Tag: Servant’s Life

  • Grace Unplugged (2013)

    Grace Unplugged (2013)

    Grace Trey adalah seorang gadis muda yang lahir di keluarga Kristen yang taat, ia mewarisi talenta menyanyi dan bermusik dari ayahnya yang seorang mantan penyanyi terkenal. Mereka berdua melayani bersama di gereja sebagai Worship Leader dan pemusik, namun sayang Grace ternyata tidak memahami arti dari sebuah anugerah pelayanan walaupun ia sudah lama melayani di gerejanya. Grace terlibat pertengkaran dengan ayahnya karena kesombongan Grace dan akhirnya Grace lari dari rumah setelah mendapatkan sebuah tawaran menjadi penyanyi terkenal dari salah seorang kerabat lama ayahnya. Film ini selanjutnya menceritakan tentang perjuangan iman Grace di dunia selebritis yang penuh dengan hal-hal yang dapat mempengaruhinya untuk semakin menjauh dari Allah.

    Ada beberapa hal yang saya nikmati dari film ini, yaitu:

      • Terkadang Allah mengijinkan anak-Nya yang tidak taat untuk berjalan sesuka hati-Nya seperti anak bungsu yang lari dari rumah setelah mengambil warisan ayahnya, karena Allah ingin menunjukkan bahwa terkadang kehendak kita bukanlah hal yang terbaik bagi hidup kita.
      • Ketika kita rindu untuk mengenal Allah, maka di dalam anugrah-Nya Ia akan membuat kita semakin mengenalNya. Matius 6:33 (TB) “Tetapi carilah dahulu Kerajaan Allah dan kebenarannya , maka semuanya itu akan ditambahkan kepadamu.”.
      • Mungkin kita mengimani bahwa rencana Allah selalu yang terbaik dalam hidup kita, tetapi percaya pada rencana Allah memerlukan penyerahan diri secara total kepada-Nya. Kita harus mau menyangkali segala keinginan kita, memikul salib yang harus dipikul, dan mempertaruhkan masa depan kita hanya di dalam tangan-Nya. Itu bukanlah hal yang mudah.
      • Setiap talenta yang kita miliki adalah pemberian Allah semata, karena itu kita harus menggunakannya sesuai dengan kehendak dan rencana-Nya untuk kemuliaan nama-Nya.

    “God may not be using you in Grace’s life right now.  But He is in control.  We must trust Him to be faithful.” – Grace’s Mom

  • Jadilah Pemimpin Demi Kristus

    Jadilah Pemimpin Demi Kristus

    Penulis: Sen Sendjaya, Ph.d

    Saat ini, banyak pemimpin-pemimpin dunia yang secara tidak disadari, telah menerapkan konsep-konsep kepemimpinan yang biblical dengan lebih baik daripada pemimpin-pemimpin Kristen. Hal ini merupakan suatu ironi karena seharusnya pemimpin-pemimpin Kristen yang memberikan teladan, tapi justru malah pemimpin-pemimpin dunia yang menjadi teladan. Saya bersyukur dapat membaca buku ini, karena sebagai seseorang yang saat ini sedang menjalani panggilan sebagai seorang pemimpin, saya dapat kembali merefleksikan apakah saya saat ini telah menjadi pemimpin yang dikehendaki Allah. Dari sekian banyak hal yang dapat dipelajari dari buku ini, setidaknya ada 3 hal yang menegur dan menjadi bahan refleksi saya ketika membaca buku ini:

    • Kelemahan: Kualifikasi Eksklusif Kepemimpinan Kristen
      Jika kita dapat menyebutkan karakter-karakter kepemimpinan Kristen yang diterapkan oleh pemimpin dunia, kita memang akan menyebutkan hal-hal umum yang dibawakan dalam acara-acara pelatihan, seminar, training, buku, dsb. Karakter-karakter itu adalah visioner, berintegritas, rendah hati, melayani, akuntabel, tidak mudah putus asa dan mau belajar. Lalu apa yang membuat pemimpin Kristen berbeda? Ada kualifikasi eksklusif yang dimiliki oleh seorang pemimpin Kristen, yaitu kelemahan. Pemimpin Kristen adalah seorang yang rela dipimpin ke tempat yang ia tidak ingin tuju, ke tempat yang ia tidak inginkan, ke tempat yang penuh air mata dan penderitaan (Yoh. 21:18). Jalan pemimpin Kristen berakhir pada salib. Namun ada sesuatu tentang salib yang kontradiktif dengan harapan manusia. Bagaimana mungkin Juruselamat manusia mati di atas kayu salib? Bahkan Paulus menulis bahwa salib adalah sebuah kebodohan bagi manusia dan untuk memberitakan berita kebodohan tersebut, Allah memilih yang bodoh, yang lemah, yang tidak terpandang, yang hina dan yang tidak berarti bagi dunia (1 Kor. 1:27-28). Yang dimaksudkan Paulus adalah bahwa kuasa Allah hanya bekerja di dalam orang-orang yang mengakui kelemahannya, bukan orang-orang yang merasa diri pandai, kuat, dan hebat. Sehingga seorang pemimpin Kristen harus menyadari bahwa tak ada satu kualifikasi pun yang ia miliki yang dapat ia banggakan di hadapan Allah.
    • Penyimpangan Otoritas Pemimpin: Anarki dan Tirani
      Ada 2 macam otoritas di dunia ini, yang pertama adalah otoritas intrinsik yaitu otoritas yang dimiliki karena nature dari pemiliknya, otoritas ini hanya dimiliki oleh Allah. Yang kedua adalah otoritas turunan yaitu otoritas yang didelegasikan dari Allah (Rom. 13:1 misalnya orang tua, pemerintah, pemimpin gereja, majikan). Mungkin kita seringkali bingung, Alkitab mengajarkan bahwa kita harus tunduk pada orang tua dan pemerintah, tapi bagaimana apabila mereka meminta kita melakukan hal yang tidak sesuai dengan kebenaran Alkitab? Memang penolakan terhadap otoritas turunan adalah hal yang serius di hadapan Allah (anarki) tetapi kita harus berkhikmat dalam hal ketaatan pada otoritas turunan karena mereka jugalah manusia yang bisa salah. Kita bisa melihat contoh dua orang bidan di Mesir, Sifra dan Pua yang tidak taat pada Firaun (Kel. 1:16-17), mereka takut akan Allah sehingga mereka tidak taat pada Firaun. Ketaatan kita terhadap otoritas turunan tidak boleh melebihi ketaatan kita pada otoritas Allah, karena Allah memberikan otoritas turunan kepada para pemimpin agar mereka dapat melayani. Yesus Kristus memiliki seluruh otoritas di Sorga dan di bumi untuk melayani manusia berdosa. Ironinya, kebanyakan pemimpin menyelewengkan otoritas tersebut (tirani). Sehingga di dalam pengambilan keputusan sebagai seorang pemimpin, kita perlu belajar dari Kisah Para Rasul 15:28, pemimpin-pemimpin harus berdiskusi mencari kehendak Allah dan diakhiri dengan kebulatan hati sebagai berikut, “Adalah keputusan Roh Kudus dan keputusan kami.”
    • Seni Menegur
      Ada 3 hal yang seringkali menjadi alasan mengapa kita segan menegur orang lain:
      – Buktikan dulu bahwa kita lebih baik daripada orang tersebut.
      – Mereka yang lebih tinggi kedudukannya tidak boleh dikritik.
      – Kita tidak boleh menghakimi orang lain.
      Pemimpin butuh orang-orang kritis yang peduli dengannya. Saling menegur dapat membentuk komunitas umat Allah yang sehat dan bertumbuh. Namun karena ketiga alasan diatas seringkali kita menjadi sulit menegur atau mengkritik pemimpin, padahal pemimpin tetaplah manusia yang bisa salah dan butuh kritik atau teguran yang dapat membangun dirinya. Mari kita belajar untuk mengubah cara pandang kita:
      • Menegur pemimpin adalah bukti kasih kita kepadanya. Pemimpin punya kelemahan dan resiko untuk jatuh ke dalam jurang dosa, tidak menegurnya berarti membiarkan dia jatuh dan mengabaikan tanggung jawab moral yang Allah berikan sebagai saudara seiman.
      • Tujuan menegur bukan untuk mengutuk pemimpin atau membeberkan kesalahannya melainkan untuk merestorasi pemimpin semakin efektif dalam hidup dan pelayanannya.
      • Setiap teguran yang kita lontarkan harus didahului dengan 3 hal: fakta, firman Tuhan dan pergumulan doa. Teguran yang positif juga disertai dengan tetesan air mata dan hati yang berat. Kalau salah satu dari elemen-elemen tersebut tidak ada, sebaiknya batalkan niat untuk menegur. Yang tidak pernah menegur perlu berdoa meminta hikmat, kepekaan, dan keberanian dari Allah. Yang terlalu sering menegur perlu berdoa juga meminta pengontrolan diri dan pengampunan Allah.

    Saya sangat menyarankan teman-teman khususnya yang sedang menjalani panggilan sebagai seorang pemimpin atau pun yang akan menjalaninya nanti untuk membaca buku ini. Kiranya setiap kita dapat semakin diperlengkapi menjadi seorang pemimpin yang dikehendaki Allah.

  • To Love at All is to be Vulnerable

    To Love at All is to be Vulnerable

    Ini merupakan sebuah pengalaman rohaniku bersama Tuhan. Suatu pengalaman yang tidak akan kulupakan 🙂

    Minggu-minggu ini merupakan hari-hari yang sangat sulit untuk aku lewati. Setiap hari bangun dengan kekhawatiran dan kepanikkan. Bagaimana tidak, uang bulanan ku untuk hidup di kost sudah habis untuk keperluan pelayanan di kampus bulan ini yang sangat banyak dan tabungan ku sudah tidak bersisa, aku harus bertahan hidup dengan uang yang tidak seberapa selama sisa bulan ini.

    Matius 6:26 “Pandanglah burung-burung di langit, yang tidak menabur dan tidak menuai dan tidak mengumpulkan bekal dalam lumbung, namun diberi makan oleh Bapamu yang di sorga. Bukankah kamu jauh melebihi burung-burung itu?”

    Ayat di atas merupakan salah satu kekuatan yang diberikan-Nya bagiku. Tanggal 20 September kemarin adalah hari dimana Persekutuan Mahasiswa Kristen Bina Nusantara (PO BINUS) mengadaan ibadah rutin. Di dalam ibadah tersebut dibahas mengenai kekhawatiran, 1 ilustrasi yang sangat aku nikmati adalah terkadang kita seperti seorang anak kecil yang berkata kepada ibunya “Mama, aku khawatir kalau aku hari ini tidak dapat makan.” atau “Aku takut ma, seandainya besok aku tidak dapat pergi ke sekolah karena tidak ada yang mengantar aku pergi atau aku tidak punya seragam untuk dipakai ke sekolah.”. Bukankah sudah jelas ibunya pasti akan menyediakan semua kebutuhan anaknya? Sehingga apa yang di khawatirkan oleh anaknya sebenarnya sia-sia saja. Allah pun juga tidak mungkin membiarkan kita sendiri, burung-burung saja Allah pelihara, terlebih kita yang telah diselamatkan dengan tebusan nyawa-Nya.

    Matius 7:7 “Mintalah, maka akan diberikan kepadamu; carilah, maka kamu akan mendapat; ketoklah, maka pintu akan dibukakan bagimu.”

    Akhirnya hari-hari terlewati dengan sukacita, namun ternyata lagi-lagi aku jatuh dalam kekhawatiran. Ketika uang semakin lama semakin menipis, sehingga akhirnya sekali lagi aku harus bangun pagi dengan perasaan khawatir lagi. Ketika bangun, yang ada di benakku adalah, apakah hari ini aku masih bisa makan? Namun lagi-lagi Ia memberikan aku kekuatan, dalam ibadah minggu di gereja aku kembali diingatkan untuk tidak khawatir. Orang tua akan selalu mengharapkan yang terbaik untuk anaknya, apalagi Allah bukan? Dia pun tidak akan memberikan “batu” kepada yang minta “roti” atau memberikan “ular” pada yang meminta “ikan”. Dia yang begitu mengasihi kita sampai rela menderita atas penebusan dosa kita, masakan Dia tidak peduli pada kita mengenai hal-hal seperti ini? YWalaupun ayat di atas sering dipakai secara sembarangan oleh penganut teologi kemakmuran, tapi dalam commentary-nya, Calvin, salah seorang Bapak Reformasi pun mengatakan bahwa kita hanya perlu meminta saja.

    Filipi 4:6
    “Janganlah hendaknya kamu kuatir tentang apapun juga, tetapi nyatakanlah dalam segala hal keinginanmu kepada Allah dalam doa dan permohonan dengan ucapan syukur.”

    Aku sangat menikmati setiap alur ibadah pada malam itu. Lalu beberapa hari aku lewati dengan damai sejahtera, tapi dengan kondisi keuangan yang semakin menipis lagi, aku akhirnya sekali lagi jatuh dalam kekhawatiran. Kali ini aku bangun pagi dari tidurku dengan penuh beban pikiran sambil bertanya apakah hari ini dan besok aku bisa makan? Selama beberapa hari aku hampir tidak makan sama sekali untuk menghemat, hingga akhirnya aku merenungkan menjadi seorang pengikut Kristus tidaklah mudah, melayani bukanlah pekerjaan yang digaji, apalagi pelayanan mahasiswa di kampus. Tapi, aku bersyukur, walaupun sudah 3 kali aku jatuh dalam kekhawatiran, Allah tidak pernah lelah untuk memberiku kekuatan.

    Ibrani 12:2 “Marilah kita melakukannya dengan mata yang tertuju kepada Yesus, yang memimpin kita dalam iman, dan yang membawa iman kita itu kepada kesempurnaan, yang dengan mengabaikan kehinaan tekun memikul salib ganti sukacita yang disediakan bagi Dia, yang sekarang duduk di sebelah kanan takhta Allah.”

    C.S. Lewis pernah mengatakan, “To love at all is to be vulnerable”. Artinya mencintai berarti mengijinkan dirimu untuk merasakan sakit dan kesedihan. Aku pernah mengalaminya dan sangat setuju ketika akhirnya ada beberapa orang yang menutup diri dan tidak mau mencintai lagi karena trauma akan rasa sakit dan kesedihan yang mungkin bisa terulang. Namun apakah dengan menutup diri dapat memperbaiki hati dan jiwa kita yang pernah hancur?

    Seorang ibu ketika sedang mengandung, mengalami rasa sakit, tidak nyaman, mual, dan berbagai macam hal yang tidak mengenakkan. Tapi mereka selalu sabar dan melakukannya dengan tetap bersuka cita, karena mereka tahu pada akhirnya mereka dapat bertemu dengan buah hati yang sangat mereka tunggu-tunggu dan kasihi. Allah pun mengalaminya ketika Ia harus menanggung penderitaan, penyiksaan terkeji di sepanjang zaman bahkan kematian, tapi Ia tahu bahwa ketika semuanya telah usai, kita semua, kau dan aku akan diselamatkan dan dapat menikmati perjumpaan dengan-Nya di kerajaan Surga nanti.

    Ketika yang kita lalui pun bukan jalan yang mulus melainkan penuh batu demi mengikuti Kristus, mengapa kita tidak mencoba merenungkan kembali akan kasih-Nya? Ia pernah melalui jalan tersebut lebih dulu daripada kita dan Ia melaluinya karena tahu di ujung jalan tersebut ada perjumpaan yang sangat Ia rindukan dengan setiap kita. Bukankah kita pun juga seharusnya bersukacita karena di ujung jalan berbatu ini, kita juga dapat bertemu dengan-Nya?

    Kasih kepada Kristus menuntut kita untuk berani merasa sakit karena memberikan hidup kita untuk melakukan apa yang tidak kita inginkan. Mengikuti Kristus memang penuh pengorbanan, harta, waktu, tenaga, bahkan mungkin ditolak oleh orang-orang yang kita kasihi. Namun semuanya itu tidak sebanding ketika kita dapat bertemu dengan-Nya di ujung jalan yang penuh pengorbanan ini. Melayani Tuhan mungkin memang tidak bisa membuat kita kaya raya, bahkan kita akan “merasa” kekurangan, tapi lewat pengalaman ini aku belajar bahwa sekalipun “merasa” lapar, Ia tidak akan membiarkan kita kelaparan.

    Yohanes 14:3
    “Dan apabila Aku telah pergi ke situ dan telah menyediakan tempat bagimu, Aku akan datang kembali dan membawa kamu ke tempat-Ku, supaya di tempat di mana Aku berada, kamupun berada.”