Hidup Ini Tidak Sia-sia!

“Sebenarnya apa benar Tuhan itu sungguh ada? Bagaimana jika Tuhan itu memang hanya akal buatan manusia yang secara ‘kebetulan’ dipercaya oleh banyak orang dan secara ‘kebetulan’ juga teori konspirasi ini diturunkan terus menerus secara masif?”

Imajinasi iseng ini seringkali terbesit dalam pikiran saya. Pernahkah kamu juga memikirkannya? Bagaimana jika konsep Tuhan dan Kekristenan sesungguhnya hanya teori konspirasi belaka dan segala hal yang sudah kita relakan, buang, dan pikul demi mengikuti Yesus ternyata percuma saja? Bukankah menjadi seorang Kristen itu tidak mudah? Ada banyak keinginan diri yang harus kita sangkali, ada banyak tantangan untuk memikul salib, semuanya demi mengikuti Yesus. Pertanyaannya, apakah ini mungkin dilakukan oleh seorang manusia tanpa keyakinan bahwa alasan di balik kerelaan mengerjakan semua itu adalah alasan yang dapat diterima?

Pergumulan akan pekerjaan, pelayanan, keluarga, pasangan hidup, dan masa depan adalah hal-hal yang tidak terelakkan yang harus kita hadapi setiap harinya sebagai alumni. Terkadang kita lelah dan takut ketika harus memikirkan semua hal tersebut. Hal yang sama juga dialami oleh murid-murid Yesus ketika dikisahkan dalam Yohanes 14. Mereka mengalami ketakutan setelah Tuhan Yesus mengatakan kepada mereka bahwa Dia akan meninggalkan mereka sebentar lagi dan akan ada seorang di antara mereka yang berkhianat. Mereka butuh dikuatkan, mereka membutuhkan keyakinan atau apa yang sudah mereka kerjakan selama tiga tahun dan apa yang sudah mereka tinggalkan ketika mengikuti Yesus akan menjadi sia-sia saja.

Untunglah Yesus sangat mengerti apa yang dialami murid-muridnya. “Janganlah gelisah hatimu…”, sepotong kalimat pertama yang diucapkan Yesus sangat menyejukkan telinga para pendengarnya. Para murid yang sebentar lagi akan kehilangan arah dan tuntunan hidup yang sudah menyertai mereka selama tiga tahun, dikuatkan dan diyakinkan bahwa Yesus akan datang kembali untuk mereka dan membawa mereka bertemu dengan Bapa.

Sebagai seorang staf Perkantas, tentu pergumulan untuk memutuskan melayani secara full-time bukanlah keputusan yang mudah. Lahir di dalam keluarga yang profit-oriented dan mengajarkan bahwa kesuksesan adalah apabila kita bekerja dengan gaji yang tinggi, tentu menimbulkan banyak pertentangan dari keluarga. Ini adalah penyangkalan diri dan salib yang harus saya pikul. Tantangan kedua pun muncul, di tengah penyerahan diri sebagai seorang staff, saya juga memutuskan melayani di gereja sebagai majelis termuda di antara para senior yang sudah melayani di gereja lebih dari 20 tahun. Tentu, konflik seringkali terjadi, saya harus terbiasa melihat semua hal itu di dalam rapat dan tak jarang pula saya ikut terseret dalam konflik-konflik tubuh Gereja yang tiada habisnya. Kadangkala saya merasa lelah dan skeptis, apa benar yang saya lakukan ini bermanfaat? Atau saya sedang membuang-buang waktu dan energi saya saja? Apalagi ketika melihat keluarga saya yang hidupnya seakan begitu nyaman dan bebas.

Di saat-saat demikian saya bersyukur dapat mendengar perkataan Yesus yang lembut, “”Janganlah gelisah hatimu; percayalah kepada Allah, percayalah juga kepada-Ku. Di rumah Bapa-Ku banyak tempat tinggal. Jika tidak demikian, tentu Aku mengatakannya kepadamu. Sebab Aku pergi ke situ untuk menyediakan tempat bagimu. Dan apabila Aku telah pergi ke situ dan telah menyediakan tempat bagimu, Aku akan datang kembali dan membawa kamu ke tempat-Ku, supaya di tempat di mana Aku berada, kamupun berada. Dan ke mana Aku pergi, kamu tahu jalan ke situ.”.

Hidup ini memang sulit, tetapi hidup ini tidak sia-sia. Yesus yang dicatat dalam sejarah telah lahir, mati, dan bangkit sekitar 2000 tahun yang lalu, telah menunjukkan jalan kepada akhir yang tidak sia-sia dalam kehidupan setiap kita. Di saat ada begitu banyak orang yang memperoleh kesenangan, kenyamanan, dan keamanan di dalam hidup ini, nyatanya semua itu hanya bersifat sementara ketika hidup ini selesai. Tidak ada yang abadi, bahkan kehidupan ini tidak terduga kapan akhirnya. Namun, ada satu yang abadi. Dialah Yesus yang menunjukkan jalan menuju keabadian yang Dia miliki. Memang, hidup ini terasa sulit dan begitu banyak pergumulan ketika memutuskan untuk mengikuti Yesus, namun kita tahu bahwa rumah dimana tidak ada lagi penderitaan dan kesulitan telah disediakan-Nya bagi kita yang setia menyangkal diri, memikul salib, dan mengikuti Dia. Hidup ini tidak selesai ketika kita menutup mata, inilah pengharapan kita satu-satunya yang sejati. Mari tekun menjalani panggilan pelayanan kita di dunia ini untuk membangun kerajaan-Nya baik di rumah, kantor, dan kehidupan bermasyarakat karena tidak ada yang sia-sia dalam mengikuti Yesus.

‘Ku takkan cemas, ‘ku takkan takut,
sandar pada lengan yang kekal,
hatiku aman, Dia di sisiku,
sandar pada lengan yang kekal.

(Ditulis untuk buletin Persekutuan Alumni Kristen Jakarta edisi Agustus 2019)


Comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *