A Walk to Remember

by

in

Disclaimer: Ini merupakan serangkaian panduan AWG (Alone With God) yang bisa kita lakukan di tempat masing-masing. Agar Anda dapat lebih menikmati waktu AWG ini, carilah tempat tenang dan ikutilah semua instruksi yang tertulis dalam panduan ini, mainkan audio yang sudah disediakan, dan nyanyikan audio lagu yang sudah disediakan pula. Kiranya Anda dapat mendengar suara Tuhan yang berbicara dalam waktu AWG ini. [SELAH] berarti jeda, ambil waktu untuk berpikir dan merenung ketika menemukan instruksi ini.


Mari kita berimajinasi sejenak.

Bayangkan dunia dan keseharian kita yang semakin sibuk ini.

Hidup ini semakin dewasa semakin banyak tuntutan. Sekolah, kuliah, skripsi, pelayanan, pekerjaan, keluarga.

Apalagi di zaman penuh gadget ini. Dimana semua informasi mengalir terus memasuki dan membebani pikiran kita.

Sampai-sampai terkadang kita terlalu lelah untuk membuka notifikasi pesan yang berdering di gawai kita.

Mari mengambil smarphone kita masing-masing, dengan tanpa bersuara dan tetap tenang. Kemudian lihat notifikasi yang ada di gawai kita itu, tapi jangan dibuka. Kemudian silahkan taruh kembali gawai kita.

Sekalipun lelah, nyatanya kita sebenarnya sulit melepaskan tangan dari layar sentuh itu.

Kesenangan, hiburan, eksistensi, pelarian yang bagaikan obat bius dalam menghadapi kesibukan dan permasalahan kita, nyatanya bukanlah solusi yang tepat.

Ketika semua itu sudah terlewati dan kita pun menyadari di penghujung hari kita, ketika kita bersiap untuk tidur dan menghadapi hari esok. Kita menyadari kalau kesibukan dan permasalahan kita belum selesai. Besok pun hari yang sama akan terulang dengan aktifitas yang sama.

Hidup ini rasanya sangat hampa bukan?


Hari ini kita akan merenungkan sebuah perjalanan untuk terus diingat.

Keluaran 33:15 (TB) Berkatalah Musa kepada-Nya: “Jika Engkau sendiri tidak membimbing kami, janganlah suruh kami berangkat dari sini.

Perkataan Musa ini diucapkan ketika Bangsa Israel menyembah patung lembu emas dan Tuhan murka kepada mereka. Sampai-sampai Tuhan berkata,

Aku akan mengutus seorang malaikat berjalan di depanmu untuk menghalau musuh-musuhmu sampai ke negeri yang kujanjikan. Tapi Aku tidak akan berjalan di tengah-tengahmu, karena engkau ini bangsa yang tegar tengkuk, supaya Aku jangan sampai membinasakan engkau di tengah jalan kalau-kalau kesabaranku habis.” (Keluaran 33:2-3)

Saya seringkali berpikir bahwa bangsa Israel begitu bodoh, tidak kapok-kapok memberontak kepada Tuhan, manja karena selalu minta jantung ketika dikasih hati, dan sangat tidak tahu diri kepada Tuhan yang selalu menyelamatkan mereka. Namun, saya lupa kisah perjalanan Bangsa Israel sebenarnya adalah kisah perjalanan kita semua sebagai umat Allah.

Seringkali kita lupa akan kehadiran Tuhan dalam hidup kita. Kita lupa bahwa pemeran utama di dalam hidup ini sebenarnya adalah Tuhan dan bukan diri kita. Namun, kita berpikir bahwa diri kita adalah pusat dan segalanya dalam hidup ini.

Allah seperti apa yang walaupun murka masih mau mengutus malaikat untuk menjaga bangsa yang bebal dan tegar tengkuk ini sampai ke tanah perjanjian? Namun, sekalipun ada malaikat yang diutus untuk menjaga dan mengantar mereka sampai ke Kanaan, Musa sadar bahwa tidak ada artinya lagi mereka sampai ke tanah yang subur dan kaya itu dimana mereka bisa hidup aman dan nyaman. Semuanya percuma saja jikalau tidak ada Allah yang hadir dalam hidup mereka.

Darimana kita bisa mempunyai hati seperti Musa? Alkitab bahkan tidak pernah mencatat Musa mengeluh karena Tuhan menghukum mereka harus berjalan selama 40 tahun lamanya di saat seharusnya mereka bisa sampai hanya dalam waktu 40 hari. Alkitab juga tidak pernah mencatat Musa mengeluh karena Tuhan berkata bahwa Musa tidak akan pernah masuk ke tanah perjanjian itu seumur hidupnya, walaupun Musa sudah merelakan kenyamanannya di istana Mesir, dia juga sudah meresikokan diri melawan Firaun yang kejam, membuang tenaga untuk memimpin bangsa yang tidak tahu diri, tidak tahu terimakasih, dan suka mengomeli dia.

Darimana kita bisa mendapat kekuatan seperti Musa ketika menghadapi perjalanan hidup yang sulit ini? Mungkin kita sudah berusaha keras belajar, tapi justru mereka yang menyontek malah lebih baik nilainya. Mungkin kita sudah bekerja dengan jujur, bahkan mencari tempat dimana pelayanan kita tidak terganggu walaupun gajinya lebih kecil, tapi teman-teman kita yang lain hidupnya lebih enak dan nyaman. Mungkin kita sudah melayani begitu keras, tapi yang kita dapat malah konflik, capek hati, capek pikiran, dan tidak ada yang berubah. Mungkin keluarga kita tidak pernah mengerti kita, selalu menuntut kita, dan kita tidak merasa dikasihi.

Musa memberi kita teladan bagaimana yang dia cari bukanlah hasil dan keinginan pribadi, melainkan kehadiran Tuhan yang berjalan bersamanya. Namun, ada teladan yang lebih sempurna. Dia adalah seorang Raja Alam Semesta yang meninggalkan statusnya dan kenyamanan di Kerajaan Sorga demi menjadi manusia. Tidak hanya itu, dia manusia yang lahir di kandang binatang, dihina orang, dan bahkan mati mengenaskan demi orang-orang yang menyakiti dan membunuhnya tanpa tahu diri kalau mereka sedang menuju kebinasaan kalau tidak ditolong oleh orang yang mereka bunuh itu. Namun, yang lebih menyakitkan dari penderitaan fisik yang Dia alami adalah ketika Dia menanggung dosa yang begitu Dia benci dan karenanya Dia mengalami keterpisahan di kayu salib dengan Bapa yang sangat Dia kasihi, karena dosa yang Dia tanggung begitu menjijikan di hadapan Bapa.

Apa yang sedang kita hadapi saat ini? Mari jujur di hadapan Tuhan. Bawalah keterpurukan kita di hadapannya karena setiap dari kita tidak ada yang tidak terpuruk. Berhentilah mengasihani diri kita sendiri terus menerus. Betapapun kita merasa baik-baik saja, kita sebenarnya sedang membohongi diri sendiri. Kita semua adalah manusia yang terpuruk dalam dosa dan butuh pertolongan Tuhan.

[SELAH]

Syukurnya, Yesus mau menanggung keterpurukkan kita dan Dia bangkit membuktikan bahwa masih ada harapan bagi kita. Ketika kita melihat Salib itu, kita disadarkan bahwa Yesus rela memilih untuk menanggung dosa dan keterpurukkan kita agar Dia dapat berjalan bersama kita. Sekarang pertanyaannya apakah kita mau membiarkan Dia berjalan di samping kita?

Mari kita ambil sikap berdoa.

Tuhan, Engkau mau turun dari Sorga untuk berjalan bersama kami di dunia kelam ini. Tapi sebenarnya kami yang memang membutuhkan Engkau untuk terus berjalan bersama kami, kami sadar bahwa kami tidak mampu menghadapi keterpurukan kami sendirian.

Satu hal yang kurindu adalah berdiam di dalam rumah-Mu. Lagu ini begitu menggambarkan kehausan dan kerinduan yang mendalam kepada Tuhan.

https://youtu.be/mVJx7AWzsWw?t=4m58s


Sekarang ambillah waktu tenang pribadi untuk berpikir dan berbincang dengan Tuhan.

Apa yang sedang kita kejar dalam hidup ini? Prestasi? Kekayaan? Keberhasilan pelayanan? Cinta dan nafsu? Penerimaan? Mintalah Tuhan menyadarkan keterpurukkan diri kita yang mungkin tidak kita sadari.

Renungkanlah lirik lagu Satu Hal Yang Kurindukan…

Satu hal yang kurindu
Berdiam di dalam rumahMu
Satu hal yang kupinta
Menikmati baitMu Tuhan
Lebih baik satu hari dipelataranMu
Dari pada s’ribu hari di tempat lain
memujiMu menyembahMu
Kau Allah yang hidup
Dan menikmati s’mua kemurahanMu.

Apa benar lebih baik 1 hari bersama Tuhan daripada 1000 hari berusaha mengejar keinginan-keinginan kita sendiri tanpa peduli kehadiran Tuhan?

Kemudian bawalah perkataan Musa dalam Keluaran 33:15 “Jika Engkau sendiri tidak membimbing kami, janganlah suruh kami berangkat dari sini.” Biarlah ayat ini menjadi doa kita untuk mau punya relasi yang lekat dengan Tuhan di atas segala-galanya melalui saat teduh pribadi kita bersama Tuhan, bible reading, maupun kehidupan doa kita sehari-hari.


Comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *