PK (2014)

Film yang disutradai sekaligus diperankan oleh Aamir Khan ini mengisahkan tentang alien (Aamir Khan) berwujud manusia yang datang ke bumi. Sesampainya di bumi, ternyata kunci pesawat yang dia naiki dicuri orang. Alhasil, dia pun memulai petualangannya di negeri Barata ini demi mencari kunci pesawatnya.

India, negeri Barata, sebuah negeri yang religius nan mistik dan mungkin salah satu negara yang memiliki paling banyak aliran kepercayaan di dunia. “Tanyakan saja pada Tuhan,” kalimat inilah yang terus memasuki telinga si alien saat dia menanyakan orang-orang perihal kunci pesawatnya yang hilang. Kesudahannya, alien ini berpikir bahwa dia harus menemukan seseorang yang bernama Tuhan. Pikirnya, hanya Tuhan yang mampu menolongnya mencari kunci pesawat yang hilang itu.

Kemudian dia menyebarkan selebaran bertuliskan, “Dicari, Tuhan” dengan disertai berbagai gambar wajah dewa dan Tuhan seluruh agama kepercayaan di dunia. Dari sinilah orang-orang di kota itu mulai memanggil alien ini dengan sebutan ‘PK’ yang artinya “pemabuk”. Sangka mereka, PK ini adalah orang gila.

Seiring berjalannya waktu, PK mulai mempelajari berbagai macam agama dan ritual-ritual keagamaan. Dalam satu hari, dia bisa beribadah di gereja, sembahyang di kuil Buddha dan Hindu, sholat di Masjid, dan melakukan ritual kebatinan seperti menyiksa diri sendiri, berguling-guling di tanah sampai menuju ke kuil di bukit, menuang susu pada batu (nampaknya ini merupakan ritual agama lokal di India sana). Sampai suatu ketika, dia berhasil menemukan kunci pesawatnya yang ternyata dibeli oleh Tapasvi. Tapasvi adalah seorang pemimpin agama lokal di India yang mengkultuskan dirinya sendiri dan beranggapan perkataannya adalah perkataan dari dewa sendiri. Hal ini dilakukannya untuk meraup keuntungan dari pengikut-pengikutnya.

Di dalam sebuah ibadah agama ‘Tapasvi’, PK menyuarakan bahwa kunci itu adalah miliknya. Namun, Tapasvi mengatakan bahwa dia mendapat kunci itu dari dewa. PK yang jelas tahu bahwa Tapasvi berbohong pun mulai memikirkan alasan mengapa Tapasvi berbuat demikian. Sampai di suatu titik, akhirnya PK menyadari bahwa selama ini dia dan semua orang-orang yang melakukan semua ritual keagamaan bersamanya sebenarnya sedang “salah sambung”. Mereka mengira sedang menghubungi Tuhan, padahal mereka salah sambung. Alhasil, mereka tidak mengerti apa yang sebenarnya Tuhan inginkan untuk mereka kerjakan.

Salah satu perkataannya yang menarik adalah, “Jika Tuhan itu baik dan Dia menganggap kita sebagai anak-anakNya, mengapa kita harus berguling-berguling ke kuil, menyiksa diri sendiri? Bahkan, membuang-buang susu untuk dituang ke atas batu demi menemui Tuhan. Bukankah seorang ayah yang menyayangi anaknya akan langsung menyambut anaknya yang mau datang kepada dia? Lebih masuk akal, kalau susu yang dituang ke atas batu itu diberikan kepada anak-anak miskin yang tidak mampu. Niscaya, Tuhan akan lebih senang karena Dia mencintai anak-anak.”

Wow, ini adalah suatu pengajaran yang sebenarnya sangat dekat dengan Injil Kristen. Kekristenan adalah sebuah anugerah, kasih karunia, pemberian Allah semata. Kita tidak akan menjadi orang Kristen, anak-anak Allah jika bukan karena Tuhan yang menyambut kita. Namun, seringkali banyak orang Kristen yang berpikir bahwa mereka baru akan mendapat perkenanan Tuhan setelah melakukan kegiatan rohani. Sebaliknya, jikalau kita lalai, maka kita akan dihukum.

Injil berarti kabar baik (good news), bukan nasihat atau saran (good advice). Kabar baik diresponi dengan ucapan syukur, sedangkan nasihat diresponi dengan ketaatan untuk melakukannya. Untuk menjadi anak Tuhan, kita tidak perlu melakukan ini dan itu. Status seorang anak didapatkan bukan melalui pencapaian, tetapi sebuah pengaturan alam, pemberian dari yang di atas.

“… we must not simply ask in every area of life, “What is the moral way to act?” but “What is the way that is in line with the gospel?” The gospel must be continually thought out to keep us from moving into our habitual moralistic or individualistic directions. We must bring everything in line with the gospel.” (Tim Keller, Centrality of The Gospel)

Seberapa banyak dari kita yang terus merasa Tuhan akan menghukum kita apabila kita lalai dalam melakukan disiplin rohani? Kiranya kita dapat terus menghidupi injil dalam hidup kita.

By the way, I really love the soundtrack…

“Just like you apply the photo of god on the walls, so that no one urinates there … just like that I put it on here (on my cheeks), so that no one hits me” – PK

Leave a comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *