Tag: Servant’s Life

  • An Unchanged Love

    An Unchanged Love

    Sebagian dari kita sudah seringkali mendengar tentang kejadian-kejadian ajaib yang pernah dialami oleh tokoh-tokoh Alkitab. Bahkan mungkin kita sudah mendengarnya sejak masih sekolah Minggu. Betapa besar kebaikan dan kasih setia Tuhan, juga betapa jelas penyertaan-Nya bagi mereka yang taat kepada-Nya, semua telah diceritakan dalam Alkitab. Sayangnya kita seringkali tidak pernah memikirkan bahwa hal-hal yang sama juga bisa terjadi dalam kehidupan kita. Kita berpikir, “Kan zaman sekarang dan zaman dulu beda?”  Zaman memang berubah, tapi apakah itu artinya kasih setia dan penyertaan Tuhan dari ribuan tahun yang lalu juga berubah kepada orang-orang masa kini?

    Setelah apa yang pernah saya alami di masa-masa kuliah. Saya belajar untuk menggumulkan panggilan hidup yang Tuhan berikan kepada saya. Setelah lulus dari perguruan tinggi favorit dengan nilai yang cukup baik. Saya pun mengirimkan lamaran-lamaran pekerjaan ke beberapa creative agency yang ingin saya masuki. Saya pikir inilah panggilan hidup yang Tuhan tetapkan bagi saya, sama seperti kebanyakan orang yang saya kenal, memaksimalkan talenta yang Tuhan berikan dalam pekerjaan saya, menjadi saksi dan berkat bagi co-workers dan client saya, serta melayani di Gereja baik itu lewat tenaga maupun uang yang akan saya persembahkan.

    Nyatanya saya menjalani beberapa panggilan interview, tapi sudah satu setengah bulan saya masih menganggur semenjak saya mulai mengirimkan lamaran-lamaran pekerjaan tersebut. Belum lagi ditambah tekanan dari orangtua yang terus bertanya kapan saya bisa mulai bekerja, hal itu membuat saya cukup lelah dan tidak mau lagi memikirkan apapun selain bekerja. Tapi ternyata di tengah semua itu, Tuhan sedang menuntun saya ke jalan yang sebenarnya tidak pernah saya pikirkan atau doakan sebelumnya. Di tengah perjalanan interview, saya dihubungi oleh seorang kakak staf Perkantas yang saya kenal sering diundang menjadi pembicara di persekutuan kampus saya. Dia meminta saya untuk mendoakan panggilan menjadi seorang staf kantor Perkantas.

    Perkantas (Persekutuan Kristen Antar Universitas), mungkin hanya sedikit orang yang pernah mendengar nama itu. Perkantas adalah lembaga misi Kristen yang membina persekutuan siswa dan mahasiswa Kristen di sekolah maupun kampus-kampus. Saya mengenal Perkantas melalui Pelayanan Mahasiswa Kristen Bina Nusantara karena kami sering meminta staf Perkantas untuk berkhotbah di persekutuan kampus kami.

    Jelas saya tidak pernah memikirkan hal ini sebelumnya. Bekerja di Perkantas? Apalagi staf kantor? Reaksi ketika mendengar hal itu:

    1. Masa sih saya jadi staf Perkantas? Sepertinya saya tidak layak, 1 kantor bersama dengan para hamba Tuhan yang biasa berkhotbah di kampus saya. Selain itu saya tidak punya bayangan sama sekali seperti apa itu staf kantor di Perkantas.
    2. Tumbuh besar di tengah keluarga yang selalu menanamkan dengan kuat nilai “kesuksesan hidup” secara materi, maka orangtua pasti tidak setuju. Tidak mungkin saya bekerja disana.
    3. Karena yayasan non-profit, itu artinya gaji saya tidak mungkin sebesar di perusahaan. Lagipula dibanding creative agency, pasti jatuh sekali prestise-nya. Malu donk dengan teman-teman dan keluarga.

    Awalnya saya tidak mau mendoakan sama sekali dan ingin langsung menolak saja. Tapi saya teringat dengan bagian Firman Tuhan yang pernah saya dalami di kampus, yaitu tentang Yunus yang melarikan diri dari panggilannya. Saya takut saya menjadi seperti Yunus yang tidak mau sama sekali mendoakan panggilan Tuhan dan bahkan melarikan diri hanya karena tidak suka. Akhirnya saya memutuskan untuk mendoakannya. Ternyata selama 2 minggu, Firman Tuhan sangat jelas berbicara kepada saya melalui saat teduh tiap hari maupun khotbah-khotbah di gereja dan persekutuan alumni, agar tidak khawatir sebab Tuhan akan menyertai hidup saya.

    Setelah saya renungkan, ternyata beberapa bulan sebelum saya lulus, Tuhan sudah mempersiapkan saya melalui acara HUT ke 150 OMF. Disana kerinduan untuk terus melayani kaum muda khususnya pelayanan mahasiswa sudah ada, jikalau kita tidak menjangkau kaum muda di kampus atau sekolah, dimana lagi kita dapat menjangkau mereka? Kita hanya bisa menemukan mereka di kampus atau sekolah dan di mall atau tempat dimana mereka bisa mencari hiburan. Mereka tidak mau datang ke gereja. Karena itulah saya menyadari bahwa pelayanan siswa dan mahasiswa sangatlah penting. Tapi saya masih tidak terpikir untuk menjadi staf pada waktu itu. Saya hanya berpikir untuk mendampingi adik-adik pengurus di Binus sebagai penilik sambil bekerja di creative agency dan menjadi berkat disana.

    Staf kantor Perkantas jugalah bagian dari pelayanan kepada kaum muda dari Perkantas. Dalam hati saya tahu hal ini, bahwa setiap bagian pelayanan Perkantas baik itu staf lapangan, staf kantor, maupun pengurus-pengurus komponen, saling bersinergi menuju visi yang sama yaitu kaum muda yang dimuridkan. Walaupun pada waktu itu saya belum terlalu paham dengan detil bahwa staf kantor lah yang mendukung pelayanan para staf lapangan sehingga pelayanan kepada siswa dan mahasiswa semakin efektif. Jadi secara tidak langsung pelayanan staf kantor Perkantas juga adalah pelayanan kaum muda.

    Firman Tuhan yang membuat saya ‘agak’ diteguhkan waktu itu adalah mengenai kehidupan orang percaya yang diibaratkan mengayuh di sebuah perahu tanpa menyadari bahwa ada Kristus yang sedang mengayuh bersama. Namun, ketakutan saya kepada orangtua mengalahkan segala keyakinan saya. Saya berdoa meminta Tuhan benar-benar menunjukkan satu konfirmasi lagi untuk meyakinkan saya dan memberanikan saya menghadapi orangtua.

    Akhirnya saya yakin Tuhan memanggil saya menjadi staf lewat Ibrani 13:5-8

    Ibrani 13:5-8 (TB)  “Janganlah kamu menjadi hamba uang dan cukupkanlah dirimu dengan apa yang ada padamu. Karena Allah telah berfirman: “Aku sekali-kali tidak akan membiarkan engkau dan Aku sekali-kali tidak akan meninggalkan engkau.” Sebab itu dengan yakin kita dapat berkata: “Tuhan adalah Penolongku. Aku tidak akan takut. Apakah yang dapat dilakukan manusia terhadap aku?” Ingatlah akan pemimpin-pemimpin kamu, yang telah menyampaikan firman Allah kepadamu. Perhatikanlah akhir hidup mereka dan contohlah iman mereka. Yesus Kristus tetap sama, baik kemarin maupun hari ini dan sampai selama-lamanya.”

    Saya tidak bisa berkata apa-apa lagi. Seakan semua ketakutan saya dijawab oleh Tuhan. Namun satu hal yang saya yakini adalah Tuhan akan menyertai saya dalam menghadapi orangtua. Kasih-Nya tidak pernah berubah, sama seperti masa-masa ketika saya bergumul menjadi MC KKR Natal Binus sementara saya masih harus menyelesaikan skripsi. Tapi terbukti bahwa Tuhan memegang janji-Nya pada waktu itu, skripsi saya tidak terbengkalai dan saya bisa mendapat nilai yang baik ketika sidang skripsi. Juga pada saat saya hampir mengulang satu mata kuliah karena nilai UTS yang sangat anjlok (pada waktu itu saya melayani sebagai panitia pengarah KPR Paskah Binus di h-1 UTS tersebut), tapi nyatanya saya bisa mendapat nilai akhir yang baik bahkan melebihi ekspektasi saya. Maka Tuhan yang sudah menyertai saya selama kuliah, juga adalah Tuhan yang sama yang akan menyertai saya di masa sekarang.

    Akhirnya saya berani untuk mengatakannya kepada orang tua, dan begitu kagetnya saya ketika mereka mengijinkan walaupun dengan berat hati. Sampai sekarang, mereka memang masih belum sepenuhnya mendukung saya. Saya pun masih tidak menyangka bahwa Dia berkenan memanggil saya menjadi staf di tengah keterbatasan dan kelemahan saya. Tapi seperti pengalaman-pengalaman para pahlawan iman dari ribuan tahun yang lalu sampai sekarang ketika mengalami kebaikan, kasih setia Tuhan, dan penyertaan-Nya, juga apa yang saya alami sendiri semasa kuliah. Maka saya percaya bahwa,

    “Ia yang memanggil kamu adalah setia, Ia juga akan menggenapinya.” – 1 Tesalonika 5:24

  • Martin Luther (2003)

    Martin Luther (2003)

    Pertama kali saya mengenal sejarah reformasi adalah ketika menonton film Martin Luther yang diputar di persekutuan youth gereja saya. Film ini menceritakan tentang Martin Luther, seorang teolog pada tahun 1500-an. Ia adalah salah satu orang yang berperan penting dalam sejarah Kekristenan, sampai-sampai ia disebut sebagai bapak reformasi Kekristenan. Luther hidup di abad kegelapan (Dark Age). Mengapa disebut sebagai abad kegelapan? Karena pada waktu itu terjadi kesenjangan sosial yang amat besar antara rakyat jelata dan kalangan bangsawan. Kehidupan rakyat jelata sarat dengan kemiskinan dan penderitaan, sedangkan kalangan bangsawan hidup mewah dan serba berkecukupan–bahkan berlebihan.

    Ironisnya, gereja adalah salah satu penyebab hal ini terjadi. Gereja pada waktu itu adalah sebuah tempat praktik bisnis, penyalahgunaan kekuasaan Paus–yang waktu itu memiliki otoritas yang tinggi–membuat kebenaran firman Tuhan diselewengkan dan mereka hidup di dalam kemewahan. Demi kenyamanan hidup, harta, dan kekuasaan, mereka berani menyesatkan pemahaman anugerah dan kasih karunia Allah kepada umat. Gereja tak ubahnya seperti tempat berbisnis yang menjual indulgensia (surat penghapusan dosa). Indulgensia bahkan dipercaya dapat mengampuni dosa orang-orang yang sudah meninggal dan dosa yang akan dilakukan di masa depan. Benda-benda seperti tengkorak rasul dijadikan benda suci nan mistis yang mampu menyucikan orang-orang yang membayar tinggi untuk menyentuhnya, dan masih banyak lagi. Praktik-praktik yang sangat mahal tersebut memaksa rakyat jelata yang miskin untuk membelinya demi memperoleh keselamatan. Tak heran, bangsawan-bangsawan kaya menganggap indulgensia seperti jaminan asuransi yang akhirnya malah memperbolehkan mereka untuk terus hidup di dalam dosa.

    Martin Luther pun adalah seorang yang terus menerus mencari keselamatan. Ia membeli indulgensia, menyentuh tengkorak rasul, berdoa di tempat yang begitu sempit sambil memukul-mukul dirinya sendiri, menaiki setiap anak tangga di gereja dengan lututnya sambil berdoa di setiap anak tangga yang ia lewati. Sangkanya dengan penderitaan, ia dapat semakin dekat dengan Tuhan dan beroleh keselamatan. Hingga suatu hari, Luther menyadari ada suatu kekosongan dalam hidupnya yang penuh ketakutan dan penderitaan. Ia mulai mempelajari kitab suci dan menemukan kebenaran di dalam Roma 1:16-17. Ia akhirnya mengerti bahwa keselamatan adalah suatu anugerah yang diberikan Allah pada semua manusia. Manusia tidak lagi perlu berusaha untuk memperoleh keselamatan.

    1:16 Sebab aku mempunyai keyakinan yang kokoh dalam Injil, karena Injil adalah kekuatan Allah yang menyelamatkan setiap orang yang percaya, pertama-tama orang Yahudi, tetapi juga orang Yunani. 1:17 Sebab di dalamnya nyata kebenaran Allah, yang bertolak dari iman dan memimpin kepada iman, seperti ada tertulis: “Orang benar akan hidup oleh iman.” (Rm. 1:16-17)

    Hidupnya berubah dari yang selalu dipenuhi oleh kesuraman dan ketakutan, menjadi seorang yang berapi-api menyatakan berita kebenaran Injil. Geram melihat praktik-praktik penyelewengan gereja yang menyesatkan umat, Luther memakukan 95 dalil di pintu gereja Wittenberg untuk menyuarakan kegelisahan hatinya melihat gereja. Hal itu dilakukannya pada tanggal 31 Oktober 1517 (sehingga sampai saat ini diresmikan menjadi hari reformasi). Tentu saja, perjuangan Luther penuh dengan tantangan dan hambatan dari para paus, uskup, dan pemimpin gereja yang tidak senang “bisnis”nya terganggu. Berkali-kali ia diancam agar mencabut semua tulisan dan menyangkali khotbahnya demi keselamatan nyawanya. Namun, Luther terus dan terus berjuang tanpa menghiraukan keselamatan raganya. Luther menyadari bahwa hidupnya bukan lagi miliknya, melainkan milik Kristus yang sudah begitu mengasihi-Nya, merelakan nyawa-Nya demi menyelamatkan umat-Nya.

    Setelah melewati berbagai ancaman dan sidang, akhirnya ia diasingkan oleh kawan-kawannya yang khawatir. Dan, ia tidak diizinkan beraktivitas di luar rumah demi keselamatan nyawanya. Selama 10 bulan, Luther menerjemahkan Alkitab dari bahasa Ibrani dan Yunani ke dalam bahasa Jerman agar setiap orang dapat membacanya dan menemukan kebenaran sejati tentang anugerah Allah. Luther merindukan umat Allah dapat mempelajari Alkitab dan tidak lagi dibodoh-bodohi oleh para imam palsu. Bisa dikatakan, itulah karya terbesar yang dibuat oleh Luther sehingga setiap orang awam yang buta akan kebenaran Firman Tuhan dapat mulai membaca dan mempelajari Alkitab sendiri.


    Dari kisah Martin Luther ini, seharusnya kita sadar bahwa sejarah gereja dan Alkitab harus dipelajari dan diketahui oleh orang Kristen. Dengan demikian kita dapat melihat bagaimana Allah bekerja di setiap zaman. Kehendak-Nya tidak akan pernah dapat dihancurkan oleh seorang manusia pun. Firman-Nya tidak akan pernah dibiarkan lenyap, tidak peduli seberapa besar usaha manusia untuk menyelewengkan dan memusnahkannya. Seperti sebuah lagu yang mengatakan, “God and God alone reveals the truth of all we call unknown. And the best and worst of man wont change the Master’s plan, it’s God’s and God’s alone”

    Dalam menggenapi rencana-Nya, Luther lah yang digunakan Allah untuk mereformasi gereja yang hancur dan pemahaman Injil yang rusak. Luther berjuang habis-habisan untuk menyebarkan Injil tentang kasih karunia Allah kepada semua orang yang berjuang mencari keselamatan dengan hal-hal yang salah. Orang-orang pada zaman ini pun masih terus berusaha memperoleh keselamatannya sendiri dengan rajin melayani, berdoa, saat teduh, berbuat baik, dan sebagainya. Ada orang yang akan sangat merasa berdosa sekali dan hidupnya tidak tenang ketika tidak melakukan hal-hal tersebut. Sehingga semua hal tersebut dilakukan dengan fokus agar Tuhan tidak marah atau agar saya bisa merasa aman, bukan lagi dengan fokus karena saya mengasihi Tuhan yang sudah menyelamatkan diri saya. Kita seringkali lupa bahwa Injil adalah berita baik, bukan nasihat baik yang harus kita lakukan agar kita selamat. Sebaliknya, ada orang-orang yang juga menganggap keselamatan itu murahan. Mereka berpikir bahwa mereka bisa berbuat dosa sesuka hatinya karena Tuhan itu baik dan senantiasa mengampuni. Kenyataannya, Injil berbicara bahwa Allah tidak hanya sebatas mengasihi kita saja, tapi juga merindukan kita dapat semakin serupa dengan-Nya.

    Melalui sejarah reformasi, Luther menegakkan bahwa otoritas tertinggi bukanlah terdapat dalam diri para pemimpin gereja, tetapi Firman Tuhan. Teruslah membaca dan mendalami firman-Nya yang tertuang dalam Alkitab–surat cinta Allah kepada kita–agar kita tidak mudah diombang-ambingkan dalam pengajaran yang sesat (Ef. 4:14).

    Reformasi itu juga mengubah, memperbaharui, dan membentuk orang Kristen untuk kembali melihat bahwa Injil adalah pusat hidup kita. Reformasi juga lah yang seharusnya menolong kita berjuang melawan dosa dan kebiasaan-kebiasaan buruk yang selama ini terus hinggap dalam diri kita.

    “Aku tidak mempunyai kehendak, hanya Tuhan saja yang mempunyai kehendak. Biarlah Tuhan memberikan yang terbaik kepadaku. Tetapi seandainya aku mempunyai empat ratus kepala, aku rela kehilangan semuanya daripada aku harus mencabut kesaksian yang telah kunyatakan kepada seluruh iman Kristen yang kudus.”, jawab Martin Luther di dalam pengadilan ketika dia digugat kardinal untuk mencabut semua ajarannya. (Martin Luther, Dorothy Irene Marx, 2012)

  • Pengejaran Tanpa Lelah

    Pengejaran Tanpa Lelah

    John Stott di dalam bukunya Why I am a Christian, menggambarkan Allah sebagai Sang Anjing Pemburu dari Sorga yang terus mengejar manusia tanpa lelah. Maka, inilah cerita dari seseorang yang telah menyerah dari pengejaran-Nya.

    Saat teduh, doa, dan pelayanan bukanlah hal yang asing atau baru ketika aku memasuki dunia perkuliahan. Aku sudah rutin melakukannya sejak masih duduk di bangku Sekolah Dasar (SD). Orang-orang mungkin beranggapan bahwa aku adalah seorang anak yang saleh dan begitu rohani. Namun, semua kegiatan rohani itu sebenarnya tidak menunjukkan bahwa aku adalah orang yang sudah ‘ditangkap’ oleh kasih Kristus. Pasalnya, semua itu membuat diriku justru merasa semakin baik dan layak di hadapan-Nya. Alhasil, aku merasa berhak melakukan segala hal yang aku inginkan.

    “Aku ingin memimpin hidupku sendiri”

    Pemikiran ini terus berlanjut hingga akhirnya Tuhan memakai PO BINUS untuk menangkapku. Aku bersyukur ketika Ia menganugrahkan Kelompok Kecil (KK) yang selalu menguatkanku dan tak segan-segan menegurku. Khususnya di masa-masa ketika Tuhan mengijinkanku kehilangan orang yang sangat kukasihi, bahkan kujadikan berhala dalam hidupku. Di masa-masa terpuruk itulah akhirnya aku menyadari bahwa aku adalah manusia yang sangat berdosa yang selalu memimpin hidupku sendiri dan menolak Kristus untuk memimpin hidupku. Saat itu, aku menyerah dan membiarkan diriku ‘ditangkap’ oleh kasih-Nya. Ia membuatku mengerti bahwa tidak ada hal lain yang lebih melegakan selain menjadikan Kristus sebagai pusat hidupku. Melalui retret Penerimaan Mahasiswa Baru yang diadakan pada tahun 2012–setahun setelah menjadi Anak Kelompok kecil (AKK)–disitulah aku menyerahkan diri dan masa depanku untuk dipimpin oleh Kristus.

    “Malahan segala sesuatu kuanggap rugi, karena pengenalan akan Kristus Yesus, Tuhanku, lebih mulia dari pada semuanya. Oleh karena Dialah aku telah melepaskan semuanya itu dan menganggapnya sampah, supaya aku memperoleh Kristus.” – Filipi 3:8

    Ayat tema retret tersebut yang terus aku imani, hanya Kristus yang dapat membuat hidupku utuh sepenuhnya. Seakan selubung dari mataku hilang, aku merasa hidupku tidak lagi kosong. Aku melihat anugerah Allah yang sangat besar ketika menjalani peranku sebagai seorang AKK, PKK, dan koordinator PO Binus kampus Syahdan. Aku menikmati pembentukan dan penyertaan-Nya selama itu.

    Setelah lulus, aku bertekad untuk memaksimalkan talenta yang Tuhan berikan bagiku dalam bidang seni visual dengan bekerja di sebuah creative agency dengan penuh semangat sambil membawa visi yang Tuhan taruhkan melalui PO Binus bahwa aku adalah alumni yang akan menjadi berkat bagi bangsa dan negara lewat profesiku.

    Namun, ternyata Tuhan mempunyai cara-Nya sendiri, di tengah perjalananku untuk interview di sebuah creative agency aku menerima telepon dari salah seorang staf Perkantas dan diminta untuk mendoakan pelayanan sebagai staf kantor bagian Media. Kesan pertamaku ketika mengetahuinya adalah tidak mungkin aku menjadi seorang staf Perkantas, tetapi aku memutuskan untuk tetap mendoakannya dengan pikiran bahwa mustahil rasanya Tuhan memanggilku menjadi staf.

    Selama proses mendoakan, ternyata panggilan itu begitu jelas dan lagi-lagi rasanya aku ingin kembali memimpin jalan hidupku sendiri. Hidup di tengah-tengah keluarga yang tidak pernah mendukungku dalam pelayanan dan selalu mengajarkanku untuk meraih kesuksesan materi yang dipandang dunia membuatku takut mengalami penolakan oleh keluargaku sendiri. Itulah ketakutan terbesarku dan tentunya sebagai seorang mahasiswi yang baru saja dinyatakan lulus, ada kekhawatiran akan kecukupan materi.

    Berminggu-minggu berlalu, Tuhan terus menyatakan kehendaknya melalui saat teduh dan firman Tuhan yang kudengar di gereja untuk tidak khawatir akan apapun juga dan bahwa Tuhan berjanji memelihara kehidupan anak-anak-Nya, hingga akhirnya aku diteguhkan melalui Ibrani 13:5-8 “Aku sekali-kali tidak akan membiarkan engkau dan aku sekali-kali tidak akan meninggalkan engkau. Tuhan adalah Penolongku. Aku tidak akan takut. Apakah yang dapat dilakukan manusia terhadap aku? Ingatlah akan pemimpin-pemimpin kamu, yang telah menyampaikan firman Allah kepadamu. Perhatikanlah akhir hidup mereka dan contohlah iman mereka. Yesus Kristus tetap sama, baik kemarin maupun hari ini dan sampai selama-lamanya”.

    Setelah membaca ayat ini, aku kembali teringat bahwa kasih Kristus yang telah menangkapku beberapa tahun yang lalu tetaplah sama sampai sekarang. Bahwasanya, Allah yang sama yang pernah menolongku dari keterpurukan di masa-masa kuliah melalui kehadiran PO Binus dan KK juga adalah Allah yang sama dengan yang memanggilku saat ini.

    Perlahan Tuhan menaruh kerinduan dan beban itu di dalam hatiku. Aku teringat doaku sebelum lulus adalah aku ingin mempersembahkan talentaku ini untuk melayani dan memuliakan Tuhan dimanapun Tuhan tempatkan. Aku menyadari bahwa pelayanan mahasiswa telah Tuhan pakai untuk menjadikan diriku sebagai murid-Nya. Aku memiliki hutang Injil bagi pelayanan mahasiswa, dan inilah diriku yang Tuhan minta untuk mempersembahkan talentaku demi memenangkan tidak lagi hanya mahasiswa, tapi siswa dan juga alumni melalui pelayanan media yang baru akan dirintis di Perkantas.

    Ternyata Tuhan juga mempersiapkanku beberapa bulan sebelumnya ketika mengikuti acara HUT OMF yang ke-50. Aku sangat ingat bagaimana pembicara kapita selekta pelayanan kaum muda yang adalah mantan staf Perkantas, yaitu Kak Ria Pasaribu mengatakan bahwa satu-satunya tempat paling strategis untuk melayani mahasiswa yang tidak lagi pergi ke gereja adalah kampus. Pelayanan media di era digital ini kuyakini adalah sebuah pelayanan yang strategis untuk menjangkau mahasiswa di kampus yang bahkan tidak mau datang ke persekutuan.

    Akhirnya aku memberanikan diri untuk mengatakannya kepada orang tua, dan betapa kagetnya aku ketika mereka mengijinkan walaupun dengan berat hati. Sampai sekarang, aku merasa bahwa jikalau bukan karena keajaiban yang Tuhan perbuat, orangtuaku pasti tidak akan mengijinkan aku menjadi staf Perkantas. Tuhan membuka pintu jikalau Ia benar-benar menghendakinya dan jika kita mau taat akan panggilan-Nya.

    “Ia yang memanggil kamu adalah setia, Ia juga akan menggenapinya.” – 1 Tesalonika 5:24


    Dimuat juga oleh Perkantas Jakarta