allah dapat terus dimuliakan. Ada kalanya dia berdoa seperti Paulus agar ‘duri dalam daging’ ini dapat lepas. Dan, Annie pun akhirnya juga dapat mengerti bahwa kasih karunia Allah cukup baginya (2 Kor. 12:9).

    Selama lebih dari 40 tahun, rasanya sulit sekali menemukan 1 hari dimana Annie tidak menderita. Apalagi ketika dia berumur 37 tahun, semua sendinya sudah kaku dan luar biasa sakit ketika dia bergerak ataupun menulis. Walaupun lumpuh, Annie tidak menganggap dirinya tidak berdaya dan tidak mampu melakukan apapun. Dia tetap yakin bahwa Tuhan menciptakannya dengan sebuah tujuan dan talenta agar Annie dapat mengerjakan kehendakNya. Kata-kata terakhir di detik kematiannya adalah “I have nothing to say, it’s alright” (“Tidak ada yang ingin saya ucapkan, semua baik-baik saja”).

    Source: http://preceptaustin.org/annie_johnson_flint’s_biography.htm

    Pada akhirnya, saya menemukan jawaban atas kebingungan saya di awal. Tuhan tidak menciptakan penderitaan karena penderitaan adalah akibat yang muncul dari dosa manusia, akan tetapi Dia mengijinkan penderitaan dialami oleh umatNya. Kehidupan Annie mungkin adalah sebuah tanda tanya besar bagi orang-orang Kristen. Mengapa orang yang baik seperti dia justru mengalami penderitaan yang begitu berat? Sejatinya, bukankah orang fasik yang seharusnya menderita? Semua pertanyaan itu muncul dikarenakan kita sebagai manusia tidak dapat melihat suatu cerita seutuhnya. Kita hanya dapat melihat sepotong demi sepotong dari sebuah big picture kehidupan kita–yang sebenarnya Tuhan lukis dengan indah. Mungkin Annie maupun orang-orang di sekitarnya tidak mengetahui, bahwa puisi dan hymn yang ditulis oleh Annie telah memberkati begitu banyak orang hingga saat ini. Dia telah dipakai secara luar biasa oleh Allah. Satu hal yang dapat kita yakini adalah Allah, Sang Penjunan Sejati, tidak pernah membuat suatu kesalahan apapun ketika Dia membentuk tanah liat yang ada di tangan-Nya. Semua tanah liat yang dibentuknya adalah alat kasih karunia yang dipersiapkan untuk digunakan oleh Allah.

    He Giveth More Grace

    1. He giveth more grace when the burdens grow greater,
      (Anugerah-Nya cukup ketika beban bertambah berat)
      He sendeth more strength when the labors increase;
      (Dia memberikan kekuatan seiring pekerja bertambah)
      To added affliction He addeth His mercy;
      (Ketika penderitaan diijinkan, Dia memberi rahmat-Nya)
      To multiplied trials, He multiplied peace.
      (Ketika pencobaan dijinkan, Dia memberi kedamaian)
    2. When we have exhausted our store of endurance,
      (Ketika kita sudah tidak sanggup lagi)
      When our strength has failed ere the day is half done,
      (Ketika kekuatan kita sudah habis sedangkan masih ada setengah jalan lagi)
      When we reach the end of our hoarded resources,
      (Ketika kita sampai pada akhir dari kekuatan kita)
      Our Father’s full giving is only begun.
      (Anugerah dan kasih karunia Allah baru saja mulai kita rasakan)
    3. Fear not that thy need shall exceed His provision,
      (Jangan khawatir bahwa Tuhan tidak akan mencukupkan apa yang kita butuhkan)
      Our God ever yearns His resources to share;
      (Tuhan bahkan rindu memberikan kekuatan-Nya)
      Lean hard on the arm everlasting, availing;
      (Bergantunglah kuat pada lengan-Nya)
      The Father both thee and thy load will upbear.
      (Bebanmu akan diangkat-Nya)

    Chorus:
    His love has no limit; His grace has no measure.
    (Kasih-Nya tidak terbatas, anugerah-Nya tidak terukur)
    His pow’r has no boundary known unto men;
    (Kekuatan-Nya tidak terbatas bagi manusia)
    For out of His infinite riches in Jesus,
    (Di tengah ketidakterbatasan kekayaan kasih karunia-Nya melalui Yesus)
    He giveth, and giveth, and giveth again!
    (Dia terus mencurahkan anugerah-Nya)

    https://www.youtube.com/watch?v=o63If7p-Z6E

    “Would any of you be willing to go through such pain and suffering just to be able to write poems and hymns like that?” – Rev. Dr. Ravi Zacharias