Hidup Bersama

Suatu hari saya mendapat email dari seseorang yang saya kenal dan pernah saya temui di suatu tempat. Kawan ini menceritakan pengalamannya yang tidak menyenangkan ketika harus menghadapi perpecahan antara sesama anggota tubuh Kristus di gereja lokal daerahnya. Tentunya bukanlah suatu pengalaman yang menyenangkan ketika diskriminasi dan penghakiman datang dari mereka yang seharusnya bersatu dengan kita. Ini adalah sebuah surat balasan yang kukirimkan baginya. Kiranya ini juga menjadi berkat bagi setiap kita yang memiliki pengalaman serupa.


Aku paham benar dengan masalah yang sedang kamu alami, karena aku pun pernah merasakan hal yang sama. Ketika diriku dihakimi hanya karena latar belakang denominasi gerejaku yang Injili. Bahkan sesama gereja Injili bisa saling menghakimi karena yang satu merasa lebih Injili dibanding yang lain.

Ada kalanya kita merasa bingung kenapa hal-hal yang tidak menyenangkan seperti itu justru datangnya dari saudara-saudara kita sendiri. Padahal bukankah Kekristenan mengajarkan kita mengenai kesatuan tubuh Kristus, yaitu kita yang adalah anggota-anggota tubuh Kristus. Hal ini pasti sangat mengganggu dan mengguncang iman kita, tatkala kita tidak melihat bagaimana Firman Tuhan tersebut tidak dihidupi oleh orang-orang Kristen sendiri. Dengan berterus terang, aku juga harus mengakui bahwa terkadang aku merasa diriku lebih baik daripada yang lain, padahal aku sedang jatuh ke dalam dosa menghakimi.

Aku mungkin tidak bisa membagi banyak hal dan menjawab semua pertanyaanmu dengan memuaskan. Tapi aku ingin berbagi suatu insight dari buku berjudul “Hidup Bersama” yang ditulis oleh teolog asal Jerman bernama Dietrich Bonhoeffer. Kamu dapat mendownload buku tersebut disini Free English E-Book “Life Together” (by Dietrich Bonhoeffer)

Dietrich Bonhoeffer hidup di zaman perang dunia ke-2, ketika Adolf Hitler memerintah. Hidupnya mengalami berbagai persekusi karena dia seorang Kristen. Hingga akhirnya dia memutuskan untuk meninggalkan kenyamanan di Amerika Serikat dan kembali ke Jerman untuk memimpin 25 orang calon pendeta yang sedang belajar di seminari Alkitab ‘bawah tanah’. Tentunya bukanlah suatu hal yang mudah, karena sekolah tersebut adalah sekolah “bawah tanah” yang berarti ilegal dan harus dilakukan dengan sembunyi-sembunyi atau nyawa menjadi taruhannya.

Pengalamannya ini membuat dia menjadi seseorang yang sangat memaknai artinya hidup bersama dalam persekutuan tubuh Kristus. Dia sadar betul, kondisinya pada saat itu bisa memungkinkan apapun terjadi dalam sekejap. Keberadaan teman-temannya atau dirinya sendiri, bisa saja hilang secara mendadak. Persekutuan dengan orang percaya adalah sebuah anugerah yang tidak bisa diremehkan (taken for granted). Sayangnya, kita melihat begitu banyak orang-orang di sekitar kita yang menemukan anugerah istimewa ini setiap hari justru malah menyia-nyiakannya.

Ada beberapa hal yang dia bagikan untuk kita tentang makna dari hidup bersama dalam komunitas tubuh Kristus.

Pertama, Yesus adalah pusat relasi semua manusia. Apa artinya? Artinya adalah kita melihat Yesus yang sudah menebus manusia berdosa, di dalam relasi kita dengan sesama manusia yang berdosa sama seperti kita. Sehingga ketika kita berelasi dengan sesama, kita melihat lawan bicara kita bukan sekedar sebagai sesama manusia semata, tetapi seorang pribadi yang sudah ditebus oleh Yesus. Siapa pun itu, entah dia orang percaya ataupun bukan. Yesus yang telah menebus kita, sekarang juga menjadi pengantara di antara relasi manusia dengan Allah dan sesama kita yang sudah rusak karena dosa. Penebusan yang Yesus kerjakan dalam diri kita, sekarang telah memperbaiki segala kerusakan itu.

Kedua, tidak ada persekutuan yang ideal di dunia ini. Dietrich menegaskan bahwa persekutuan Kristen adalah persekutuan yang penuh dengan manusia-manusia berdosa dan keterbatasannya. Maka, persekutuan yang idealis sebenarnya hanyalah impian belaka yang tidak akan tercapai dengan usaha manusia sendiri. Malah, seringkali usaha manusia untuk menciptakan persekutuan yang ideal justru akan menghancurkan persekutuan itu sendiri. Tuhan menempatkan kita di dalam persekutuan umat percaya yang tidak sempurna ini bukanlah sebagai hakim bagi sesama. Hanya Allah Tritunggal lah yang mampu menciptakan persekutuan yang ideal dengan membentuk dan mengubah manusia-manusia berdosa di dalamnya. Dan, kita adalah bagian dari rencana Allah tersebut. Sehingga, dalam pemahamanku yang kuyakini, perpecahan gereja ataupun umat bukanlah suatu keputusan yang hikmatnya berasal dari Allah. Aku meyakini dan merindukan suatu hari kelak dalam kedatangan Kristus yang kedua kalinya, semua persekutuan orang percaya terlepas dari denominasinya akan menjadi satu, seperti doa Yesus di Yohanes 17.

Ketiga, persekutuan Kristen adalah sebuah kenyataan rohani yang berarti semuanya bersumber dari Firman Allah (back to bible), bukan sebuah kenyataan psikologis yang didasarkan pada keinginan ego semata. Persekutuan dalam realitas rohani mempunyai kasih yang melayani dan tujuan akhirnya bukan untuk diri sendiri, sedangkan persekutuan dalam realitas psikologis mempunyai kasih yang berhasrat kepada diri sendiri.


Dengan cara pandang dari ketiga hal ini, maka kita tidak boleh berelasi dengan orang lain (entah itu mereka yang kita kasihi atau kita benci) secara langsung, karena kasih kita tidak akan murni oleh sebab dosa-dosa kita. Melainkan Kristus harus kita lihat sebagai yang pertama-tama menjadi mediator yang melakukan mediasi antara kita dengan sesama manusia. Tentu saja, ini berlaku kepada orang-orang yang secara tidak langsung membuat kita resah karena penghakiman yang suka mereka lontarkan. Kupikir, orang-orang yang demikian memang tidak mengerti bahwa Yesus sudah menebus kita manusia yang berdosa agar kita dapat hidup bersama dalam tubuh Kristus tidak peduli apa latar belakangnya. Relasi yang dimediasi Kristus saja sudah cukup, apa yang diinginkan lebih oleh manusia pastilah berasal dari egonya sendiri dan relasi yang demikian akan merusak kesatuan tubuh Kristus.

Ada satu motto yang sangat aku sukai ketika melayani di Persekutuan Mahasiswa Kristen yang jemaatnya terdiri dari berbagai latar belakang gereja,

In Essentials Unity,

In Non-Essentials Liberty,

In All Things Charity

Motto ini memberikan kita gambaran bagaimana seharusnya tubuh Kristus yang hidup di tengah berbagai denominasi. Bahwasanya di dalam hal-hal yang esensi seperti doktrin keselamatan, Allah, dosa, kita adalah satu (unity) tak peduli apapun latar belakang denominasinya. Kita sama-sama menyembah Allah Tritunggal, kita tahu bahwa semua manusia itu berdosa sesuai dengan apa yang diajarkan Alkitab, dan sebagainya. Tetapi juga dalam hal-hal yang tidak esensi seperti cara baptisan, metode-metode atau budaya lokal gereja, kita seharusnya legowo (liberty), karena itu bukanlah hal-hal prinsip yang punya standard tertentu di dalam Alkitab. Dan, di dalam segala hal kita tetap mengasihi (charity, dari kata caritas yang artinya kasih). Kembali kita mengingat bahwa kasih adalah hukum yang terutama dari segala hukum lainnya. Motto ini lah yang sebenarnya mampu mempersatukan setiap perbedaan antara umat percaya.

Saudaraku yang terkasih, pengalaman yang kita alami memang tidak menyenangkan karena kekecewaan itu disebabkan oleh saudara-saudara kita sendiri. Akan tetapi, kita bersyukur karena kita manusia yang berdosa diberikan anugerah untuk melihat dinamika dalam persekutuan umat percaya, di dalam kasih. Banyak orang yang merasa sombong dengan pemahamannya akan suatu persekutuan atau gereja atau denominasi – – seperti yang juga kamu ceritakan. Akan tetapi, mari melihat mereka dalam kasih, karena mereka adalah orang-orang berdosa yang telah ditebus Kristus, mereka butuh pengenalan dan pemahaman yang benar tentang kehendak Kristus – – demikian juga kita. Maka seharusnya kita bersikap dewasa dengan saling menopang agar kita dapat sama-sama bertumbuh dan memiliki pemahaman yang benar tentang kehendak Kristus bagi seluruh umat percaya (Yohanes 17).

“…hidup bersama di bawah Firman akan ada dalam keadaan baik hanya jika persekutuan itu tidak membentuk dirinya sendiri menjadi suatu pergerakan, suatu ordo, suatu paguyuban, suatu collegium pietatis (persekutuan orang saleh), tetapi lebih jika persekutuan itu memahami dirinya sendiri sebagai bagian dari Gereja Kristen yang satu, kudus, dan am, dan mengambil bagian dan ikut menderita dalam pergumulan dan pengharapan seluruh Gereja.” (Hidup Bersama, p.53)

Kiranya balasan email ini bisa menjadi berkat untukmu. Aku berdoa supaya semakin hari imanmu bisa terus dikuatkan oleh Yesus Kristus, Tuhan kita yang sungguh hidup dan nyata. Dan, terus bertumbuh demi menyatakan kebenaran Allah dan Injil bagi saudara-saudara kita yang belum mengenal Kristus dan kehendak-Nya.


Comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *